17 September 2008

Dari Data Kesehatan Menuju Keputusan Berbasis Bukti

Pernahkan Anda melihat “operation room” dari jenderal perang di film-film? Apa yang Anda lihat? Sebuah peta dan sang jendral tengah menyusun strategi dan membuat keputusan berdasarkan apa yang dilihatnya. Lengkap dengan informasi yang dia punyai, termasuk berapa korban yang sudah jatuh di lokasi ini itu, dll. Jadi, tingkat kegentingan sebuah situasi bisa diketahui.

Lalu bagaimana dengan kita yang bergerak di bidang kesehatan atau bidang yang lain? Sudahkah kita bisa melihat peta masalah dan tingkat kegentingannya? Apakah selama ini kita sudah membuat sebuah keputusan yang tepat berdasarkan data yang kita miliki dan kita kelola dengan baik? Atau jangan-jangan kita malah tidak punya data sama sekali:-)

Itulah mengapa pelatihan “Health Data Management toward Evidence Based Dicision Making ini menjadi penting. Pelatihan ini diselenggarakan tanggal 9-13 Juni 2008 oleh Bagian IKM UGM bekerja sama dengan INWENT Capacity Building International, dan diikuti oleh teman-teman dari Aceh (puskesmas, Dinas kesehatan, dan GTZ sebagai pendukung program lanjutan).

Jangankan mengelola data dengan bermutu, seorang peserta bahkan mengatakan sumber data yang dimiliki sebagai rubbish. Laporan harian jadi mingguan, laporan mingguan jadi bulanan, bahkan ada yang ekstrim laporan harian jadi bulanan hehehe. Lalu setelah di setor ke atas, seberapa bergunakan laporan kita? Apakah dimanfaatkan secara baik? Bayangkan sebuah bagian di dinas membawahi sekian puskesmas. Sangat menarik, sebagai pembicara di hari pertama, Dr. Rossi Sanusi mengkritisi masalah penjabat (baca: bukan pejabat lho; karena kata pejabat dah mengalami penyempitan) struktural vs fungsional dalam matriks vs content lain yang terdapat dalam kepmenkes yang baru-baru ini dikeluarkan. Dr. Rossi juga menggugah peserta mengenai pentingnya Surveillance Respon system, dan bagaimana itu harus dijalankan.

Mengenai sumber data, ia dapat diperoleh secara rutin maupun non rutin. Yang rutin memiliki kekurangan karena bisa tidak mendeteksi data yang tidak ditemukan di dalam institusi. dalam diskusi yang dibimbing Dr. Dibyo Pramono, peserta mengeluhkan rujukan perolehan sumber data pun kadang masih berbeda-beda. Tengok saja data mengenai jumlah orang miskin. Lain sumber lain pula jumlahnya, itupun belum 100% tepat sasaran. Yang lebih lucu lagi, ada bupati yang menghendaki jumlah penduduk tertentu melebihi jumlah yang ditemukan di lapangan, rupanya agar mendapatkan dana anggaran yang lebih banyak. Maka ketika terjadi perbedaan tersebut, menjadi pertanyaan kita akan ikut yang mana? Mau yang legal (diakui yang berwenang) walau salah atau yang kita temukan di lapangan yang valid? Contoh yang bagus ditunjukkan oleh beberapa teman di aceh dimana mereka bisa meng-update data penduduk secara valid dan up to date melalui upaya aktif dan jemput bola dari bidan desa yang mengumpulkan informasi kelahiran dari berbagai sumber. Tepuk tangan dongJ

Setelah data dikumpulkan, dilakukan proses analisis data melalui berbagai macam metode riset. Perlu diingat, bahwa dalam menentukan metodologi yang akan kita gunakan dan besar sample, kita harus berkaca pada resource yang kita miliki. Resources artinya KUAT (kesempatan, uang, alat, dan tenaga). Misalnya bagaimana kita menentukan cakupan imunisasi. Kalau tidak punya resources berarti kita tidak KUAT J. Oleh karena itu kita harus merumuskan konsep dan formula yang terbaik. Kemudian, hasilnya kita sajikan secara apik sehingga memudahkan kita melihat peta masalah dan menentukan prioritas. Pemetaan masalah kesehatan dunia milik WHO yang ditunjukkan Dr. Dibyo menjadi contoh yang baik untuk hal tersebut.

Langkah-demi langkah dalam melakukan manajemen data menjadi semakin jelas pada hari ketiga. Pertama, kita melakukan analisis situasi. Kedua, kita membuat Plan of Action. Disini, proses yang harus kita lakukan adalah FOCUS PDCA (Find, Organize, Clarify, Uncover, Start, Plan, Do, Check, dan Act). Dalam menemukan masalah, ternyata penyakit yang menempati posisi tertinggi (terbanyak) belum tentu menjadi prioritas utama dalam pemecahannya. Itulah kesimpulan yang tampak dari latihan yang dilakukan oleh peserta dengan menggunakan data asli yang dibawa peserta dari Aceh. Karena ternyata banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam penilaian, yang antara lain dilakukan dengan menggunakan scoring technique. Yaitu dengan menentukan skor masing-masing terhadap setiap aspek yang kita nilai dari hal tersebut.
Namun demikian, dalam melakukan aksi dari rencana yang telah kita buat, kita terkadang memiliki resources yang terbatas, oleh karena itu penting bagi kita untuk melakukan advokasi, yaitu tindakan mengumpulkan support/dukungan dari berbagai pihak agar aksi yang kita rencanakan bisa berjalan baik dan tujuan yang kita inginkan dapat tercapai. Dengan sumber data yang bisa diandalkan serta pengelolaan data yang profesional, dan itu semua menjadi dasar dari keputusan, insyaAllah keputusan yang dibuat akan menjadi keputusan yang bermanfaat, mengatasi masalah, dan membawa kebaikan bersama.***

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP