17 September 2008

Percayalah, Dia Mendengarmu!

(ditulis sebagai naskah lomba menulis pengalaman kehamilan PT Kalbe Farma)

Mataku berbinar. Senyumku melebar. Tak terlukiskan kebahagiaan. Bagaimana tidak? Di hari raya yang penuh makna, Tuhan menganugerahiku kabar gembira tentang kehadiran seorang putra. Pelukan selamat dan ciuman hangat pun mendarat satu per satu.

Waktu berselang. Tengah malam, di rumah sakit tempatku bekerja, seonggok janin sebesar buku-buku jari tergeletak di atas meja. Tubuhnya yang begitu kecil masih diselimuti kulit ketuban yang jernih dan transparan. Seketika itu juga aku terseret dalam keheningan yang mendalam. Janin itu meluncur keluar dari rahim seorang pasien dengan umur kehamilan yang sama persis denganku. “Oh Tuhan, pasti anakku telah sebesar ini”, aku bergumam dalam hati. Sebuah ketakjuban yang begitu berarti.

Melihat bayangan sosok anakku di layar periksa memberiku ketakjuban yang sama. Aku melihatnya seolah tengah duduk bersandar santai, membuatku ingin segera membelai. Ia tampak begitu damai. Tubuhnya lengkap dan sempurna. Kaki dan tangannya menjuntai ke depan perut dan dada. Rasa gembiraku pun terburai. Tak terbayang bagaimana kebahagiaan tak terbendung ketika nanti aku dapat melihatnya langsung. Sungging senyum masih terus mengikutiku sepanjang jalan, sepanjang waktu, selama masih kuingat gambaran itu. Terbetik kata tentang betapa Tuhan Maha Besar.

Tekadku sudah bulat: membetuknya secerdas mungkin, membuatnya sebahagia mungkin, dan memulainya seawal mungkin. Visiku sudah melekat, di dalam hati dan di dinding kamarku: “Yang Terbaik untuk Anakku”. Beruntung, berhasil kutemukan buku-buku masterpiece dengan informasi yang begitu kaya dan ditulis oleh penulis-penulis dan dokter-dokter hebat di dunia. Walau terlambat, setidaknya aku masih punya waktu untuk melakukan perubahan serta membuat pilihan-pilihan terbaik untuk anakku.

Aku bahagia berhasil memiliki sudut baru dalam memandang kehamilanku. Aku bukanlah korban dari sistem tubuh yang sedang berubah ini. Kehamilanku bukanlah “penyakit” yang mengharuskanku banyak tertidur di atas kasur. Ini semua adalah karunia. Segala ketidaknyamanan pun menjadi tidak terlalu berat untuk dijalani. Bahkan aku menganggapnya tiada.

Mengetahui bagaimana caranya mendengar, melihat, merasa, mengecap, dan membau adalah seperti melihat keajaiban. Tersenyum aku bertanya-tanya apakah ia juga mencium bau badanku bila aku malas mandi sore. Kubayangkan pula air liurnya seakan menetes setiap ada makanan harum di meja makan. Ternyata, ia pun hanya menelan sedikit bila makanan yang kumakan tidak enak. Ia juga merasakan setiap sentuhan. Pasti ia tahu dan merasa senang ketika aku mengelus-elusnya. Oh, ia sungguh pintar dan membuatku benar-benar ingin menangis setiap kali menuliskan kehebatannya.

Dari semua yang aku dapatkan, aku senang bisa menemukan sebuah anggapan awal yang kuanggap paling menarik untuk membantu langkah-langkahku dalam mendidiknya di dalam kandungan: bahwa ia mendengarkan.

Betapa bahagianya mengetahui bahwa selama ini, lewat mikrofon-mikrofon kecil di telinganya yang mungil, ia sudah bisa mendengar orang-orang yang berbicara kepadaku. Bahkan mungkin ia juga telah mencuri dengar setiap yang dikatakan Papanya padaku dulu. Ah, ia nakal sekali. Aku lebih senang lagi ketika mengetahui bahwa suaraku adalah yang paling mudah ia kenali dan tentu saja yang paling keras. Bahkan, nyanyian-nyanyianku bisa ia dengar senyaring dering telepon atau mesin penyedot debu. Aku jadi malu karena sering berteriak-teriak saat berbicara dengan adik-adikku di kamar seberang. Aku tertawa membayangkan pasti ia tengah menutup telinganya.

Meskipun aku begitu menginginkan beberapa album dari musisi-musisi favoritku, namun aku mengalah agar ia bisa mendapatkan beberapa album klasik terbaik yang irama, nada, melodi, dan harmoninya dipilihkan khusus untuk calon anak cerdas sepertinya. Saat-saat kami bersama mendengarkan lagu adalah saat dimana temali hati kami terajut satu demi satu. Aku semakin bisa merasakan keberadaannya. Aku melihat kebahagiaannya. Ketika tanganku bergerak membelainya, ketika kami bergerak bersama dalam tarian lembut atau gerakan yoga tertentu, kami berdua menyatu.

Yang terpenting, aku yakin bahwa seiring dengan semua bunyi yang ia dengarkan, milyaran sel saraf di otaknya tengah membangun sinaps, komunikasi, dan jala-jala koneksi. Maka aku tak hanya memperdengarkan padanya bunyi lagu, tetapi juga mengajaknya bercengkerama dan bercerita, memberi nyanyian cinta, menyuarakan doa-doa, mengucapkan catatan harian yang kutulis khusus untuknya, memberi komentar nyaring pada setiap buku yang kubaca, serta membunyikan surat-surat dan pesan singkat dari papanya di perbatasan Israel sana. Hingga semakin banyak yang ia tahu dan ia telah menjadi sahabat terbaikku.

Ia tak hanya mendengar dengan telinganya, tetapi juga hatinya. Oleh karena itu, semakin banyak cinta yang aku bisikkan, dan semakin sering ayat-ayat suci aku lantunkan. Aku paham, aku tengah meretas sensitivitas hati dan telinganya. Aku ingin agar ia lebih mudah menjadi penghafal dan penyampai kitab suci, serta hamba yang dicintai Tuhan, apapun profesinya nanti.
Hari itu, ia memberikan gerakan khusus yang berbeda pada saat aku dan puluhan orang lain tengah bersama-sama berdoa. Aku merasakan keharuan dan keheningan yang dalam. Pun, ketika ia selalu bangun lebih dahulu saat mendengar panggilan dari rumah suci dan membangunkan aku untuk beribadah setiap kali aku terlena. Barangkali karena ia belum melihat dunia, dan ruhnya belum lama diterbangkan dari alam sana. Ia adalah malaikat kecilku tersayang

Anakku tak hanya mendengarkan gelombang suara-suara, tapi juga aliran kimia dalam darahku. Tidak heran, ia lantas melonjak-lonjak dengan begitu riangnya, tepat setiap kali hatiku begitu bergembira mendapatkan telepon dari papanya. Pun ketika aku senang dengan apa yang kubaca dan setiap kali aku tertawa. Seolah senyuman lebar yang tersungging dari bibirku menjalar kepadanya. Sebaliknya, ia menunjukkan reaksi tidak nyaman, tiap kali aku menangis atas masalah orang dewasa atau ketika aku begitu merindukan papanya. Ia juga mengingatkanku dengan perasaan tak nyaman tiap kali aku mengkonsumsi makanan yang tak tepat, kurang atau berlebihan, maupun ketika aku memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras. Maka aku kemudian berjanji untuk selalu mengalirkan kimia positif dan memberi hadiah untuk kami berdua. Hadiah itu bernama kebahagiaan.

Aku selalu mendengar dan memperdulikan peringatannya. Karena aku tahu itulah yang terbaik bagiku dan baginya. Sebaliknya, aku juga senang karena ternyata ia juga mendengarkan dan mau mengikuti perintahku. Jika para dokter membuktikan dari dalam layar bahwa janin sepertinya mau mengangkat tangan ketika diperintahkan, maka aku mempercayai dan menyaksikannya juga. Seperti yang ia tunjukkan dini hari itu, masa-masa setelah ia terlalu banyak tergoncang dalam perjalanan dari kota-ke kota untuk meraih kebersamaan dengan papanya yang hanya beberapa hari saja.

Jalanan yang tidak rata membuatku nyaris tidak meletakkan pantat pada kursi penumpang sepanjang perjalanan dan tangan ini terus berpegangan untuk menahan kehebatan goncangan. Aku merasa sedih dan begitu ketakutan setiap perut ini terus berkontraksi serta ketika aku tidak juga merasakan gerakannya. Nafasku kian dalam dan cepat. Aku menangis sejadinya karena menyesali diri dan merasa khawatir sesuatu akan terjadi. Aku merasa sangat merindukannya. Merindukan anakku yang ceria dan melonjak-lonjak gembira mendengarkan iringan lagu, dan bisa bermain-main serta berbicara kepadaku lewat gerakannya yang lincah.
Kukatakan, “Ayolah, bergeraklah, Nak dan buat mama menjadi lebih tenang”. Lama sekali aku terus mengatakan itu dan menunggunya. Hingga akhirnya aku merasakan satu, dua, dan beberapa denyutan serta gerakan berulang, seolah ia menuruti perintahku. Aku pun dapat tertidur dengan tenang.

Aku semakin percaya bahwa ia mendengarkan. Aku juga sangat bahagia, karena setelah itu hingga hari ini aku bisa merasa begitu dekat dengannya. Tiap kali aku ingin merasakan keberadaannya, aku dapat mencoba meletakkan kedua tanganku begitu saja di atas perut ini. Terpejam tak bergerak, bahkan tak mengelus-elusnya sedikitpun. Dan aku lantas selalu berada dalam ketakjuban ketika merasakan ada gerakan-gerakan halus yang terdapat disana. Aku tahu ia berada di sana. Aku menemukan cara bagaimana untuk memeluknya kapanpun aku mau. Aku tak akan lagi melewatkannya

Pilihanku adalah yang terbaik baginya. Aku bersyukur atas telinga dan hati yang telah ia miliki. Aku berterima kasih karena ia telah menjadi teman terbaik ketika papanya tiada di sini. Kehadirannya beberapa hari lagi telah begitu kunantikan. Lihatlah! Hari ini aku telah memberinya ruang di dalam kamar. Aku memaknai ini semua bukan sekedar memberinya “ruang” secara fisik. Namun juga bahwa kehadirannya telah mendapat ruang di hatiku, dan aku telah mempersiapkan ruangan itu. Aku memegang tekadku, untuk tetap menjadi sekolah dan taman baginya, yang bisa memelihara tanamannya dengan siraman, agar ia dapat senantiasa tumbuh subur dan rindang. Aku berjanji akan terus memberikan apa yang terbaik untuk anakku. Bukan saja pada apa yang saat ini aku lakukan, tapi juga pada apa yang aku pikirkan dan aku rasakan. Semoga ia akan terus menjadi guru bagiku, dan juga bagi suamiku. Mendidik kami berdua. Aku mencintainya*** (juni 2006)

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP