02 November 2008

Bagaimana Membangkitkan Gairah Kepenulisan

“Menulis sampai ke Tulang Sungsum.” Demikianlah kalimat yang terambil dari judul sebuah buku asing (kalau tidak salah), “Writing Down To The Bone”. Gairah kepenulisan itulah yang terbangkitkan dalam seminar yang saya ikuti di UGM hari ini yang bertema “Tulisanku, Tombak Kemajuan Bangsaku.” Baik pak Amien Rais, Fadjroel Rachman, maupun Hernowo yang masing-masing sudah berpengalaman di dunia tulis menulis, sama-sama berusaha untuk memunculkan motivasi untuk menjadikan kebiasaan menulis sebagai sarana kemajuan diri. Hernowo mencoba mengutip kalimat Maghribi, “Menjadi jenius dengan menulis.”

Berkaitan dengan motivasi ini, kata pak Amien (meskipun saya tidak mendengar sendiri karena terlambat), apabila tulisan kita baik dan mampu membawa perubahan pada orang lain, maka disitulah tulisan kita berpahala. Yang lain pun juga mengemukakan bahwa tulisan dapat membawa manfaat yang besar dengan membawa perubahan dan menggerakkan orang lain. Sebagaimana Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata bisa menginspirasi demikian banyak orang, bahkan membuat pecandu narkoba menjadi “bertaubat”. Buku yang baik adalah yang bisa menggerakkan pikiran orang. Lebih jauh lagi, buku yang berkualitas hendaknya mampu menggerakkan orang untuk menuliskannya kembali.

Lalu bagaimana tulisan kita bisa membuat kita menjadi diri yang lebih baik lagi? Dapat saya simpulkan, hal itu tercapai karena dengan menulis kita melakukan proses pengorganisasian gagasan dan membangun asosiasi dan jalinan-jalinan dari beragam informasi yang kita dapatkan atau kita miliki. Menulis membantu kita untuk menguasai ilmu secara lebih sistematis dan terstruktur. Terlebih ketika hal itu bisa kita lakukan dalam bahasa yang mengalir. Dan satu lagi, karena kegiatan menulis berhubungan dengan membaca: menulis memerlukan membaca dan membaca memerlukan menulis. Bukankah ketika kita makan kita juga merasa harus mengeluarkan produknya?:-)

Namun patut disayangkan, menulis, sebagaimana juga dengan membaca, belum menjadi budaya. Dalam bahasa Taufik Ismail, bangsa kita adalah bangsa nol buku, buta membaca dan lumpuh menulis. Meskipun belum ada data pasti mengenai index reading habit kita, tapi bisa dipastikan kalau angkanya pastilah masih rendah. Hal ini bisa kita lihat dari human development index kita, khususnya di bidang pendidikan. Hal itu diperparah dengan adanya fakta bahwa pemerintah belum memiliki kebijakan yang mendukung dan menggairahkan kegiatan kepenulisan. Masih tingginya pajak kertas, misalnya, menjadikan buku masih menjadi barang mahal, apalagi untuk kalangan ekonomi yang termasuk lemah. Coba kita bandingkan dengan kebijakan di India yang dikatakan sempat menyuplai kertas untuk penerbit.

Reward yang diberikan kepada penulis pun juga tampaknya masih dianggap kurang menguntungkan dan menstimulasi kegiatan kepenulisan. Dengan demikian, banyak penulis yang menjadi malas untuk menulis buku dan lebih memilih untuk menulis artikel yang dianggap lebih memberi reward yang memadai.

Menulis adalah keterampilan. Oleh karena itu,untuk dapat melakukannya dengan baik, harus senantiasa kita latih. Semakin banyak kita berlatih, akan semakin bertambah ilmu yang kita dapatkan. Tidak seperti uang atau barang fisik yang membutuhkan lebih banyak ruang ketika jumlahnya bertambah, jika ilmu Anda bertambah, tetap saja wadahnya adalah apa yang ada di kepala kita. Hanya saya, jalinan sel saraf otaknya akan lebih banyak dan ruwet. Jadi, semoga kita ragu untuk terus menerus menambah ilmu dan mengikatnya dengan tulisan.***

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP