02 November 2008

Benarkah Mitos Bayi Tak Punya Memori?

Sekarang saya termasuk orang yang 100% percaya bahwa bayi telah memiliki memori yang sangat kuat dan kemampuan imitasi yang sangat mengagumkan. Jangankan pada anak-anak yang lebih besar, saya menyaksikan secara nyata bahwa lingkungan membawa pengaruh yang sangat signifikan pada apa yang merela lakukan.

Jika pengaruh buruk lingkungan (misalnya TV) terhadap anak-anak yang lebih besar terus dikhawatirkan banyak orang, maka demikian halnya dengan pengaruh baik pun mereka juga dapat melakukan respon, dan mengalami proses belajar, temasuk imitasi. Oleh karena itu, di usia gold standar, khususnya di bawah tiga tahun, kita sebagai orang tua dapat membuat serangkaian langkah stimulasi dan modifikasi lingkungan yang baik, bermanfaat, dan benar-benar bergizi bagi perkembangan otak mereka.

Mengapa saya mempercayai hal yang saya sebutkan diatas?

Pertama, hal tersebut telah dibuktikan dengan serangkaian teori dan penelitian. Riset-riset baru menunjukkan bahwa ide-ide Socrates adalah benar: bayi kita yang mungil dan lucu itu, meskipun tidak berpendidikanJ, mengetahui jauh lebih banyak dari yang pernah kita pikirkan. Mesin komputer versi 0.0 mereka demikian canggihnya hingga membuat mereka menjadi mesin pembelajar terbaik di planet ini. Bahkan dikatakan paling mendekati kecerdasan alien yang sesungguhnya. Pandangan-pandangan dominan yang menganggap mereka sebagai orang dewasa yang belum sempurna kemudian dianggap menyesatkan.

Dua penelitian ini bisa dijadikan contoh. Pada penelitian pertama, seorang peneliti membiarkan bayi-bayi melihatnya memainkan balok dengan cara menempel-nempelkannya di dagu. Hanya melihat saja. Bayi-bayi tidak diberi balok dan sama sekali tidak memegangnya. Kira-kira sebulan kemudian, bayi-bayi itu datang dan diberi balok. Apa yang mereka lakukan? Mereka menempelkannya di dagu!

Peneliti yang lain bahkan rela berlari-lari saat ada orang bersalin, untuk mengetahui pada menit ke berapakan bayi bisa meniru dan mengikuti gerak manusia (misalnya menjulurkan lidah). Ternyata bayi-bayi baru lahir itu bisa melakukannya. Bahkan bayi termuda ditemukannya bisa menirukan pada usia 42 menit!

Penelitian-penelitian lain dapat Anda baca dalam buku Keajaiban Otak Anak terbitan Kaifa yang merupakan terjemahan dari buku The Scientist in the Crib: What Early Learning Tells Us about The Mind. Buku tersebut merupakan kumpulan dari serangkaian penelitian mengenai bagaimana bayi atau anak belajar. Kutipan-kutipan utamanya bisa Anda lihat di www.mutiarabukuwanita.blogspot.com

Pembuktian kedua, adalah karena saya sebagai orang tua (dan tentu juga Anda) akan melihat dengan kedua mata kepala sendiri bahwa memori dan kegiatan-kegiatan belajar termasuk imitasi itu adalah ada. Bayi saya bahkan menunjukkannya hampir setiap hari. Suatu hari, saya pernah menyusuinya di sebuah ruangan yang bukan di rumah. Ketika satu bulan kemudian saya mengunjungi tempat tersebut, dan meminta ASI, yang membuat saya terkejut adalah ia menunjuk kepada ruangan tersebut dan mengajak saya kesana.

Toilet training pun ternyata bisa kita jalankan dengan mudah melalui proses imitasi. Tiba-tiba anak saya menarik-narik kolornya, mengangkat sedikit bagian bawah bajunya ke atas, berlari ke kamar mandi dan buang air kecil disana sebelum saya sempat melepas celananyaJ. Ini adalah hasil dari proses imitasi kakaknya yang melakukan hal serupa (melepas celana –hanya saja ia belum bisa, kemudian berlari ke kamar mandi), dan memori ketika ditatur tiap hari yang menghasilkan kesimpulan bahwa kamar mandi adalah tempat untuk buang air kecil.
Hari ini ia memasukkan semua kaset dalam rak ke dalam tas ransel saya, dan ingin membawanya dipunggung seperti cara saya memakai ransel tersebut. Karena terlalu berat, ia mendapatkan tas ransel kecil milik tantenya. Yang ia lakukan kemudian adalah memasukkan buku-buku kecilnya dan memakai serta membawa kesana kemari. Sore ini, ia juga menemukan selang didekat kolam. Ia tiba-tiba membawanya ke depan dan menggunakannya untuk menyisir taman menyirami semua tanaman dengan menirukan suara keluarnya air (meskipun tidak ada air yang keluar sama sekaliJ). Dan yang lebih mengejutkan, setelah semua tanaman ia anggap selesai disirami, ia melipat ujung selang 3 kali. Ternyata itulah yang dilakukan eyangnya setiap hari untuk menghentikan aliran air karena bagian penyemprotnya telah rusak. Setiap kali menemukan meteran, yang ia lakukan juga mengalungkannya dan membentangkannya hingga lurus untuk mengukur dinding, kursi, dan apa saja.

Pasti Anda punya banyak pengalaman-pengalaman yang serupa dan tentunya lebih menarik. Tidak ada yang mengajarkan atau memerintahkan pada mereka untuk melakukan hal-hal itu. Anak-anak kita hanya melihat, mengingat, dan meniru. Maka inilah saat emas yang paling tepat bagi kita untuk membuatnya menjadi lebih tahu dan lebih mampu.
Selamat mendidik anak dan semoga ia berhasil kelak.***

1 komentar:

Ilham Bashirudin 4 Februari 2010 11.22  

Oooo.....jadi pengin cepet' punya anak he2x mbak istri saya mhs FK UII 05, mbak ngajar di mn to?

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP