18 November 2008

Kesabaran Seorang Ibu

Pernahkah Anda melihat sebuah tayangan iklan selama bulan Ramadhan tentang seorang ibu yang harus bersabar terhadap “tingkah” anaknya di dapur? Hari ini saya juga membenarkan bahwa menjadi seorang ibu membutuhkan kesabaran yang luas. Namun, hampir saja saya tak bisa tersenyum seperti ibu dalam iklan itu.

Malam sudah semakin larut, dan anak saya (17 bulan) belum mau tidur juga. Terlepas dari benar tidaknya pernyataan bahwa anak ingin banyak bermain di malam hari karena meminta jatahnya selama ibu bekerja, yang jelas, saya sudah demikian lelah dan mengantuk. Sementara ia masih meloncat-loncat di atas kasur, membolak-balik semua buku saya yang memiliki gambar bayi di covernya, dan menggoyang-nggoyang kepala kasur, saya berbaring sambil mengawasinya. Saya tidak tahu apakah saya tertidur, namun tiba-tiba kedua bantal saya ditarik dengan begitu cepatnya, dengan begitu kuatnya. Saya membacanya sebagai perintah bahwa mama tidak boleh tidur dan harus menemaniku bermain. Jadi saya menuruti saja ketika ia mengajak turun kasur dan pergi ke ruang tengah.

Ia mengajak makan di waktu semalam ini. Saya tahu itu artinya bukan saya lapar, melainkan saya ingin bermain dengan piring, sendok, dan nasi, dan lauknya pun harus ikan. Saya lalu memangkunya di kursi makan, kemudian mengambil nasi dan ikan, memisahkan ikan dari duri-durinya, dan mendinginkan nasi sesuap demi sesuap. Tapi ia menangis sambil berusaha menggeser-geser paha saya dengan kuatnya. Oh, rupanya ia ingin duduk sendiri dan makan sendiri. Jangan coba-coba mengambil alih sendoknya karena ia akan menolaknya. Ini permainan yang sangat mengasyikkan. Karena merupakan gambar yang menarik, saya mengambil hp untuk merekamnya. Saya terus saja mengambili nasi-nasi berceceran kesana kemari di lantai dan di kursi, hingga tiba-tiba “Praaaang!”, piring itu sudah terbelah menjadi tiga bagian.

Saya beristighfar karena tiba-tiba suasananya menjadi seperti sesak. Seketika itu juga rasanya semua berhenti. Saya menatap wajahnya yang tak berdosa (dan memang ia tidak bersalah). Pantas saja menurut penyampaian sorang spsikolog, semua bayi bahkan bayi hewan sekalipun, diciptakan Allah dengan wajah yang lucu, menghibur, dan menggemaskan agar orang-orang selalu iba, senang, dan sayang padanya sehingga ia selalu terlindungi oleh siapa saja. Bahkan ibunya pun jadi terhibur dan lupa terhadap segala kerepotan, kekesalan, dan kelelahan yang terkadang ditimbulkan olehnya.

Sedikit kekesalan itu secepat mungkin sirna ketika saya ingat dua hal yang menjadikan ibu kembali bahagia, yaitu berfikir positif dan menghela pernafasan yang dalam. Dan saya pun melakukannya. Tidak ada yang bisa membuat saya memperoleh alasan untuk marah, karena saya sadar baginya ini semua adalah permainan, dan saya berkontribusi karena telah melepaskan beberapa detik pengawasan sehingga tak sadar begitu cepatnya piring itu sudah terlempar ke bawah. Saya terus menghela nafas sambil memunguti piring dan nasi-nasi yang berserakan. Sambil bergumam di dalam hati, Oh ternyata seperti inilah rupanya seorang ibu harus bersabar. Dan rasanya kesabaranku tidak ada apa-apanya, masih amat jauh dibandingkan dengan kesabaran ibuku...”

1 komentar:

danisharun 17 Februari 2009 15.41  

Assalaamu'alaykum
Saya merasa terharu...Mba Beti merasakan hal yang mirip dg yang saya rasakan....."Ibu, seperti inilah yang engkau rasakan sewaktu kami kecil dahulu...Lalu bagaimana caranya bisa menjadi anak sholeh, agar bisa "menemani dan mebantu" Ibu, jika Ibu sudah tak sanggup lagi berbuat apa - apa?"

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP