17 September 2008

Jejak Menuju Komunitas Sehat: Bagaimana Mengembangkan Program Kesehatan Komprehensif bagi Usia Emas Pra Sekolah

dr. Maftuhah Nurbeti

“Whether or not children will be successful and healthy person
depends greatly on the quality of their experiences in early childhood”
[i]

Pengembangan program kesehatan komprehensif bagi anak usia emas prasekolah merupakan hal yang sangat penting dan cukup strategis. Hal ini berangkat dari pertimbangan bahwa pertama, telah terjadi peningkatan dramatis dalam masalah-masalah kesehatan pada masa anak-anak, yang sebenarnya dapat diubah dengan langkah-langkah pencegahan dasar. Dengan demikian, serangkaian aksi, kegiatan, dan intervensi menjadi hal yang mutlak dibutuhkan.
Kedua, usia prasekolah merupakan periode emas yang sangat penting untuk membentuk kebiasaan dan model perilaku seseorang. Tiga penyebab utama morbiditas dan mortalitas (penyakit jantung, kanker, dan stroke), misalnya, memiliki sejumlah faktor risiko termasuk gaya hidup yang bisa dicegah dengan menerapkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat yang bisa dimulai di usia dini. Demikian halnya dengan risiko-risiko kesehatan di usia remaja seperti narkoba maupun masalah-masalah kesehatan reproduksi.

Pendidikan kesehatan berbasis sekolah akan dapat membantu anak mengembangkan pengetahuan, keterampilan, motivasi serta dukungan yang mereka butuhkan untuk memilih perilaku yang meningkatkan kesehatan, dan menahan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang menempatkan diri mereka pada risiko kesehatan maupun masalah sosial dan kegagalan sekolah.
Pada sekolah yang sehat, anak-anak dapat lebih siaga, lebih fokus dan terlepas dari mendapatkan kekurangan-kekurangan di sekolah. Bukan hanya lebih baik, tapi mereka juga mempelajari perilaku sehat seumur hidup. Dalam hal ini, pendidikan kesehatan dibuktikan berpengaruh untuk mewujudkan anak-anak yang sehat.[ii] Sedangkan, kesehatan anak-anak dan pendidikan kesehatan pada usia pra sekolah secara signifikan sangatlah berhubungan dengan prestasi anak disekolah dan kesehatan serta kesuksesan di kehidupan selanjutnya.1,[iii]

Pertimbangan ketiga adalah lembaga pendidikan prasekolah memiliki jumlah yang cukup besar yaitu 57.793 sekolah dengan jumlah total siswa sebesar 2.740.448 di seluruh Indonesia.[iv] Jumlah yang besar menjadikan lembaga-lembaga tersebut cukup strategis untuk turut dilibatkan dalam program-program kesehatan untuk mencapai tujuan dan visi misi di bidang kesehatan maupun penelitian-penelitian untuk kemajuan bidang kedokteran. Sebagai contoh, di Amerika dilakukan imunisasi HiB massal melalui taman kanak-kanak.[v] Kelengkapan imunisasi juga telah lama digunakan di beberapa negara sebagai prasayarat pendaftaran siswa baru. Dalam bentuk yang lain, pemeriksaan urin siswa selain bisa menjadi program screening untuk deteksi penyakit ginjal, juga bisa dilakukan untuk meneliti kelainan-kelainan asimtomatik.[vi],[vii] Di samping itu, ternyata banyak hal yang bisa didapatkan oleh sekolah maupun pemerintah dari laporan penilaian kesehatan di sekolah anak, seperti yang diperoleh dari 4000 laporan penilaian kesehatan sekolah yang dilakukan oleh sebuah pusat kesehatan anak.[viii]

Patut disayangkan, di samping jumlah siswa yang besar tersebut, saat ini 80% dari 26,17 juta anak usia dini belum tersentuh oleh pendidikan usia dini. Oleh karena itu, pemerintah melalui rencana strategis Departemen Pendidikan Nasional menggalakkan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini oleh berbagai komponen masyarakat.[ix] Sebagai perbandingan, anak-anak di negara lain seperti Singapura, semua anak telah terjangkau dengan pendidikan anak usia dini. Sementara itu, anak-anak usia dini di Indonesia masih berada di bawah bayang-bayang ancaman gizi buruk. Data tahun 2002 menyebutkan bahwa terdapat 1,3 juta anak yang memiliki masalah kekurangan gizi. Di Yogyakarta sendiri, saat ini tercatat angka lonjakan tajam sebanyak 2.254 balita dengan gizi buruk, sehingga Dinas Kesehatan meluncurkan program GARBA (Gerakan untuk Kesejahteraan Balita) tanggal 9 Agustus lalu. Padahal, setiap anak dengan gizi buruk berisiko untuk kehilangan Intellegence Quotient (IQ) 10-13 point. Artinya, bangsa kita terancam untuk kehilangan IQ sebesar lebih dari 22 juta point. Tidaklah mengherankan, Indeks Pembangunan Manusia kita masih berada di posisi ke 111 dari 173 negara.

Dengan demikian, upaya-upaya pengembangan program kesehatan melalui taman kanak-kanak dan lembaga PAUD yang lain patut dihargai. Departemen kesehatan pun telah lama pula merencang program UKS dengan triprogramnya. Sekalipun demikian, hal-hal yang akan diuraikan kemudian diharapkan dapat memberikan masukan mengenai bagaimana mengembangkan program-program kesehatan secara lebih komprehensif, tepat sasaran, dan melalui cara-cara yang paling sesuai dengan usia perkembangan anak prasekolah agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara maksimal.

Pengembangan Program Kesehatan Prasekolah dengan Pendekatan Komprehensif

Program kesehatan bagi anak usia prasekolah tidaklah hanya diwujudkan dengan adanya pendidikan kesehatan kesehatan dalam kurikulum atau berupa intervensi yang hanya bertujuan untuk prevensi pada tingkat perilaku saja, sedangkan tingkat kondisional masih kurang diperhatikan. Hal inilah yang ditemukan dalam sebuah assesment terhadap lembaga-lembaga pendidikan prasekolah di Jerman.[x] Di konteks Indonesia, program UKS dengan konsep triprogramnya telah menggabungkan antara pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Namun, perlu dievaluasi apakah program yang dijalankan selama ini telah benar-benar bersifat komprehensif.

Kesehatan sekolah komprehensif dimaknai sebagai sebuah spektrum yang luas dari program-program, kebijakan, pelayanan, dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di sekolah dan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, kesehatan sekolah komprehensif mengusahakan adanya rencana kemitraan dan kolaborasi yang bersifat aktif di antara semua orang dan pihak yang dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan siswa, misalnya guru, rekan sebaya, orang tua, tenaga profesional, maupun kelompok masyarakat. Sehingga setidaknya, model kesehatan sekolah yang komprehensif ini telah melibatkan empat elemen yang utama, antara lain instruksi, layanan pendukung, dukungan sosial, dan lingkungan yang sehat.

Hal lain yang juga menjadi kebutuhan adalah evaluasi dari program. Karena hal inilah yang sering dilupakan. Pengukuran yang terstandardisasi akan sangat membantu kesuksesan dan efektivitas dari program kesehatan yang dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya, menjadi suatu hal yang penting pula untuk menghubungkan dan memanfaatkan program-program yang sudah ada daripada membuat program baru.

Dalam program pendidikan kesehatan yang komprehensif, segala aspek dari perkembangan siswa turut diperhatikan, yaitu perkembangan fisik, emosi, moral, dan spiritual. Semua program didasarkan pada pengetahuan akan fakta-fakta dan nilai-nilai yang mendasar. Kepercayaan atau prinsip-prinsip agama siswa juga akan dihargai karena hal tersebut juga mempengaruhi kesehatan mereka. Dengan demikian program kesehatan komprehensif memiliki lebih dari sekedar tujuan kependidikan.

Untuk mencapai tujuannya, pendidikan kesehatan pra sekolah menyediakan koordinasi dan sumber daya pada delapan wilayah komponen kesehatan sekolah, yaitu pendidikan kesehatan sekolah, pelayanan kesehatan sekolah, lingkungan fisik yang aman, pelayanan konseling, psikologi, dan sosial, pendidikan olah raga, pelayanan gizi, promosi kesehatan di sekolah bagi staff dan guru, serta keterlibatan keluarga dan masyarakat.

Pendidikan Kesehatan Prasekolah: Tujuan dan Filosofi

Pendidikan kesehatan merupakan salah satu bagian dari program kesehatan komprehensif. Namun demikian, sebagaimana yang disebutkan pada akhir bagian di atas, hendaknya tujuan yang dicapai lebih dari sekedar tujuan kependidikan. Filosofi yang dipakai adalah bahwa pendidikan kesehatan ini adalah pendidikan untuk kesehatan, bukan pendidikan tentang kesehatan Jadi, pendidikan kesehatan bukan hanya sekedar memberikan informasi atau semacam kursus pengetahuan.

Artinya, pendidikan kesehatan hendaknya mempromosikan dan memfasilitasi penerapan dari pengetahuan ke dalam tindakan-tindakan yang disebut dalam health action model sebagai perilaku yang meningkatkan kesehatan dan menurunkan perilaku-perilaku berisiko kesehatan ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini didasarkan dari premis bahwa jika pengetahuan kesehatan telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, akan makin banyak individu di dalam komunitas kita, maupun masyarakat kita secara keseluruhan yang akan menikmati keuntungan dari memiliki kesehatan yang lebih baik.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan kesehatan saat ini adalah membantu peserta didik untuk mempelajari dan mempraktekkan keterampilan sosial maupun personal untuk mempromosikan dan melindungi kesehatan mereka.[xi] Kemampuan personal dan kemampuan sosial yang disebut disini antara lain meliputi tujuh aspek kemampuan untuk mempelajari wilayah isi pendidikan yang menjadi prioritas. Tujuh aspek kemampuan tersebut meliputi kemampuan memahami konsep-konsep inti, kemampuan mengakses informasi, manajemen diri, kemampuan menganalisis pengaruh, komunikasi, pengambilan keputusan dan penetapan tujuan, serta kemampuan untuk melakukan advokaksi.

Sementara itu, wilayah-wilayah yang menjadi prioritas untuk dipromosikan dalam muatan pendidikan antara lain kesehatan mental maupun emosional, kegiatan fisik dan pola makan yang sehat, kesejahteraan dan kesehatan personal, keamanan dan pencegahan kekerasan, gaya hidup bebas tembakau, gaya hidup bebas alkohol dan narkoba, serta kesehatan dan tanggung jawab reproduksi. Meskipun demikian, masih terdapat perbedaan mengenai perlu tidaknya pendidikan masalah kesehatan reproduksi, seperti pengenalan AIDS pada tingkat prasekolah.[xii]
Pemahaman terhadap tujuan-tujuan tersebut akan sangat membantu dalam penentuan indikator-indikator, pembuatan contoh-contoh, perancangan strategi pembelajaran dan penilaian hingga pencarian dan penyusunan daftar sumber-sumber yang dibutuhkan. Pedoman kurikulum pendidikan kesehatan prasekolah di Elkhart dapat menjadi contoh yang cukup baik dalam hal ini.[xiii]

Menciptakan Prakondisi dan Kondisi: Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Program Kesehatan Prasekolah

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, program kesehatan berbasis taman kanak-kanak dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, motivasi, serta dukungan yang mereka butuhkan untuk memilih perilaku yang meningkatkan kesehatan dan menahan diri dari perilaku yang menempatkan mereka pada risiko dan kegagalan sekolah. Namun, patut disayangkan, wilayah pokok bahasan seperti pendidikan kesehatan ini cenderung kurang menonjol dalam kurikulum sekolah.

Dalam menyusun program kesehatan komprehensif maupun kurikulum, hendaknya dipegang beberapa prinsip penting yang bisa dijadikan sebagai acuan. Prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam Model Program Pengembangan Taman Kanak-kanak Sehat Republik Cekoslovakia berikut ini cukup relevan untuk dijadikan gambaran.[xiv] Seperti dalam bahasan mengenai pendekatan komprehensif di atas, setidaknya program kesehatan dilaksanakan melalui tiga cara, yaitu menciptakan kondisi untuk kesehatan dan kesejahteraan anak, mendidik anak mengenai gaya hidup sehat, dan membangun kemitraan sosial dan profesional untuk program kesehatan tersebut.

1. Menciptakan kondisi untuk Kesehatan Anak

Dalam menciptakan kondisi untuk kesejahteraan dan kesehatan anak, prinsip pertama yang harus dipahami berkaitan dengan konsep kesehatan holistik. Artinya, pengertian kesehatan hendaknya dipahami sebagai gabungan dari kesejahteraan fisik, mental, sosial dan spiritual. Pengertian sehat yang dikemukakan oleh WHO juga menyebutkan hal yang hampir serupa.
Selanjutnya, TK yang sehat hendaknya memenuhi dan memberikan penghargaan terhadap kebutuhan anak. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan umum mereka sebagai seorang manusia, kebutuhan spesifik sebagai seorang anak sesuai usianya, maupun kebutuhan mereka secara individual. Kebutuhan orang dewasa pun, dalam hal ini guru dan orang tua, juga harus diperhatikan mengingat kesehatan dan kesejahteraan mereka akan memberikan pengaruh pada kesehatan anak.

Berpangkal dari kebutuhan alami dan ketertarikan anak-anak, TK yang sehat juga menyediakan ruang, alat, dan waktu untuk anak-anak bermain secara spontan. Dunia anak adalah dunia bermain, sehingga dalam strategi pembelajaran, permainan menjadi kegiatan utama dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri anak (menggunakan metode fun education). Berbagai jenis permainan dapat diciptakan dan dikemas secara menarik sehingga disukai oleh anak-anak dan tanpa sadar nilai-nilai akademis yang ingin dicapai menjadi tertanam dalam dan terinternalisasikan. Sebagai contoh, permainan-permainan menarik yang dirancang oleh Activity Promotion Laboratory telah banyak diterapkan, disukai, dan berhasil mencapai tujuan pendidikan.[xv]

Di samping permainan, hendaknya juga diciptakan pula lingkungan yang memungkinkan anak untuk bergerak secara bebas, kegiatan rutin harian yang bersifat optimal, serta pemberian gizi secara seimbang. Hal ini dilakukan untuk melindungi dan memperkuat kesehatan anak-anak. Dengan diet yang seimbang, diharapkan kebutuhan anak akan terpenuhi, termasuk kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang, melakukan regenerasi jaringan, kekebalan tubuh dari pengaruh internal dan eksternal, maupun untuk tampilan fisik dan mental anak. Diet yang bergizi merupakan faktor penting bagi kesehatan dan kesejahteraan anak.

Terhadap aspek non fisik, program TK sehat juga memberikan perhatian dan dukungan terhadap perkembangan psikologis alami pada anak-anak. Hal ini dilakukan antara lain dengan membantu anak-anak untuk mampu menghargai diri mereka sendiri (memperbaiki kepercayaan diri), menciptakan lingkungan yang positif secara emosional, melindungi anak-anak dari situasi yang menimbulkan tekanan psikis, serta memperkuat ketahanan psikis
mereka.

Selain dukungan terhadap kepercayaan diri anak, iklim sosial di lingkungan taman kanak-kanak dibangun dengan dasar saling percaya, saling menghormati, memberikan empati, serta saling bekerja sama antar komponen-komponen yang ada dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di taman kanak-kanak.

Berkaitan dengan aturan-aturan yang diterapkan pada lembaga pendidikan prasekolah, TK sehat membuat kerangka aturan yang tersusun untuk kehidupan sehari-hari anak. Dengan demikian, akan tercipta keteraturan yang berirama. Meskipun demikian, guru masih tetap memiliki ruang untuk bersikap lentur dalam membuat keputusan. Guru juga dapat membangun komunikasi yang efektif dengan para orang tua untuk melakukan saling tukar informasi.
Adapun, karena kualitas dari lingkungan amat mempengaruhi kesejahteraan semua orang yang terlibat, maka TK sehat menciptakan lingkungan yang menyenangkan secara estetika, yang memberikan sambutan yang hangat, yang memberikan inspirasi, dan tentu saja yang higienis.

2. Pendidikan Gaya Hidup Sehat

Selain dalam penciptaan kondisi-kondisi seperti yang disebutkan di atas, program kesehatan pada usia prasekolah juga meliputi adanya pendidikan gaya hidup sehat. Dalam hal ini, prinsip yang harus dipegang adalah pendidikan yang bersifat dini dan proses pembelajaran yang berbasiskan pengalaman. Kembali kepada tujuan umum pendidikan kesehatan, peserta didik diharapkan untuk dapat tumbuh dan merawat kesehatan mereka dan juga orang lain sebagai sebuah nilai yang tak tergantikan dan menjadi prekondisi bagi sebuah kehidupan yang bernilai. Isi dari pendidikan kesehatan tersebut dapat dikembangkan dari tema-tema dasar seperti fisiologi, kesehatan mental dan kepribadian, hubungan interpersonal, maupun sikap terhadap kehidupan, masyarakat, dan alam. Semuanya dikemas dalam bentuk yang mudah dipahami oleh tingkat usia prasekolah.

Karena menggunakan proses pembelajaran yang berbasis pengalaman, maka TK sehat memilih pendekatan-pendekatan atau metode yang secara alami sesuai untuk anak usia prasekolah. Artinya, anak-anak belajar sambil bermain. Hal ini mereka lakukan melalui proses eksperimen dan pencarian pengalaman. Apabila hendak diterapkan pembelajaran yang terorganisasi (mengajarkan melalui cara-cara yang terencana), sebaiknya bukan dengan memberikan ceramah, melainkan mencoba untuk melakukannya, mencontohkan, atau menciptakan situasi yang secara alami dapat menjadi model bagi anak-anak didik tersebut.

3. Dukungan sosial dan Profesional

Unsur lain yang juga tidak dapat dipisahkan dalam program kesehatan prasekolah adalah membangun kemitraan dukungan sosial dan profesional. Dalam hal ini, pada prinsipnya, lembaga pendidikan prasekolah mengembangkan gaya manajemen yang berdasarkan keterlibatan dan kerjasama seluruh anggota komunitas pendidikan. Selanjutnya, lembaga pendidikan membangun kemitraan dengan keluarga (membentuk komunitas taman kanak-kanak dan keluarga). Hal ini dilakukan karena dalam program promosi kesehatan yang dilakukan sekolah, keluarga merupakan prasayarat yang terkuat untuk efektivitas pelaksanaan program. Tanpa dukungan keluarga, bisa jadi apa yang sudah didapatkan anak didik di sekolah menjadi tidak berkesinambungan. Oleh karena itu, hendaknya terjalin hubungan interaksi dan kerjasama yang bersifat timbal balik antara rumah dengan sekolah. Bahkan, yang dibangun bukan hanya sekedar kemitraan, melainkan juga keterbukaan dan toleransi antara kedua belah pihak. Dan karena setiap anak memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, pihak sekolah hendaknya memberikan perhatian pada hal ini dan sebisa mungkin mengerahkan usaha untuk melindungi anak dari pengaruh-pengaruh buruk dan berbahaya yang mungkin saja ia dapatkan dari kehidupan keluarganya atau segera menggantikan apabila ada yag tidak ia dapatkan di rumah. Sebaliknya, apabila anak mendapatkan hal-hal yang positif, pihak sekolah berusaha untuk memperkuatnya.

Sementara itu, sebagai elemen utama yang sangat berpengaruh, gaya hidup sehat para guru menjadi hal yang dipersyaratkan. Diharapkan, para guru memiliki segenap kualitas kemampuan yang dapat mewujudkan kesuksesan program. Tentu saja karena guru adalah teladan yang akan menjadi contoh bagi pada anak didik yang akan melakukan proses imitasi. Sikap dan kebiasaan gaya hidup yang sehat akan menjadi model bagi mereka.

Selain melibatkan masyarakat dalam program kesehatan TK, sebagai bagian dari keseluruhan masyarakat yang lebih luas, dan menjadi prekondisi bagi stabilitas masyarakat, hendaknya TK ikut serta dan terlibat pula dalam kegiatan-kegiatan dan program-program masyarakat. Dengan demikian, TK dapat membangun iklim sosial yang lebih berkualitas dan memperkaya kehidupan spiritual maupun budaya masyarakat.

Terakhir, untuk mempersiapkan para siswa menuju pendidikan berikutnya di Sekolah Dasar, akan sangat baik bila TK menjalin hubungan dengan sekolah dasar di lingkungannya, guna menghilangkan kecemasan anak dan memperlancar transisi dari TK ke SD. Hal ini berpangkal dari adanya kepercayaan bahwa mengikuti sekolah adalah bermakna dan bermanfaat, sepanjang mereka percaya pada kemampuan yang dimiliki dan merasa cukup percaya diri untuk menjadi siswa SD yang baru.

Penutup
Akhirnya, dengan peran strategis yang dimainkan oleh lembaga pendidikan prasekolah, program kesehatan hendaknya dikembangkan secara komprehensif, dengan pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, penciptaan kondisi yang sehat dan mendukung, serta bangunan kemitraan dengan berbagai pihak yang terlibat di masyarakat. Dengan anak-anak yang sehat dan membawa potensi untuk hidup sehat sepanjang hidupnya, bukan tidak mungkin akan tercipta anggota masyarakat yang sehat menuju komunitas yang sehat.***

Reference:
[i] Center for Mental Health in Schools UCLA (2006) Preschool Programs: A Synthesis of Current Policy Issues. Center for Mental Health in Schools. Los Angeles. UCLA
[ii] Blom Hoffman J, Dupaul GJ (2003) “Scholl-based Health Promotion: The Effect of a Nutrition Education Program.” School Psychology Review, volume 32 2003
[iii] Mangione, Peter L (1992) Links to Success: New Thinking on The Connection Between Preschool, School, and Community. Penerbit Far West Laboratory for Educational Reasearch and Development. USA
[iv] Depdiknas (2007) Gambaran Umum Taman Kanak-Kanak menurut Status Sekolah. www.depdiknas.go.id/statistik/0607/tk_0607/tbl_01.pdf
[v] Galil K, Singleton R; Levine OS, Fitzgerald MA, Bulkow L, Getty M, Perkins BA, Parkinson A (1999) “Reemergence of Invasive Haemophilus Influenzae Type b Disease in a Well-Vaccinated Population in Remote Alaska” The Journal of Infectious Diseases 1999, vol. 179, no 1, pp. 101-106 (24 ref.)
[vi] Arbus, GS (1977) Urinary Screening Program to Detect Renal Disease in Preschool and Kindergarten Children. Canadian Med Assoc Journal. 1977 May 21; 116(10): 1141–1142
[vii] Arbus GS, William RC (1976) Preschool Detection of Asymptomatic Bacteriuria: a Public Health Program.
[viii] Clemens C, Doolittle RP, Hoyle M (2002) Kindergarten Health Assessment Reports: What Do Schools Really Learn From Them? Clinical Pediatric (Phila). 2002 Mar;41(2):93-8
[ix] Departemen Pendidikan Nasional (2007) Naskah Akademik dan Rambu-Rambu Penyelenggaraan PAUD. Departemen Pendidikan Nasional.
[x] Wagner N, Meusel D, Höger C, and Kirch W (2005) “Health Promotion in Kindergarten Children: An Assessment of Evaluated Projects in Germany”. Journal of Public Health. Volume 13, Number 6 / November, 2005
[xi] Pateman, Beth (2006) “Hawaii’s “7 by 7” for School Health Education: A Presentation on Integrating The National Education Standards with Priority Content Area for Todays School Health Education in Grades Kindergarten Through 12” Preventing Chronic Disease Volume 3 no 2, April 2006.
[xii] Gross, Jane (2008) “Talk About AIDS in Kindergarten? The Teachers Say Don’t”. Palo Alto Journal. August 2008
[xiii] Elkhart Community School (2005) Kindergarten Health Curriculum Guide. Elkhart Community School. Agustus 2005
[xiv] Havlinove M, Kopriva P (1996) The Healthy Kindergarten: A Model Project of Health Promotion in The Kindergarten of The Czech Republic. Penerbit Spirala Tresnova. Republik Cekoslovakia.
[xv] Mahar MT, Kenny RK, Shields AT, Scales DP, Collins G (2006) ENERGIZERS, Classroom Based Physical Activities: The Way Teacher Integrated Physical Activity With Academic Concepts. Activity Promotion Laboratory, College of Health and Human Performance, East Carolina University. Amerika Serikat

Percayalah, Dia Mendengarmu!

(ditulis sebagai naskah lomba menulis pengalaman kehamilan PT Kalbe Farma)

Mataku berbinar. Senyumku melebar. Tak terlukiskan kebahagiaan. Bagaimana tidak? Di hari raya yang penuh makna, Tuhan menganugerahiku kabar gembira tentang kehadiran seorang putra. Pelukan selamat dan ciuman hangat pun mendarat satu per satu.

Waktu berselang. Tengah malam, di rumah sakit tempatku bekerja, seonggok janin sebesar buku-buku jari tergeletak di atas meja. Tubuhnya yang begitu kecil masih diselimuti kulit ketuban yang jernih dan transparan. Seketika itu juga aku terseret dalam keheningan yang mendalam. Janin itu meluncur keluar dari rahim seorang pasien dengan umur kehamilan yang sama persis denganku. “Oh Tuhan, pasti anakku telah sebesar ini”, aku bergumam dalam hati. Sebuah ketakjuban yang begitu berarti.

Melihat bayangan sosok anakku di layar periksa memberiku ketakjuban yang sama. Aku melihatnya seolah tengah duduk bersandar santai, membuatku ingin segera membelai. Ia tampak begitu damai. Tubuhnya lengkap dan sempurna. Kaki dan tangannya menjuntai ke depan perut dan dada. Rasa gembiraku pun terburai. Tak terbayang bagaimana kebahagiaan tak terbendung ketika nanti aku dapat melihatnya langsung. Sungging senyum masih terus mengikutiku sepanjang jalan, sepanjang waktu, selama masih kuingat gambaran itu. Terbetik kata tentang betapa Tuhan Maha Besar.

Tekadku sudah bulat: membetuknya secerdas mungkin, membuatnya sebahagia mungkin, dan memulainya seawal mungkin. Visiku sudah melekat, di dalam hati dan di dinding kamarku: “Yang Terbaik untuk Anakku”. Beruntung, berhasil kutemukan buku-buku masterpiece dengan informasi yang begitu kaya dan ditulis oleh penulis-penulis dan dokter-dokter hebat di dunia. Walau terlambat, setidaknya aku masih punya waktu untuk melakukan perubahan serta membuat pilihan-pilihan terbaik untuk anakku.

Aku bahagia berhasil memiliki sudut baru dalam memandang kehamilanku. Aku bukanlah korban dari sistem tubuh yang sedang berubah ini. Kehamilanku bukanlah “penyakit” yang mengharuskanku banyak tertidur di atas kasur. Ini semua adalah karunia. Segala ketidaknyamanan pun menjadi tidak terlalu berat untuk dijalani. Bahkan aku menganggapnya tiada.

Mengetahui bagaimana caranya mendengar, melihat, merasa, mengecap, dan membau adalah seperti melihat keajaiban. Tersenyum aku bertanya-tanya apakah ia juga mencium bau badanku bila aku malas mandi sore. Kubayangkan pula air liurnya seakan menetes setiap ada makanan harum di meja makan. Ternyata, ia pun hanya menelan sedikit bila makanan yang kumakan tidak enak. Ia juga merasakan setiap sentuhan. Pasti ia tahu dan merasa senang ketika aku mengelus-elusnya. Oh, ia sungguh pintar dan membuatku benar-benar ingin menangis setiap kali menuliskan kehebatannya.

Dari semua yang aku dapatkan, aku senang bisa menemukan sebuah anggapan awal yang kuanggap paling menarik untuk membantu langkah-langkahku dalam mendidiknya di dalam kandungan: bahwa ia mendengarkan.

Betapa bahagianya mengetahui bahwa selama ini, lewat mikrofon-mikrofon kecil di telinganya yang mungil, ia sudah bisa mendengar orang-orang yang berbicara kepadaku. Bahkan mungkin ia juga telah mencuri dengar setiap yang dikatakan Papanya padaku dulu. Ah, ia nakal sekali. Aku lebih senang lagi ketika mengetahui bahwa suaraku adalah yang paling mudah ia kenali dan tentu saja yang paling keras. Bahkan, nyanyian-nyanyianku bisa ia dengar senyaring dering telepon atau mesin penyedot debu. Aku jadi malu karena sering berteriak-teriak saat berbicara dengan adik-adikku di kamar seberang. Aku tertawa membayangkan pasti ia tengah menutup telinganya.

Meskipun aku begitu menginginkan beberapa album dari musisi-musisi favoritku, namun aku mengalah agar ia bisa mendapatkan beberapa album klasik terbaik yang irama, nada, melodi, dan harmoninya dipilihkan khusus untuk calon anak cerdas sepertinya. Saat-saat kami bersama mendengarkan lagu adalah saat dimana temali hati kami terajut satu demi satu. Aku semakin bisa merasakan keberadaannya. Aku melihat kebahagiaannya. Ketika tanganku bergerak membelainya, ketika kami bergerak bersama dalam tarian lembut atau gerakan yoga tertentu, kami berdua menyatu.

Yang terpenting, aku yakin bahwa seiring dengan semua bunyi yang ia dengarkan, milyaran sel saraf di otaknya tengah membangun sinaps, komunikasi, dan jala-jala koneksi. Maka aku tak hanya memperdengarkan padanya bunyi lagu, tetapi juga mengajaknya bercengkerama dan bercerita, memberi nyanyian cinta, menyuarakan doa-doa, mengucapkan catatan harian yang kutulis khusus untuknya, memberi komentar nyaring pada setiap buku yang kubaca, serta membunyikan surat-surat dan pesan singkat dari papanya di perbatasan Israel sana. Hingga semakin banyak yang ia tahu dan ia telah menjadi sahabat terbaikku.

Ia tak hanya mendengar dengan telinganya, tetapi juga hatinya. Oleh karena itu, semakin banyak cinta yang aku bisikkan, dan semakin sering ayat-ayat suci aku lantunkan. Aku paham, aku tengah meretas sensitivitas hati dan telinganya. Aku ingin agar ia lebih mudah menjadi penghafal dan penyampai kitab suci, serta hamba yang dicintai Tuhan, apapun profesinya nanti.
Hari itu, ia memberikan gerakan khusus yang berbeda pada saat aku dan puluhan orang lain tengah bersama-sama berdoa. Aku merasakan keharuan dan keheningan yang dalam. Pun, ketika ia selalu bangun lebih dahulu saat mendengar panggilan dari rumah suci dan membangunkan aku untuk beribadah setiap kali aku terlena. Barangkali karena ia belum melihat dunia, dan ruhnya belum lama diterbangkan dari alam sana. Ia adalah malaikat kecilku tersayang

Anakku tak hanya mendengarkan gelombang suara-suara, tapi juga aliran kimia dalam darahku. Tidak heran, ia lantas melonjak-lonjak dengan begitu riangnya, tepat setiap kali hatiku begitu bergembira mendapatkan telepon dari papanya. Pun ketika aku senang dengan apa yang kubaca dan setiap kali aku tertawa. Seolah senyuman lebar yang tersungging dari bibirku menjalar kepadanya. Sebaliknya, ia menunjukkan reaksi tidak nyaman, tiap kali aku menangis atas masalah orang dewasa atau ketika aku begitu merindukan papanya. Ia juga mengingatkanku dengan perasaan tak nyaman tiap kali aku mengkonsumsi makanan yang tak tepat, kurang atau berlebihan, maupun ketika aku memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras. Maka aku kemudian berjanji untuk selalu mengalirkan kimia positif dan memberi hadiah untuk kami berdua. Hadiah itu bernama kebahagiaan.

Aku selalu mendengar dan memperdulikan peringatannya. Karena aku tahu itulah yang terbaik bagiku dan baginya. Sebaliknya, aku juga senang karena ternyata ia juga mendengarkan dan mau mengikuti perintahku. Jika para dokter membuktikan dari dalam layar bahwa janin sepertinya mau mengangkat tangan ketika diperintahkan, maka aku mempercayai dan menyaksikannya juga. Seperti yang ia tunjukkan dini hari itu, masa-masa setelah ia terlalu banyak tergoncang dalam perjalanan dari kota-ke kota untuk meraih kebersamaan dengan papanya yang hanya beberapa hari saja.

Jalanan yang tidak rata membuatku nyaris tidak meletakkan pantat pada kursi penumpang sepanjang perjalanan dan tangan ini terus berpegangan untuk menahan kehebatan goncangan. Aku merasa sedih dan begitu ketakutan setiap perut ini terus berkontraksi serta ketika aku tidak juga merasakan gerakannya. Nafasku kian dalam dan cepat. Aku menangis sejadinya karena menyesali diri dan merasa khawatir sesuatu akan terjadi. Aku merasa sangat merindukannya. Merindukan anakku yang ceria dan melonjak-lonjak gembira mendengarkan iringan lagu, dan bisa bermain-main serta berbicara kepadaku lewat gerakannya yang lincah.
Kukatakan, “Ayolah, bergeraklah, Nak dan buat mama menjadi lebih tenang”. Lama sekali aku terus mengatakan itu dan menunggunya. Hingga akhirnya aku merasakan satu, dua, dan beberapa denyutan serta gerakan berulang, seolah ia menuruti perintahku. Aku pun dapat tertidur dengan tenang.

Aku semakin percaya bahwa ia mendengarkan. Aku juga sangat bahagia, karena setelah itu hingga hari ini aku bisa merasa begitu dekat dengannya. Tiap kali aku ingin merasakan keberadaannya, aku dapat mencoba meletakkan kedua tanganku begitu saja di atas perut ini. Terpejam tak bergerak, bahkan tak mengelus-elusnya sedikitpun. Dan aku lantas selalu berada dalam ketakjuban ketika merasakan ada gerakan-gerakan halus yang terdapat disana. Aku tahu ia berada di sana. Aku menemukan cara bagaimana untuk memeluknya kapanpun aku mau. Aku tak akan lagi melewatkannya

Pilihanku adalah yang terbaik baginya. Aku bersyukur atas telinga dan hati yang telah ia miliki. Aku berterima kasih karena ia telah menjadi teman terbaik ketika papanya tiada di sini. Kehadirannya beberapa hari lagi telah begitu kunantikan. Lihatlah! Hari ini aku telah memberinya ruang di dalam kamar. Aku memaknai ini semua bukan sekedar memberinya “ruang” secara fisik. Namun juga bahwa kehadirannya telah mendapat ruang di hatiku, dan aku telah mempersiapkan ruangan itu. Aku memegang tekadku, untuk tetap menjadi sekolah dan taman baginya, yang bisa memelihara tanamannya dengan siraman, agar ia dapat senantiasa tumbuh subur dan rindang. Aku berjanji akan terus memberikan apa yang terbaik untuk anakku. Bukan saja pada apa yang saat ini aku lakukan, tapi juga pada apa yang aku pikirkan dan aku rasakan. Semoga ia akan terus menjadi guru bagiku, dan juga bagi suamiku. Mendidik kami berdua. Aku mencintainya*** (juni 2006)

Hal-hal Penting yang Harus Diketahui Tentang Hak-hak Pasien

Hampir semua di antara kita pernah mendapatkan pelayanan kesehatan, baik pada praktek pribadi dokter, rumah sakit, puskesmas, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Apa yang ada di dalam benak kita ketika kita meninggalkan tempat pelayanan tersebut? Apakah kita merasa cukup puas dengan apa yang telah diberikan kepada kita? Ataukah masih tersisa pertanyaan atau ganjalan? Jika kita masih menyimpan pertanyaan atau ganjalan, baik tentang penyakit kita, obat yang diberikan kepada kita, maupun terhadap semua tindakan yang dilakukan terhadap kita, maka kita tidak sendiri. Kita pun harus mengevaluasi, jangan-jangan (meskipun tidak selalu) hal ini disebabkan karena kita tidak mendapatkan apa yang menjadi hak-hak kita sebagai pasien

Oleh karena itu, hal penting pertama yang harus kita ketahui tentang hak pasien adalah bahwa kita harus menjadi pasien yang berdaya dengan mengetahui dan menyadari bahwa serangkaian hak telah melekat dalam diri kita. Banyak alasan mengenai mengapa pembangunan kesadaran ini menjadi penting. Beberapa kasus pelanggaran hak pasien, misalnya penelantaran pasien, kesalahan dokter, atau ketertutupan informasi semakin menyadarkan kita akan pentingnya hal tersebut.

Adanya hak dan kewajiban membantu meningkatkan kepercayaan pasien dengan memastikan bahwa sistem pelayanan kesehatan bersifat cukup adil dan responsif terhadap kebutuhan mereka, memberitahukan kepada pasien mekanisme untuk memenuhi keinginan mereka, dan mendorong pasien untuk mengambil peran aktif serta kritis dalam meningkatkan kesehatan mereka. Selain itu, hak dan kewajiban juga dibuat untuk menegaskan pola hubungan yang kuat antara pasien dengan dokter.

Hak sendiri merupakan kepentingan yang dilindungi oleh hukum. Sedangkan kepentingan adalah tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi. Dengan demikian, dengan menyadari hak-hak kita, akan membantu kita untuk menjadi lebih kritis dan mengusahakan agar hak-hak tersebut dipenuhi, serta memberikan perlindungan kepada kita apabila hak-hak tersebut dilanggar atau diabaikan. Tentu saja karena hukum memang dibuat untuk melindungi kepentingan umat manusia. Demikian pula dengan hak-hak pasien. Ia dibuat guna melindungi kepentingan pasien itu sendiri.

Bahkan, bukan hanya itu, hak-hak pasien juga sekaligus melindungi kepentingan profesional dokter. Artinya, dengan adanya hak-hak pasien, dokter dituntut untuk lebih kompeten dan menerapkan perilaku profesional, seperti mendahulukan kepentingan pasien, menghormati orang lain, akuntabilitas, kewajiban untuk terus belajar, jujur, tulus, dan berterus terang dalam berkomunikasi dengan pasien, serta komitmen terhadap tugas melayani masyarakat sehingga selalu memiliki kesiapan dan responsivitas setiap kali dibutuhkan.

Pemerintah Indonesia telah menciptakan beberapa perangkat hukum guna melindungi hak-hak pasien. Undang-undang no. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan konsumen) menegaskan bahwa pasien adalah juga konsumen yang memiliki hak yang harus dihormati, seperti hak atas keselamatan, keamanan, dan kenyamanan; hak hak untuk didengar dan mendapatkan ganti rugi; hak memilih dokter dan mendapatkan second opinion (pendapat kedua), serta hak untuk mendapatkan rekam medik.

Sementara itu, Undang-undang no. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) menyebutkan mengenai hal-hal yang hampir sama, antara lain hak untuk mendapatkan kesehatan optimal, hak atas informasi, hak atas rahasia kedokteran, hak atas pendapat kedua, serta ganti rugi atas kelalaian yang dilakukan penyedia pelayanan kesehatan.

Karena pasien adalah juga merupakan seorang manusia, maka hak-hak yang dimiliki oleh pasien tersebut juga merupakan bagian dari atau berakar kepada hak-hak asasinya sebagai manusia. Sebagai contoh, hak untuk menentukan nasibnya sendiri (the right to self determination). Dengan hak tersebut, seorang pasien dapat terlibat dalam setiap keputusan yang menyangkut dirinya, bebas memilih untuk menerima atau menolak terhadap tindakan atau perawatan yang dikenakan padanya, mendapatkan semua informasi mengenai kesehatannya, serta bebas memilih dokter, perawat, atau fasilitas kesehatan yang dikehendaki.

Dengan hak atas informasi, kita patut untuk memperoleh informasi yang akurat dan mudah untuk kita pahami. Informasi tersebut antara lain berkaitan dengan rencana kesehatan kita, penyedia pelayanan kesehatan atau dokter yang menangani kita, maupun mengenai fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia. Termasuk didalamnya mengenai diagnosis, prosedur medis, penyakit, prognosis (kelanjutan perjalanan) penyakit, terapi/obat yang kita dapatkan, dan kondisi pasien yang lain. Kadang dokter tidak memberikan keterangan mengenai penyakit secara gamblang dengan alasan khawatir menimbulkan reaksi emosional keluarga pasien, atau berpikiran bahwa pasien tidak akan mampu memahami apa yang dijelaskan. Dengan menghindar, memutarbalikkan kenyataan, atau menghentikan pembicaraan, dokter dapat menghindari setiap konfrontasi yang tidak mengenakkan.

Untuk mendapatkan segala informasi tersebut, sebagai pasien kita harus bersikap kritis serta proaktif untuk bertanya. Di Amerika, pasien bahkan diyakinkan untuk bisa membaca tulisan dalam resep dokter jika resep tersebut ditulis dengan tangan. Akan lebih baik bila secara pribadi kita memiliki catatan tersendiri berisi riwayat setiap terapi, penyakit, maupun kelainan yang pernah kita miliki, sehingga memudahkan kita dalam mengkomunikasikan hal ini dengan dokter dan memudahkan dokter untuk membuat keputusan dengan melihat riwayat kita tersebut.

Jika kita memiliki kendala tertentu, misalnya berbicara dengan bahasa lain, memiliki kecacatan fisik maupun mental, atau sekedar tidak dapat memahami sesuatu, maka kita dapat memperoleh bantuan untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai setiap keputusan yang menyangkut kesehatan kita. Dengan hak atas informasi tersebut, berarti kita juga memiliki hak untuk mengakses rekam medis dan hak untuk memperoleh pendapat kedua. Selain untuk mendapatkan pendapat kedua kita juga memiliki hak untuk memilih dokter/Penyedia Pelayanan Kesehatan.

Keterlibatan atau partisipasi aktif dalam pembuatan keputusan yang berkaitan dengan kesehatannya juga menjadi hak bagi setiap pasien. Sebagai contoh, dokter dan pasien dapat bersama-sama berdiskusi mengenai berbagai macam alternatif untuk kelanjutan perawatan ataupun tindakan yang dikenakan padanya. Dokter dapat memberikan masukan mengenai masing-masing kelebihan dan kekurangannya, kemudian pasien memiliki hak penuh untuk mempertimbangkan dan terlibat dalam pembuatan keputusan. Informasi mengenai tindakan medis ini harus diberikan baik diminta ataupun tidak oleh pasien yang bersangkutan.

Untuk itu, dalam pelayanan kesehatan juga dikenal adanya informed consent. Informed Consent ini merupakan persetujuan pasien terhadap setiap tindakan yang dilakukan oleh dokter, baik berupa lisan maupun tertulis. Pasien juga memiliki hak untuk memutuskan dan meminta pemakaian obat generik untuk dirinya.

Jika pasien memiliki keluhan atau mengajukan komplain dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya, maka ia memiliki hak untuk didengar. Bahkan, jika terbukti hak-haknya telah dilanggar atau ia menderita kerugian karena sebuah kesalahan, maka ia pun berhak untuk mendapat ganti rugi. Selain keluhan atau komplain, pasien juga dapat mengajukan permintaan atau tuntutan, yang juga berhak untuk didengarkan.

Selain hak-hak tersebut di atas, pasien juga memiliki hak atas rahasia kedokteran (kerahasiaan informasi yang terdapat pada dirinya dan dokter), hak atas akses terhadap pelayanan darurat, dan hak untuk dihormati serta tidak mendapat diskriminasi.

Namun demikian, masih disayangkan bahwa perangkat-perangkat hukum yang kita miliki masih kurang berdaya dalam melindungi masyarakat. Pintu-pintu hukum kita masih lemah. Pasien juga masih berada di posisi yang lemah. Lebih parahnya, banyak di antara masyarakat kita yang kurang sadar hukum, kurang mengetahui hak-haknya, bahkan lebih memilih bila bersikap narimo apabila mendapatkan kerugian, pengabaian, atau pelanggaran. Kondisi ini juga kadang didukung dengan adanya posisi dokter yang sering cenderung lebih kuat. Kesenjangan pengetahuan memang sering menjadikan relasi dokter-pasien cenderung asimetris, meskipun sekarang telah mulai berkembang ke arah yang lebih partisipatoris. Terlebih dengan adanya sistem dan struktur layanan medis yang belum baik, semisal belum berfungsinya sistem rujukan, kekurangsempurnaan rekam medis, maupun belum sempurnanya sistem informasi manajemen pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan pun masih banyak dianggap lebih bersifat industrialisasi. Untuk itu, selain meningkatkan kesadaran terhadap pemenuhan hak-hak kita, kita juga menanti adanya perangkat hukum yang lebih berwibawa dan mempunyai gigi untuk melindungi hak-hak kita sebagai pasien.***

Multifungsi dan Multimanfaat Olah Raga

Olah raga bukan masalah sempat atau tidak sempat. Tapi masalah mau atau tidak mau

Kapankah terakhir kali kita berolah raga? Tadi pagi, seminggu lalu, sebulan lalu, ataukah tahun lalu ketika lomba tujuh belasanJ? Ketika saya diajak ikut bermain voli dalam rangka menyambut Milad UII (meskipun akhirnya tidak jadi karena permainan saya terlalu “parah”), saya sangat sedih ketika menyadari bahwa ternyata saya terakhir kali bermain voli sekitar 10 tahun yang lalu, yaitu ketika pelajaran olah raga di SMU! Namun demikian, saya masih sangat bersyukur karena terakhir kali saya terakhir berolah raga bukan 10 tahun yang lalu, melainkan tadi pagi, karena saya selalu menyempatkan diri untuk bersenam, baik di aerobic/fitness center maupun di rumah, baik sambil menggendong anak sekalipun.
Jika kita jarang atau bahkan tidak pernah berolah raga, kini saatnya untuk mulai melirik kepadanya dan bergerak menuju olah raga yang Anda suka. Mengapa? Karena saat ini berbagai penelitian telah banyak ditemukan mengenai khasiat mujarab dari olah raga. Terlebih, tak hanya bagi tubuh, olah raga juga merupakan aktivitas yang bergizi bagi status psikologis (jiwa), dan juga hubungan sosial kita.
Bagi tubuh, olah raga merupakan salah satu bagian dari gaya hidup anti penuaan. Artinya, jika kita rajin berolah raga, usia biologis kita (usia tubuh saat ini) tidak akan lebih tua, atau bahkan menjadi jauh lebih muda dari usia kronologis Anda (umur sekarang dikurangi tahun lahir). Olah raga juga akan meningkatkan kapasitas paru-paru Anda, membuat jantung bekerja dengan lebih baik (hal ini membereikan efek pada sistem pembuluh darah), meningkatkan HDL, menangkal radikal bebas, meningkatkan uptake oksigen ke dalam sel, dan lain-lain.
Bagi jiwa, olah raga juga memberikan efek yang positif. Selain mengalami hiperventilasi (kita jadi terengah-engah) dan hipersekresi (berkeringat banyak), pada tingkatan tertentu kita juga akan mengeluarkan semacam morfin yang diproduksi secara alami oleh tubuh, yang biasa dikenal dengan endogen morfin atau endorfin. Hasilnya, akan timbul perasaan senang, tenang, dan bahagia.
Sebagai manusia, kita tidak lepas dari masalah. Sedikit banyak olah raga juga bisa membantu seseorang berlepas dari, atau melepaskan masalah yang sedang dihadapinya. Salah seorang dokter dosen saya dahulu, misalnya, mengatakan bahwa setelah bermain badminton, ia merasa sangat puas dan rileks. Karena ketika mengayunkan raket, yang ia bayangkan untuk ia “tamplek” bukan bola, melainkan istri yang hari itu mungkin sedang memarahinyaJ, atasan atau rekan kerja yang sedang bermasalah dengannya, dll. Jadi, kita keluar dari ruangan olah raga dengan perasaan lepas dari beban masalah.
Dalam sebuah majalah online di Amerika, terdapat pula tulisan berjudul “Rahasia Lelaki yang Tidak Diketahui Wanita”, yang didalamnya dikatakan bahwa olah raga atau aktivitas hobi lain yang dilakukan suami, secara sadar atau tidak sadar bisa juga dimaksudkan untuk sejenak berlepas dari tetek bengek rumah tangga (istri dan anak-anaknya). Entah benar atau tidak menurut para laki-lakiJ. Yang jelas saya sendiri sebagai perempuan yang merasa sangat repot bekerja sambil mengasuh bayi, merasakan kesenangan yang amat sangat ketika bisa “cuti” dari pekerjaan dan anak selama 1 jam melakukan senam aerobic, dan juga karena olah raga membantu memberi saya waktu untuk mencintai diri saya sendiri.
Manfaat psikologis lainnya juga bisa didapatkan dari olah raga yang bersifat kompetisi adalah kepuasan ketika menang. Kemenangan memberikan perasaan mampu, mengatakan pada diri kita bahwa kitalah yang terbaik, dan itu juga merupakan vitamin bagi jiwa kita. Sama halnya dengan mengapa Teka teki silang menjadi begitu digemari, bahkan dalam Oprah dikatakan bahwa Bill Clinton juga sangat menyukai mengisi TTS di surat kabar. Jawabnya adalah karena ada kepuasan tersendiri setelah berfikir keras dan akhirnya kita berhasil menemukan jawabannya. Sebuah perasaan “Yes!”. Demi mengejar keasyikan bermain dan memenangkan permainan olah raga, seorang rekan saya, profesor termuda UGM yang gemar bermain tenis, bahkan menjanjikan hadiah uang 50.000 bagi lawan yang bisa mengalahkannya.
Selain untuk tubuh dan jiwa, olah raga juga memberi manfaat bagi kehidupan sosial kita. Tentu saja karena dalam berolah raga kita akan bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan, olah raga jalan kaki sekalipun, kita juga bisa bertemu dan beramah tamah dengan orang lain. Seorang teman saya, padahal ia seorang dokter, rela menjadi pemungut bola tenis demi mendapat perhatian dan kesempatan untuk mendekati seorang penting yang ia ketahui memiliki hobi bermain tenis.
Namun, sebenarnya, semua tergantung pada diri kita juga apakah akan memanfaatkan kesempatan bersilaturahim (menjalin hubungan kasih sayang) dengan orang lain atau akan melewatkannya begitu saja. Banyak juga peserta fitness center yang saya lihat datang, senam, lalu pulang tanpa menyapa siapapun. Namun, saya bersyukur karena setidaknya saya mengenal minimal 1 orang baru setiap harinya dan akhirnya mendapat banyak manfaat dari mereka dari tukar pengalaman dan obrolan yang tidak bersifat sia-sia. Selain memperpanjang umur, jaringan persaudaraan yang kita bangun akan memberikan feedback yang positif kepada kita, meskipun tidak sekarang. Karena saya percaya bahwa hidup dan hubungan sosial itu seperti menabung. Semakin banyak kita menabung, nanti kita akan menuainya sendiri, meskipun tidak kita duga. Efek sosial ini pulalah yang membuat lomba-lomba olah raga menjadi bagian yang menyemarakkan kegiatan-kegiatan besar seperti tujuh belasan, milad/ulang tahun organisasi atau institusi, dan lain-lain. Kecuali kita berolah raga sendiri di dalam rumah atau diruang tertutup, maka kita akan mendapatkan manfaat sosial dari olah raga ini. Jadi, sudah siap untuk berolah raga? Jika jawaban kita seperti ibu-ibu jamaah pengajian saya, “Ah saya kan sudah mencuci, berjualan di pasar, bekerja macem-macem, dll, itu kan olah raga juga!”. Saya katakan itu salah, karena itu tidak bisa dipersamakan dengan olah raga. Jika jawaban kita adalah “Saya tidak sempat, sangat sibuk, dll”, maka saya setuju pada ungkapan yang ditulis dalam sebuah buku karya Kathy Peel “Manajer Keluarga”, yaitu bahwa “olah raga bukan masalah sempat atau tidak sempat. Tapi masalah mau atau tidak mau.” Jadi, mengapa tidak mulai membuat prioritas waktu dan mulai berolah raga sekarang (Yogyakarta, 20 Juni 2008)

Dari Data Kesehatan Menuju Keputusan Berbasis Bukti

Pernahkan Anda melihat “operation room” dari jenderal perang di film-film? Apa yang Anda lihat? Sebuah peta dan sang jendral tengah menyusun strategi dan membuat keputusan berdasarkan apa yang dilihatnya. Lengkap dengan informasi yang dia punyai, termasuk berapa korban yang sudah jatuh di lokasi ini itu, dll. Jadi, tingkat kegentingan sebuah situasi bisa diketahui.

Lalu bagaimana dengan kita yang bergerak di bidang kesehatan atau bidang yang lain? Sudahkah kita bisa melihat peta masalah dan tingkat kegentingannya? Apakah selama ini kita sudah membuat sebuah keputusan yang tepat berdasarkan data yang kita miliki dan kita kelola dengan baik? Atau jangan-jangan kita malah tidak punya data sama sekali:-)

Itulah mengapa pelatihan “Health Data Management toward Evidence Based Dicision Making ini menjadi penting. Pelatihan ini diselenggarakan tanggal 9-13 Juni 2008 oleh Bagian IKM UGM bekerja sama dengan INWENT Capacity Building International, dan diikuti oleh teman-teman dari Aceh (puskesmas, Dinas kesehatan, dan GTZ sebagai pendukung program lanjutan).

Jangankan mengelola data dengan bermutu, seorang peserta bahkan mengatakan sumber data yang dimiliki sebagai rubbish. Laporan harian jadi mingguan, laporan mingguan jadi bulanan, bahkan ada yang ekstrim laporan harian jadi bulanan hehehe. Lalu setelah di setor ke atas, seberapa bergunakan laporan kita? Apakah dimanfaatkan secara baik? Bayangkan sebuah bagian di dinas membawahi sekian puskesmas. Sangat menarik, sebagai pembicara di hari pertama, Dr. Rossi Sanusi mengkritisi masalah penjabat (baca: bukan pejabat lho; karena kata pejabat dah mengalami penyempitan) struktural vs fungsional dalam matriks vs content lain yang terdapat dalam kepmenkes yang baru-baru ini dikeluarkan. Dr. Rossi juga menggugah peserta mengenai pentingnya Surveillance Respon system, dan bagaimana itu harus dijalankan.

Mengenai sumber data, ia dapat diperoleh secara rutin maupun non rutin. Yang rutin memiliki kekurangan karena bisa tidak mendeteksi data yang tidak ditemukan di dalam institusi. dalam diskusi yang dibimbing Dr. Dibyo Pramono, peserta mengeluhkan rujukan perolehan sumber data pun kadang masih berbeda-beda. Tengok saja data mengenai jumlah orang miskin. Lain sumber lain pula jumlahnya, itupun belum 100% tepat sasaran. Yang lebih lucu lagi, ada bupati yang menghendaki jumlah penduduk tertentu melebihi jumlah yang ditemukan di lapangan, rupanya agar mendapatkan dana anggaran yang lebih banyak. Maka ketika terjadi perbedaan tersebut, menjadi pertanyaan kita akan ikut yang mana? Mau yang legal (diakui yang berwenang) walau salah atau yang kita temukan di lapangan yang valid? Contoh yang bagus ditunjukkan oleh beberapa teman di aceh dimana mereka bisa meng-update data penduduk secara valid dan up to date melalui upaya aktif dan jemput bola dari bidan desa yang mengumpulkan informasi kelahiran dari berbagai sumber. Tepuk tangan dongJ

Setelah data dikumpulkan, dilakukan proses analisis data melalui berbagai macam metode riset. Perlu diingat, bahwa dalam menentukan metodologi yang akan kita gunakan dan besar sample, kita harus berkaca pada resource yang kita miliki. Resources artinya KUAT (kesempatan, uang, alat, dan tenaga). Misalnya bagaimana kita menentukan cakupan imunisasi. Kalau tidak punya resources berarti kita tidak KUAT J. Oleh karena itu kita harus merumuskan konsep dan formula yang terbaik. Kemudian, hasilnya kita sajikan secara apik sehingga memudahkan kita melihat peta masalah dan menentukan prioritas. Pemetaan masalah kesehatan dunia milik WHO yang ditunjukkan Dr. Dibyo menjadi contoh yang baik untuk hal tersebut.

Langkah-demi langkah dalam melakukan manajemen data menjadi semakin jelas pada hari ketiga. Pertama, kita melakukan analisis situasi. Kedua, kita membuat Plan of Action. Disini, proses yang harus kita lakukan adalah FOCUS PDCA (Find, Organize, Clarify, Uncover, Start, Plan, Do, Check, dan Act). Dalam menemukan masalah, ternyata penyakit yang menempati posisi tertinggi (terbanyak) belum tentu menjadi prioritas utama dalam pemecahannya. Itulah kesimpulan yang tampak dari latihan yang dilakukan oleh peserta dengan menggunakan data asli yang dibawa peserta dari Aceh. Karena ternyata banyak hal yang menjadi pertimbangan dalam penilaian, yang antara lain dilakukan dengan menggunakan scoring technique. Yaitu dengan menentukan skor masing-masing terhadap setiap aspek yang kita nilai dari hal tersebut.
Namun demikian, dalam melakukan aksi dari rencana yang telah kita buat, kita terkadang memiliki resources yang terbatas, oleh karena itu penting bagi kita untuk melakukan advokasi, yaitu tindakan mengumpulkan support/dukungan dari berbagai pihak agar aksi yang kita rencanakan bisa berjalan baik dan tujuan yang kita inginkan dapat tercapai. Dengan sumber data yang bisa diandalkan serta pengelolaan data yang profesional, dan itu semua menjadi dasar dari keputusan, insyaAllah keputusan yang dibuat akan menjadi keputusan yang bermanfaat, mengatasi masalah, dan membawa kebaikan bersama.***

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP