24 November 2009

Jurnal Internasional: Bagaimana Menulis dan Menembusnya?

Ketika ada pohon besar tumbang di tengah hutan lebat di rimba raya, maka jika tidak ada yang memberitakannya/berbagi tentangnya, tidak akan ada seorang pun yang akan tahu. Demikian pula hasil penelitian atau ide-ide dan gagasan kita. Kalau orang lain saja tidak tahu, bagaimana ia akan bisa dimanfaatkan? Itulah mengapa publikasi menjadi penting, terlebih publikasi Internasional. Tidak hanya itu, publikasi international juga merupakan syarat proffessorship dan kriteria reputasi international untuk menuju World Class University. Untuk itulah, hari ini DPPM (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Univ. Islam Indonesia mengadakan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi Internasional Tahap II. Senang bisa berkumpul dengan teman-teman dosen dari seluruh Indonesia, para pemenang hibah penelitian, dan berdiskusi bersama pembicara yang telah mempunyai  reputasi internasional, telah menulis banyak (puluhan) di jurnal International, menjadi International lecturer, international journal editor, dll. (Mupeng mode *on* hehehe). Setiap naskah direview dan kami bahas bersama-sama.

Berikut ini peta pikiran yang saya rangkumkan dari yang dibicarakan oleh Prof Sri Juari Santosa (Kimia UGM).

Presentasi Prof Sri Juari Santosa selengkapnya bisa dilihat disini
Daftar Pengalaman Prof Sri Juari  dapat dilihat disini
Presentasi Pak Nor Ichwan, PhD (UIN) dapat didownload disini.

A lot of comments, questions, and ideas to be typed, tapi mata saya tampaknya sudah tidak mampu menulis lagi. Intinya, kita bisa melihat panduan yang dimiliki oleh masing-masing jurnal tersebut, mengikuti selingkungnya, dan mencoba belajar dari jurnal-jurnal yang sudah termuat di sana. Next tips, question and answers, will be continued on the next post..

Here is my map:


04 Oktober 2009

Angka Kematian, Prevalensi, dan Estimasi Kejadian Penyakit Lainnya

Here is my map



Outline form:

ESTIMASI KEJADIAN PENYAKIT
I. Indikator Morbiditas
A. Insidensi
1. rumus:
a) (kasus baru/individu berisiko) x 1000
2. macam
a) cummulative incidence
(1) tiap individu di denominator di follow up smp akhir periode waktu
b) incidence rate
(1) individu di denominator tidak diobservasi scr penuh
(2) tiap indiv punya periode obs berbeda
(3) sering diekspresikan dalam bentuk person year
B. Prevalensi
1. rumus:
a) (jumlah kasus/total individu di populasi) x 1000
2. macam
a) point prevalence
(1) pada satu titik waktu tertentu
b) period prevalence
(1) berapa banyak individu yang pernah kena penyakit kapan saja selama periode waktu ttt
II. Indikator Mortalitas
A. Mengapa mortalitas?
1. indeks beratnya masalah kesehatan
2. indeks risiko penyakit
terutama peny. fatal
(1) angka fatalitas kasus tinggi
(2) durasi penyakit pendek
B. rumus
1. Angka kematian
a) (total semua kematian setahun /total populasi di pertengahan tahun) x 1000
2. Angka kematian spesifik/khusus
a) misal menurut umur
(1) (total kematian anak < 10 th dalam 1 th / jumlah populasi < 10 th pada pertengahan tahun) x 1000
3. Case Fatality rates (CFR)
a) (jumlah yang mati dlm wkt ttt krn penyakit ttt /jumlah individu yang terkena penyakit) x 100
4. Proportionate Mortality
a) (jumlah kematian karena penyakit ttt 1 tahun/ jumlah semua kematian dalam 1 thn) x 100
III. DALY
Disability Adjusted Life Year
mengukur:
1. tahun hidup yang hilang
a) (lebih buruk meninggal umur 5 tahun daripada umur 70 tahun)
2. tahun hidup dengan kecacatan/disabilitas
3. kehilangan yang bersifat ekonomi/sosial

02 Oktober 2009

Penelitian Observasional untuk Penelitian Epidemiologi: Peta Pikiran, Questions and Answer



Penelitian epidemiologi sering merupakan penelitian observasional. Bukan hanya penelitian case control dan cohort lho.. Tapi dunia ini ternyata lebih luas:-), sehingga pilihan desain amatlah banyak
Contoh macam-macam penelitian observasional dapat dilihat pada gambar peta berikut ini:




Dari berbagai macam-macam jenis penelitian observasional tersebut, manakah yang paling baik?
Jawabnya adalah tergantung dari tujuan kita, yaitu untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Pengolahan data surveilans selama beberapa tahun, apakah juga bisa disebut observasional?
Ya, bisa. Kalau dilihat dari peta diatas, itu merupakan penelitian observasional deskriptif jenis case report.
Jika hanya satu variabel saja apakah juga bisa dan bagus?
Satu variabel saja bisa juga bagus. Contohnya Prevalence survey RKM (Kalau ngak salah singkatannya riset kesehatan masyarakatJ).
Almarhumah Bu Nanis, teman saya dari dinkes propinsi jogja, mendapatkan nilai memuaskan untuk tesisnya yang “hanya” membahas secara kualitatif sebuah investigasi KLB. Seandainya kita bisa menunjukkan orisinalitas, why not? Itu luar biasa..
Apakah migrant studies itu?
Jenis migrant studies ini biasanya digunakan dalam menganalisis para migran (Cina, India, Jepang). Misalnya di Amerika Serikat, Kanker hidung dan kerongkongan (Ca Nasopharynx) ditemukan memiliki faktor keturunan (Jepang dan Cina). So, yang penting dapat memberikan sebuah wawasan baru..
Bagaimana dengan case report?
 Di kedokteran, tradisinya para dokter belajar dari kasus. Jadi, awalnya case report saja sudah dianggap hebat. Hanya saja, setelah dikumpulkan, harus dianalisis secara deskriptif, kemudian disimpulkan. Ini cara yang kuno, tapi sampai saat ini belum dibuang.
Bisakah penelitian cohort untuk penyakit?
Kita lebih sering menggunakan case control untuk mendapatkan asosiasi hubungan. Tapi terkadang tidak bisa karena keterbatasan jumlah kasus. Sebenarnya semua bisa saja sih. Namun, pertimbangkan juga apakah cukup efisien? Misalnya, masak penelitian yang mahal dan lama kok hanya untuk commoc cold hehehe. Karena sesungguhnya semua penelitian membutuhkan 3 faktor penting: Money, Time, dan Human Engagement.


Bagaimana dengan penelitian ekologi atau korelasi?
Ya, memang banyak penelitian ekologi dan korelasi yang dikritik karena walaupun menghasilkan faktor risiko, namun unit analisisnya bukan individu melainkan kolektif/agregat. Pernah ada penelitian ekologis (tesis teman) yang dapat A juga lho. Unit analisisnya adalah desa-desa, yaitu antara desa yang memiliki vegetasi jagung dengan desa yang memiliki vegetasi padi. Tapi yang di desa yang bervegatasi padi, toh ada juga yang punya jagung, dan nyatanya  juga terkena (penyakit?). Here’s is the critic. Seandainya hasil penelitiannya berarti, saya pikir gak ada salahnya kok.
Contoh lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh sosiolog Emile Durkheim yang meneliti agregat etnik di Perancis (Katolik, Yahudi, Protestan). Bunuh diri ditemukan terdapat terutama pada Yahudi dan Protestan. Dalam analisisnya, itu disebabkan karena kehidupan Yahudi dan Protestan adalah kehidupan “struggle” sedangkan pada katolik adalah kehidupan komunitas.
Kalau cross-sectional?
Pada penelitian cross sectional, analoginya adalah kita sedang memotret. So, whatever your condition is. Batasan waktu sesaat bukan berarti sekian detik lho, tapi dalam periode waktu tertentu.  Jadi, bisa orang yang sama yang diwawancarai jam 7 dan jam 3, atau di lab sekarang dan nanti. Inilah yang didapat.
Prinsipnya adalah kita mengambil informasi pada keadaan yang tidak memperhitungkan sesuatu mengandung faktor/penyebab karena lebih dulu daripada yang lain. Misalnya nih:
-          Berapakah indeks massa tubuh Anda sekarang? (Tidak diperhitungkan bila sebulan yang lalu indeks Anda tidak normal)
-          Apakah Anda memakai baju biru? (Tidak perduli apakah memakai baju birunya karena habis dicukur atau sebaliknya). Baru kemudian annti dalam analisis kita bisa menemukan apakah ada hubungan antara dicukur dengan memakai baju biru.
Contoh lagi, ada seorang dokter di jerman meneliti hubungan antara campak dengan kebutaan anak, mana yang lebih dulu? Untuk lebih kuat menggambarkan hubungan, kemudian dilakukan penelitian case control. Tapi tetap harus mencari asosiasi!!!
Jadi, jika kita lihat dalam peta diatas, kelompok yang dibawah (analitik) bisa dianalisis sesederhana di atas (deskriptif). Akan tetapi, kelompok yang di atas (deskriptif) tidak bisa dianalisis dengan yang di bawah.
Pada cross sectional, ketika kita menemukan hubungan, ya cuma itu saja. Tidak bisa kita mengatakan adanya faktor (misalnya warna baju disesuaikan dengan panjang rambut).

Semua penelitian ini kan membutuhkan data. Sebenarnya apa sih data itu? Apa bedanya dengan fakta?
“Pak gik ini orangnya tinggi, kulitnya hitam dan berkumis” ini fakta/atau data? Ini fakta.
Kalau “tempat pensil ini warnanya biru” atau “ gajah telinganya lebar”, ini fakta/atau data? Ini fakta!!
Tapi kalau saya bertanya/wawancara, nama Anda siapa? Umur berapa? Jenis kelamin?, dll..
Apa yang saya lakukan? Ini adalah untuk tujuan tertentu, fakta-fakta tertentu dimasukkan ke dalam record. 
Jadi, pada data, ada tujuan dan pengumpulan dilakukan secara sistematis.
Di Belgia, dikumpulkan 15 ribu gajah (patung) sehingga dari badan gajah bisa digambar peta, putri duyung, dll. Kalau saya mencatat gajah-gajah ini bagaimana, ini bisa dikatakan saya sedang mengumpulkan data gajah.
To be continued....

Biostatistika: Latihan Soal Ujian FETP UGM


December 2008 from drg. Dibyo Pramono, SU, MDSc

1.       Suatu Penelitian dilakukan untuk mengetahui rata-rata berat badan balita suatu populasi. Untuk keperluan itu, diambil sebuah sampel yang berukuran 100 balita. Dari pengukuran terhadap sampel, diketahui bahwa rata-rata berat badan sampel adalah 10,8 kg dengan simpangan baku 2,8 kg. Jika rata-rata populasi diestimasi dengan suatu interval kepercayaan 10,2 < ยต < 11,3, berapakah tingkat kepercayaan estimasi ini?
2.       Suatu penelitian dilakukan untuk membandingkan keandalan (efficacy) 2 macam pengobatan untuk malaria falciparum, yaitu Artesunate (Art) dan kombinasi Quinine + Tetrasiklin (QT). Salah satu variabel yang diamati adalah fever clearance time. Masing-masing obat diberikan kepada 10 orang penderita. Datanya adalah sebagai berikut (dalam satuan jam):
Nomor                  Art                          QT
1                              20                           23
2                              18                           24
3                              17                           25
4                              15                           27
5                              21                           16
6                              23                           17
7                              22                           25
8                              24                           18
9                              25                           19
10                           27                           20

Bagaimana kesimpulan peneliti?
3.       Tentukan skala pengukuran variabel-variabel di bawah ini:
a.       Jenis hepatitis
b.      Katagori pengobatan dalam program P2 TB paru
c.       Kepadatan parasit
d.      Time lapse pengobatan penyakit malaria
e.      Kadar retinol serum
f.        Fever clearance time
g.       Periodisitas filaria
h.      Body Mass Index
i.         Jenis vektor malaria
j.        Curah hujan
k.       Status konversi dahak
l.         Titer Ig G
m.    Status ANC (Ante Natal Care)
n.      Paritas
o.      Persepsi ibu terhadap tetanus neonatorum
p.      Lingkar kengan atas (LILA)
q.      Usia kehamilan
r.        Status imunisasi
s.       Status resistensi terhadap chloroquine
t.        Status sosial ekonomi
4.       Seorang ahli epidemiologi lapangan melakukan suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata tekanan darah sistolik antaara mereka yang tidak merokok, merokok 1-10 batang, serta merokok lebih dari 10 batang sehari. Hasil penelitiannya dianalisis dengan menggunakan program SPSS release 15. Print out hasil analisisnya disajikan dalam tabel ini.
a.       Rumuskan hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya
b.      Tetapkan kriteria ujinya
c.       Rumuskan kesimpulan penelitian ini

Metodologi Penelitian: Latihan Soal Ujian FETP UGM


December 2008 from dr. Hari Purnomo Kushadiwijaya, MPH, DrPH
Write a brief study proposal (3-5 pages):
-          Find an epidemiologic problem from real life in any sources, use it as your background
-          Formulate the research problem and the objective of study
-          Write a literature review, include at last three international journal epidemiologic research articles
-          Build a theoretical foundation followed with the conceptual framework of the study
-          Formulate hypotheses if there are any
-          Write the methodology, from design to analysis plan
Catatan pemilik Blog:
Untuk hasil terbaik,
-          Masalah penelitian benar-benar dari masalah di kehidupan nyata
-         Dalam tinjauan pustaka, jangan hanya semacam “menempel-nempel” atau menuliskan kembali dan menyusun dari gagasan-gagasan dalam artikel jurnal yang dirujuk. Kebanyakan mahasiswa masih demikian.  Jadi sebaiknya, ada proses dan ada tulisan mengenai analisis kita terhadap rujukan-rujukan tersebut.

23 Agustus 2009

Mencegah Jerawat: Bagaimana Caranya?

Rubrik Syakwa (Konsultasi Kesehatan) Majalah Shaffatul Aisyiyah

Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Cairo Mesir


Pembaca says:

Dok, kenapa sih bisa timbul jerawat? Gimana cara mencegahnya?

dr. Maftuhah Nurbeti says:

Kebanyakan kita selalu berfikir tentang ‘benjolan/bintil di muka’ ketika ada yang menyebut kata jerawat. Padahal bintil-bintil atau bentol-bentol di muka ada macam-macam lho. Jerawat sih hanya masalah kosmetik saja, dalam arti tidak ada kelainan fisik yang berarti. Hanya, kadang masalah jerawat bisa mempengaruhi perasaan kita terhadap diri kita sendiri, yang bisa menyebabkan penurunan percaya diri atau bahkan depresi. Apalagi para remaja. Tapi sepertinya pembaca SA bukan remaja lagi, kan? hehehe


Nah
, semua jerawat ini berawal dari suatu lesi/jejas di kulit yang banyak dikenal sebagai komedo. Komedo sendiri sebenarnya merupakan saluran dari kelenjar minyak yang tertutup oleh minyak, sel-sel kulit yang sudah mati, maupun bakteri. Komedo yang tidak tampak oleh mata ini, dengan tenangnya menunggu di bawah permukaan kulit kita sampai ada kondisi tertentu yang mendukungnya untuk tumbuh menjadi jejas yang meradang. Oleh karena itu, kemudian kita mengenal ada komedo berkepala putih (tertutup kulit) atau yang berkepala hitam (kotor dan tidak tertutup kulit)


Faktor pendukung
komedo bisa macam-macam, misalnya asam lemak bebas yang oleh bakteri dibuat dari minyak kita, penurunan bagian minyak tertentu yang membuat fungsi pembatas kulit menjadi berkurang dan lebih berongga, peningkatan hormon seks, rusaknya kantong rambut kulit karena trauma misalnya ditekan-tekan secara berlebihan, cuci muka yang abrasif, peeling kimia, atau sekedar adanya minyak yang sulit kering yang ‘menyodok’ dinding kantong.

Komedo bisa juga diperparah oleh kondisi kulit yang overhidrasi (baca: basah. kadang ada yang sampai kilong-kilong. Awas dikira jualan minyak lho hehehe) misalnya menjelang mens, pemakaian pelembab, atau kondisi tropis. Bisa juga oleh karena adanya kontak dengan zat-zat tertentu yang terkandung dalam kosmetik.


Pengaruh make up
atau kosmetik tidak terlalu penting, karena sebagian besar kosmetika di pasaran biasanya bersifat non-komedogenik alias tidak akan menyumbat pori-pori kulit kita. Jadi, ketika membeli kosmetik, pastikan produk tersebut non-komedogenik, bebas minyak atau berbasis air, dan tidak membuat alergi. Namun demikian, Kosmetik yang paling baik sekalipun, kalau digunakan dalam aktivitas yang berat atau sibuk, misalnya saat olah raga, bisa saja jalan-jalan di kulit dan masuk ke dalam kulit. Jadi lebih baik tidak memakai kosmetik saat olah raga.


Paparan sinar matahari tidak akan membantu jerawat kita. Awalnya sejumlah kecil paparan sinar matahari dapat memperbaiki rupa dari jerawat. Noda jadi tidak kelihatan karena kuit menjadi lebih gelap. Sebaliknya, paparan sinar matahari yang lama akan mengakibatkan pori tersumbat karena pengelupasan sel kulit mati akan lebih cepat. Terlalu lama terpapar sinar matahari juga bisa mempergelap hiperpigmentasi (penggelapan warna kulit) setelah radang. Semakin lama terpapar sinar matahari, maka kemungkinan kulit menjadi rusak dan jerawat yang membekas akan semakin meningkat.


Jadi resep untuk mencegah komedo adalah:

1) mencuci muka secara benar (1-2 kali sehari),

2) menjaga diri dari produk kosmetik berminyak

3) berhati-hati dalam facial (kalau petugasnya terlalu antusias malah merusak),

4) menggunakan make up berbasis air,

5) jangan menopangkan dagu di tangan atau jangan menyentuh muka tanpa tujuan yang benar, (apalagi nguthek-uthek jerawat),

6) lindungi muka dari matahari (misalnya pake topi, payung, atau sunscreen),

7) jangan terlalu mengkhawatirkan diet (makan aja tuh coklat, kacang, dll yang tidak terbukti mempengaruhi jerawat. Kecuali kalau kita sendiri mencermati ada hubungan antara yang kita makan dengan semakin banyaknya jerawat),

8) menjaga diri dari yodium (meski masih kontroversial, tapi beberapa dokter mengatakan bahwa iodium, misalnya yang ada pada garam mendukung adanya jerawat)


Oke, semoga bermanfaat yaaa


AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP