09 Januari 2009

10 Hikmah Berkesan dari Proyek Lapangan Epidemiologi di Dinas Kesehatan

Ikatlah makna dengan menuliskannya

Rekor baru jarak tempuh mengendarai motor hari ini telah saya pecahkan lagi. Total jarak tempuhnya adalah 100 km. Mungkin sedikit bagi orang lain, namun bagi saya itu sudah cukup spektakuler. Jarak tersebut saya tempuh dari rumah saya di Sleman, menuju Bantul, kemudian Wates Kulonprogo, dan kembali kerumah. Hal tersebut saya lakukan karena saya harus bertemu untuk kulonuwun dengan pembimbing akademis dan pembimbing lapangan, dan pejabat dinas kesehatan setempat guna melakukan kegiatan proyek lapangan.

Namun, yang terpenting bukan jarak, melainkan hikmah/makna-makna yang saya dapatkan dari obrolan-obrolan dengan mereka. Dan saya menuliskan hikmah itu disini, hanya untuk mengikatnya.

Dari diskusi dengan Ibu Baning, M. Kes, dan drg. Maya, MM saya mendapatkan catatan dan kesimpulan antara lain:

  • · Sukses berangkat dari rencana/target yang terjadwal

Tidak hanya sukses akademis, nampakya saya setuju bahwa agar sukses dalam hal apapun, kita harus memiliki planning dan target yang jelas. Tentu saja hal tersebut harus disertai dengan komitmen yang kuat untuk melaksanakan apa yang telah kita rencanakan. Semangat mencapai tujuan inilah yang membuat kita lebih bertenaga mampu mengatasi berbagai gangguan.

  • · Segala hal yang kita lakukan hendaklah bertujuan dan diniatkan sebagai bagian dan proses pembelajaran

Maka jika ada beberapa tugas atau pekerjaan yang dapat dipilih, saya akan memutuskan untuk memilih yang memberikan kesempatan paling besar bagi saya untuk bisa belajar lebih jauh. Sementara itu, setiap proses-proses kecil yang saya jalani akan saya niatkan sebagai proses belajar. Bukankah sayang jika kita telah menghabiskan waktu dan tenaga, dan jauh keluarga, namun pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa, atau dapat tapi tidak maksimal. Jika dua tiga pulau bisa terlampaui sekaligus, mengapa tidak?

  • · Masih banyak pandangan sempit bahwa epidemiologi lebih banyak berurusan dengan penyakit tidak menular.

Padahal, lebih luas dari itu, epidemiologi juga berurusan dengan penyakit tidak menular maupun masalah-masalah kesehatan yang lain, termasuk KDRT misalnya. Jadi, menjadi tugas kita untuk meluruskan pemahaman yang masih salah ini dan menyajikan epidemiologi sebagai sesuatu yang lebih luas.

  • · Bahwa tesis adalah untuk digunakan mengatasi masalah kehidupan, bukan untuk mengisi almari perpustakaan
  • · Bahwa sebagai lulusan S2 kita harus memiliki nilai plus dibandingkan S1, kedalaman analisis yang berbeda sehingga ilmu dasar yang didapatkan hendaknya dapat diterapkan dalam semua bidang kehidupan, di luar kotak keilmuannya saja. Karena ilmu yang sesungguhnya adalah apabila ia bisa bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan.

Sebagai lulusan S2, keunggulan kita adalah kita seharusnya akan mampu untuk menganalisis persoalan secara lebih mendalam, dengan pertimbangan pada aspek-aspek yang lebih luas. Aspek teknis dan non teknis misalnya. Jangan terjebak hanya pada hal-hal yang bersifat teknis. Berapa banyak permasalahan kehidupan yang lebih banyak melibatkan aspek non teknis. Tidak usah jauh-jauh, hambatan dalam proses studi saja, biasanya lebih banyak datang aspek non teknis, kan?

  • · Small is Beautiful.Tidak usah berfikir yang muluk-muluk. Tidak usah berfikir kita akan melakukan sesuatu untuk se-Indonesia. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk
  • · Kebahagiaan diri datang dari kebahagiaan orang lain.

Bantu, bantu, bantu, dan senangkan orang-orang di sekitar kita sebisa kita, niscaya kita akan jadi orang yang bahagia di atas kebahagiaan orang lain dan juga orang yang ringan tangan. Tapi kegiatan menyenangkan orang lain ini harus yang tulus lho, bukan acting belaka. Dan juga tidak dengan mengorbankan diri kita.

  • · Hendaknya kita pandai-pandai mengenali potensi diri, dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan nilai maksimal yang bisa kita usahakan.

Jika kita gagal menilai diri kita, maka jangan-jangan kita hanya memberi 40 padahal kita mampu untuk 80. Sebaliknya, jika kita hanya punya mampu untuk 80, jangan ngotot untuk melakukan 100, bisa-bisa kita jatuh terkapar hehehe

  • · Jadilah orang yang cerdas, jangan hanya jadi orang pintar.

Orang pintar bisa minteri. Orang pintar bisa jadi karena telaten saja. Orang pintar bisa hanya memiliki nilai yang tinggi di atas kertas saja. Orang pintar bisa berdiri di atas teori belaka. Tapi orang yang cerdas mempunyai sensitifitas yang tinggi terhadap permasalahan yang ada di depannya dan mampu untuk segera memecahkannya.

  • · Hendaknya kita memiliki loyalitas

Loyalitas bukan berarti kita tetap berpegang pada sesuatu apapun kondisinya (baik atau buruk). Akan tetapi, loyalitas pada diri, adalah keteguhan untuk tetap memegang prinsip-prinsip yang kita yakini dan senantiasa bergerak mengikuti perubahan yang terjadi. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri.

  • · Allah mengetahui segala yang terbaik untuk kita dan hendaknya kita senantiasa bersyukur untuk itu.

Inilah yang diberi Allah padaku. Disinilah saya ditempatkan dan saya yakin ini yang terbaik untuk saya. Whatever, saya menerima dan selalu bersyukur karenanya.

Oke. Semoga kesuksesan menyertai kita semua. Amin.

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP