14 Januari 2009

Demam Berdarah Dengue: Belajar dari Pemberantasan Sarang Nyamuk di Kabupaten Bantul

Penyakit Demam Berdarah banyak dikatakan sebagai risiko bagi negara berkembang maupun negara maju sekalipun. Selama 20 tahun terakhir, insiden wabah penyakit demam berdarah terus meningkat dan transmisi hiperendemik telah terjadi dan melintasi wilayah geografis yang luas.

Di Indonesia sendiri, penyakit demam berdarah juga masih menjadi persoalan yang serius. Dapat dibayangkan, misalkan yang pernah terjadi pada tahun 2004, dalam waktu tiga bulan (januari-maret) saja telah terjadi total 26.015 kasus di seluruh Indonesia, dengan 389 korban meninggal. Tahun ini pun jumlahnya masih cukup tinggi.

Patut disayangkan, pendekatan pemberantasan sarang nyamuk sering tidak berhasil. Hal ini terutama karena strategi tersebut membutuhkan bangunan kesadaran yang kuat pada diri masyarakat untuk menjaga lingkungannya serta membangun kebiasaan yang memberi efek positif bagi kesehatannya.

Mengetahui persoalan ini, dan juga karena penyakit demam berdarah menjadi prioritas di Kabupaten Bantul, Bupati Bantul memiliki political will yang kuat untuk menghimpun partisipasi komunitas dalam pemberantasan sarang nyamuk. Setiap jumat dua minggu sekali, ia menggerakkan kepala-kepala dinas di wilayah kabupaten Bantul untuk berkeliling bersama terjun langsung ke masyarakat, bersama-sama dengan tim dari kecamatan dan dusun berkunjung dari rumah ke rumah memberi contoh dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara langsung. Selain melakukan PSN, mereka juga mensosialisasikan Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS), mencari adanya kehamilan risiko tinggi, dan melakukan sosialisasi isu lain, misalnya kebijakan kependudukan yang baru, dan lain-lain.

Seandainya strategi ini berhasil untuk membangun kesadaran masyarakat melakukan PSN, maka hal ini juga akan memberi cost effectiveness pada pembiayaan penanggulangan penyakit demam berdarah. Selama ini, penyakit demam berdarah menyabot biaya yang paling besar. Dapat dibayangkan, untuk sekali fogging (pengasapan) saja, biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp5 juta. Maka apabila pada 2007 terdapat 578 kasus demam berdarah, dilakukan fogging sebanyak 578 kali. Selain itu, anggaan juga dikeluarkan untuk membayar orang yang mengawasi perkembangan jentik di setiap wilayah RT. Di Bantul, terdapat 2.465 RT yang menjadi prioritas utama pengawasan terhadap jentik. Pengawas jentik ini mendapat bayaran sebesar Rp20.000 per bulan, jumlah yang sebenarnya masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jasa pengawasan yang dilakukannya.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membangun partisipasi komunitas untuk melakukan 3M plus (menutup, menguras, menimbun plus memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat).

Hari ini saya senang bisa terlibat dalam gerakan tersebut bersama dengan pak Idham dan kepala-kepala dinas yang lain. Dan saya berdoa semoga langkah ini berhasil dan bermanfaat.***

NB: Alhamdulillah, angka DHF tahun 2008 lalu di Bantul lumayan sudah agak turun:-) Meskipun perlu diteliti lebih lanjut apakah ini efek dari Gertak PSN, program pemberian reward, atau karena kebetulan saja hehehe:-)

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP