06 Januari 2009

Mengapa Belajar Epidemiologi? Karena Malu dan Sedih!

Sambil menunggu di fotokopian, saya berdiskusi dengan seorang teman tentang alasan mengapa kami merasa tergoda untuk memilih dan merasa harus belajar epidemiologi. Ternyata, jawabannya hanyalah dilandasi oleh dua perasaan, yaitu rasa malu dan rasa sedih.

Pertama, rasa MALU. Alkisah, ketika zaman koas dahulu, ada rombongan dari Belanda yang hendak melakukan penelitian di Purworejo. Si mahasiswa kedokteran tersebut bercerita tentang ketertegunannya karena sebelum ia ke Indonesia ia harus makan pil malaria, mendapatkan vaksin hepatitis, dan serta mendapatkan warning akan TB yang angkanya masih tinggi di negara kita serta peringatan bahwa musim DHF sebentar lagi. Dia bahkan kaget bukan main ketika diberitahu jumlah korban DHF yang telah mencapai angka 300 dan bahwa DIY adalah daerah endemis. Dia juga menunjukkan ekspresi takut ketika digoda bahwa koas Indonesia disebelahnya. Ya Allah, rupanya bagaimana penularan DHF dia juga tidak tahu hehehe. Maklumlah, penyakit infeksi seperti DHF itu tergolong purba dan langka di negara-negara maju. Aduh, betapa malunya mendengar kenyataan tentang parahnya kondisi Indonesia.

Beberapa hari lalu saya juga melihat di metro TV sebuah liputan yang dimuat di TV terkenal amerika, yaitu tentang fenomena gizi buruk di negara kita, khususnya di NTT . Betapa malunya menyaksikan itu semua, padahal negara kita merupakan daerah lumbung yang memiliki persediaan yang cukup. Ternyata dikatakan bahwa salah satu biang keroknya adalah masalah koordinasi yang buruk. Duh malunya...

Alasan kedua, adalah SEDIH. Siapa yang tidak sedih melihat pasien-pasien yang sudah berada pada kondisi terminal, seperti stroke, kanker, dll dimana tak banyak lagi yang nampaknya bisa kita lakukan. Mereka saya temui tidak hanya di setting klinis, tapi juga di lingkungan lain seperti tetangga, paman-paman dan bibi saya, teman kerja, dan lain-lain. Siapa yang tidak sedih melihat bayi berkulit putih yang baru saja lahir dan tidak bernyawa, hanya karena Antenatal care yang tidak benar? Siapa yang tidak sedih menyaksikan seorang teman berusia 30 tahun harus meninggal dunia karena stroke dan meninggalkan 4 orang anak yang masih kecil? Saya juga menyesalkan kematian muda Bpk Yasri Sulaiman, seorang tokoh di primagama group dan trainer hebat, kemudian Mansour Fakih yang pelatihan dan buku-bukunya saya kagumi, pun dosen UGM yang meninggal di usia produktif.

Akan lain ceritanya bila ada sistem kesehatan dan kesadaran masyarakat yang baik, yang bisa mendeteksi gangguan/masalah kesehatan sedini mungkin. Akan lain juga ceritanya apabila setiap orang mengenali faktor risiko dan melakukan serangkaian langkah pencegahan. Para SDM di bidang kesehatan juga bisa bekerja keras melakukan serangkaian langkah untuk mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan tersebut.

Bahwa setiap orang akan mati/menemui ajalnya, itu memang pasti dan merupakan takdir dari Allah. Menurut Siswant o Agus Wilopo, yang menjadi masalah adalah jika kematian itu terjadi secar prematur oleh hal-hal yang sebenarnya kita bisa berusaha untuk mencegahnya. Misalkan kematian bayi yang merupakan kematian prematur, atau kematian mereka yang masih produktif sepeti yang saya ceritakan di atas. Prof Gufron, dekan FK UGM dan direktur Gadjah Mada Medical Center, menyebutnya sebagai mencegah kematian-kematian yang tidak perlu.

Setelah saya pikir-pikir, alasan malu dan sedih ini ternyata bisa juga kita gunakan untuk belajar bidang-bidang yang lain. Karena ternyata di Indonesia ini masih banyak fakta-fakta yang memalukan dan menyedihkan sehingga meminta kita untuk terus belajar. Misalkan, kita yang belajar tentang pembiayaan dan jaminan kesehatan, juga bisa dilatarbelakangi oleh rasa sedih karena banyak orang sakit atau meninggal hanya karena mereka miskin, tidak bisa mendapatkan pengobatan yang tepat karena miskin, atau mereka yang tidak miskin namun mudah menjadi miskin ketika sakit karena biaya kesehatan mahal (SADIKIN=sakit sedikit miskin hehehe). Akan lain ceritanya bila kita memiliki sistem jaminan kesehatan yang bagus.

Oke. Mari Belajar! Agar Indonesia ini tak lagi memalukan dan menyedihkan!

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP