15 Januari 2009

Sudah Aman dan Tidak Berlebihankah Penyuntikan Kita?

Akhir bulan lalu, saya terlibat dalam penelitian yang dilakukan oleh Litbang Depkes mengenai Injection Safety. Latar belakang dari penelitian ini adalah adanya kenyataan yang bahwa di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih banyak yang tidak aman dan berlebihan. Sebagai contoh, penggunaan kembali alat injeksi tanpa adanya sterilisasi terdapat sekitar 15-50%. Sementara itu, sebuah survey pernah menunjukkan bahwa persentase kunjungan rawat jalan yang mendapat penyuntikan adalah sebesar 96%. Sementara itu, ada fenomena lain lagi di Indonesia, yaitu adanya oknum yang punya akses terhadap pembuangan spuit injeksi dan menjualnya lagi ke pasar tertentu dalam kemasan spuit injeksi aspal (asli tapi palsu).

Tak heran tingkat penularan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui jarum suntik seperti Hepatitis B, Hepatitis C, maupun HIV, juga masih tinggi di Indonesia. Padahal, ada tiga pihak yang mestinya bisa terlindungi dari risiko penyuntikan yang tidak aman ini, yaitu pasien, tenaga kesehatan itu sendiri (misalnya risiko tertusuk jarum), maupun komunitas/masyarakat.

Selama mengambil data dan melakukan observasi di puskesmas, rumah sakit swasta, dan rumah sakit pemerintah di sebuah kabupaten, saya mendapatkan banyak kesimpulan. Di puskesmas-puskesmas tampaknya kemanan penyuntikan sudah cukup baik, dalam arti penyuntikan untuk pasien rawat jalan hampir tidak ada, meskipun pihak penyuntik saat imunisasi jugamenyatakan bahwa mereka masih menggunakan ulang jarum suntik jika persediaannya habis. Mungkin ini karena memang keamanan penyuntikan ini telah menjadi program dari depkes pusat selama 1-2 tahun ini dan ada pembinaan terus menerus dari dinas kesehatan. Ini terlepas dari hal negatif disisi yang lain, seperti ketiadaan dokter dan bahkan (yang membuat saya heran) ketiadaan pasien. Maksudnya, pasien-pasien bisa tidak datang ke puskesmas, tapi saudaranya yang melaporkan gejala yang dialami kemudian ia langsung mendapatkan obat. Sungguh hebat sang perawat bisa langsung memberikan diuretik hanya dengan satu keluhan yaitu bengkak hehehe.

Di rumah sakit pemerintah yang saya amati di sebuah kabupaten, penyuntikan tidak terlalu berlebihan karena saya lihat sudah sesuai indikasi. Jadi, kalaupun ada yang tidak aman, lebih berhubungan dengan prosedur penyuntikan. Saya hanya tersenyum, menyaksikan sang perawat senior berbisik-bisik dibelakang saya, untuk menyuruh juniornya segera mengoreksi dan mencegah kesalahan prosedur penyuntikan. Tentu saja karena sedang kami amati hehehe.

Di rumah sakit pemerintah yang lain, pihak managernya bahkan amat sangat mempersulit untuk kami melakukan wawancara dan observasi penyuntikan seketika itu juga, seolah ketakutan kalau kami menemukan hal-hal yang buruk. Katanya ijin penelitian harusnya disampaikan beberapa minggu sebelumnya (tentu saja agar mereka bisa bersiap-siap dahulu hehehe) bahkan meminta kami harus membayar sejumlah uang tertentu sebagai syarat melakukan penelitian disitu. Kami memberikan uang itu meskipun dalam hati saya merasa sangat lucu, karena ini penelitian dar i depkes pusat. Sesama depkes kok minta bayaran hehehe.

Di sebuah rumah sakit swasta, kami mendapatkan sambutan positif. Meskipun mereka bertanya, “mengapa kami yang dipilih?, mengapa tidak yang lain saja, kami haru smendapat laporannya segera.”Hasilnya, di bangsal, spuit digunakan ulang selama pasiennya masih sama. Tapi saya agak kaget, ketika dokter yang mengisi bahwa ia tidak merasa menyuntik berlebihan, padahal sebelumnya ia menyebutkan bahwa satu pasien UGD rata-rata mendapatkan 3 suntikan, dan indikasi yang paling banyak dituliskan tidaklah benar-benar selalu menjadi indikasi. Bahkan ia sering memenuhi permintaan pasien dengan menyuntikkan vitamin. Sehingga bila ada 200 pasien, maka dikatakannya jumlah penyuntikan yang ia lakukan ada 600 kali. Kondisi ini berbeda dengan di rumah sakit pemerintah, yang terbatas dalam penggunaan obatnya, sehingga untuk menyuntik obat X misalnya, seorang dokter harus minta izin terlebih dahulu ke atasan. Tapi di RS swasta yang saya kunjungi, obat X itu menjadi 3 obat yang paling sering disuntikkan itu.

Jadi, yuk mari kita melakukan kegiatan penyuntikan kita secara aman dan tidak berlebihan. Selain untuk melindungi pasien, diri kita sendiri sebagai tenaga kesehatan, dan juga komunitas (melalui cara pembuangan yang benar), juga demi keefektivan biaya di sisi pasien. Semoga kita sebagai dokter pun bisa berfikir akan berbagai risiko yang mungkin bisa mengenai pasien. Karena kepentingan pasien hendaknya didahulukan di atas kepentingan akan keuntungan pribadi.***

NB:

Untuk standar keamanan penyuntikan menurut WHO-UNFPA dapat dilihat di http://www.who.int/injection_safety/WHOGuidPrinciplesInjEquipFinal.pdf

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP