12 Februari 2009

Organisasi Pembelajaran: Bagaimana Penerapannya dalam Pengendalian Penyakit

Pada sebuah pertemuan koordinasi dua hari yang lalu berkaitan dengan adanya beberapa kejadian campak disebuah provinsi, tampak terjadi perdebatan antara pihak dinas kesehatan kota dengan pihak kesehatan propinsi. Dinas kesehatan kota yang memiliki anak-anak yang belum tervaksinasi namun dalam kondisi berisiko, berpendapat bahwa vaksinasi harus dilakukan agar mereka tidak tertular.

Di lain pihak, pihak propinsi bersikukuh bahwa telah menjadi kebijakan agar vaksinasi/revaksinasi kepada anak-anak di sekitar korban dilakukan dengan sangat selektif dan paling tidak melewati waktu satu bulan, karena ia beranggapan bahwa jika yang tervaksinasi ternyata secara tidak diketahui tengah terinfeksi, maka kondisinya akan bertambah parah. Menanggapi hal tersebut, pihak dinas kesehatan kota menunjukkan cetakan berupa rekomendasi WHO yang menganjurkan dilakukannya vaksinasi dan artikel-artikel jurnal yang menyebutkan bahwa vaksinasi campak dapat diberikan, bahkan dalam kondisi akut sekalipun.

Terlepas dari kemudian ditolaknya argumen ilmiah tersebut dengan jawaban, “sudah menjadi kebijakan” dan faktor-faktor lain yang berpengaruh (misalnya tanda tanya terhadap tingkat cakupan imunisasi), terlihat bahwa pihak kota selain bertekad untuk menjalankan evidence based public health, juga memperlihatkan semangat dan belajar menerapkan prinsip-prinsip organisasi pembelajaran sebagai organisasi kesehatan yang bertanggung jawab dalam upaya pengendalian penyakit. Bukan hanya dalam kasus ini, namun hendaknya, memang prinsip- prinsip organisasi pembelajaran tersebut dapat diterapkan dalam konteks pengendalian penyakit maupun organisasi-organisasi kesehatan pada umumnya.

Pertama, organisasi pembelajaran awalnya merupakan respon dari keadaan lingkungan yang dinamis dan tak terprediksi (Wikipedia, 2009). Pengendalian penyakit juga merupakan suatu hal yang sangat dinamis dan banyak fenomena yang terkadang diluar prediksi, sehingga pembelajaran terus menerus senantiasa menjadi tuntutan dan kebutuhan yang jelas dan mutlak adanya. Sebagai contoh, malaria yang sebelumnya dianggap tidak menjangkau daerah tinggi, namun ternyata di Wamena dan beberapa daerah yang lain justru dapat terjadi di daerah dataran tinggi. Manusia terus berupaya “bersaing” mengalahkan kondisi lingkungan yang merugikan (menyebabkan penyakit). Namun, patut disayangkan, seringkali manusia masih terkalahkan. Ketika jenis baru pestisida diciptakan, ketika itu pula vektor menyesuaikan dirinya untuk bisa bertahan secara lebih canggih. Beberapa metode-metode pendekatan pengendalian penyakit juga terkadang tidak lagi efektif seperti sebelumnya. Dengan demikian, menghadapi situasi-situasi tersebut pembelajaran tanpa henti menjadi sebuah keharusan.

Kedua, organisasi pembelajaran mampu menciptakan proses-proses yang mampu meningkatkan kapasitas mental anggotanya (Dixon, 1994) dan memfasilitasi pembelajaran bagi anggotanya (Burgoyne, et. Al., 1991), antara lain dengan membiarkan anggota mengumpulkan aspirasi secara bebas, sehingga secara terus menerus mereka dapat belajar untuk belajar bersama-sama (Senge, 1990). Dengan kata lain, organisasi pembelajaran berhubungan dengan bagaimana menciptakan lingkungan eksternal yang mendukung dan bagaimana agar anggota bersikap adaptif terhadapnya. Oleh karena itu, sebagai pendukung organisasi pembelajaran dalam upaya pengendalian penyakit, perlu juga diciptakan lingkungan eksternal yang menstimulasi proses pembelajaran baik secara individu maupun secara bersama-sama. Dukungan bisa berupa baik fasilitas seperti referensi cetak maupun online (internet) maupun kebijakan dan penciptaan suasana kerja yang memicu pembelajaran. Berkaitan dengan hal ini, misalnya, Center for Disease Control Amerika memiliki situs public health training network yang menawarkan beragam sumber serta kursus jarak jauh terkait dengan pengendalian penyakit.

Ketiga, peningkatan kemampuan berubah dan beradaptasi dilakukan secara terus menerus. Seperti halnya pelayanan transportasi dan pelayanan telekomunikasi, pelayanan kesehatan juga merupakan salah satu jenis pelayanan yang bersifat terus menerus. Bahkan dalam kondisi hari libur pun tetap ada orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Jika sebagai organisasi pembelajaran organisasi “biasa” pun harus menerapkan prinsip-prinsip peningkatan kemampuan secara terus menerus, apalagi organisasi pelayanan kesehatan yang pelayanannya pun bersifat terus menerus. Betapa pentingnya organisasi pembelajaran bagi pelayanan kesehatan ini, hingga ia dibahas sebagai bagian dalam Encyclopedia of Health Care Management (Stahl, 2003). Dalam hubungannya dengan pengendalian penyakit, apapun dan kapanpun fenomena bisa terjadi. Sebagai contoh, KLB bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.

Keempat, hasil-hasil dari pembelajaran adalah diperuntukkan bagi tercapainya hasil yang lebih baik. Pada poin ini, proses pembelajaran merupakan bagian integral dari solusi dan inovasi-inovasi yang bertujuan agar masalah-masalah dapat diatasi dengan cara yang lebih baik dan kinerja organisasi selalu menjadi lebih baik dan baik lagi. Sebagaimana dalam slogan yang sering terdengar, “ Even the best can be improved”. Dengan demikian, organisasi pembelajaran membuat organisasi atau anggota menjadi tidak berhenti, termasuk ketika telah mencapai prestasi yang baik sekalipun. Karena selalu ada cara untuk menjadi lebih baik dan baik lagi.

Digunakannya prinsip organisasi pembelajaran dengan berorientasi pada hasil dalam aktivitas pengendalian penyakit ini pun telah berjalan lama. Misalnya yang dikemukakan oleh Hopkins (1989), dimana disebutkan bahwa organizational learning merupakan bagian penting dari proses inovasi kesehatan internasional terkait dengan eradikasi penyakit cacar (Small pox). Pernyataan yang dapat berlaku juga untuk penyakit-penyakit yang lain adalah bahwa kampanye untuk menurunkan insidensi atau mengeradikasi penyakit, tidak hanya pada pemahaman terhadap penyakit itu sendiri, melainkan juga pada prinsip-prinsip organisasi yang dibutuhkan untuk mengelola secara efektif dan untuk mengelola sebuah upaya yang bersifat internasional.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa organizational learning/learning organization dapat terterapkan untuk berbagai kasus/organisasi, termasuk dalam hal ini kesehatan dan pengenadalian penyakit. Untuk melalui organisasi pembelajaran tersebut, pengendalian penyakit antara lain harus menciptakan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran anggotanya baik secara individu maupun kelompok, berkomitmen untuk melakukannya terus menerus, dan memanfaatkan hasil pembelajaran tersebut untuk peningkatan kinerja mereka dalam pengendalian penyakit. Dan semoga, masih dalam kerangka proses belajar dan meningkatkan kinerja, seperti yang dikemukakan Weick (2002), organizational learning membuat kita memberikan perhatian secara lebih khusus kepada hal-hal yang kita lupakan, nilai-nilai yang rapuh, tujuan-tujuan yang kita lalaikan, fakta-fakta yang kita hindari, serta pertanyaan-pertanyaan yang kita takuti. Amin. ***

Referensi:

Stahl, Michael J. (2003) Encyclopedia of Health Care Management. Sage Publication. America

Hopkins, Jack W (1989) The Eradication of Smallpox: Organizational Learning and Innovation in International Health. Penerbit Westview Press, Boulder, CO.

Karl E. Weick (2002) “Puzzles in Organizational Learning: An Exercise in Disciplined Imagination” British Journal of Management. Volume 13 Issue 52 pp S7-S125

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP