28 Juni 2009

World Class University: Bagaimana Meraihnya?

Dimanakah posisi universitas Anda pada peringkat dunia? Dalam rangka menuju World Class university (WCU; bukan WC Umum loh hehehe) inilah, hari ini kami, sivitas akademika Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan seminar internal dengan tema “Potensi UII menuju World Class University”. Seminar ini mendatangkan pembicara dari Ditjen Dikti, Hokkaido University, Jepang, dan ITB.

Di bagian pertama, Ir. Hendarman, M.Sc, PhD mengungkapkan beberapa aspek dalam WCU, yang antara lain terdiri atas reputasi, research performance, prominent graduates, dan international participation. International participation ini bisa berupa misalnya keterlibatan dosen untuk mengajar di luar negeri, menjadi pembicara dalam event-event internasional (jangan hanya jadi peserta dongJ), atau adanya mahasiswa asing yang belajar di universitas tersebut. Meskipun Dr. Ir. Ichsan Setya Putra dari ITB mengingatkan bahwa hendaknya mahasiswa yang juga sama pintarnya dengan mahasiswa Indonesia, jangan seperti beberapa pengalaman pak Ichsan dan kakak penulis yang mengajar di UIN, yang bercerita karena merasa kesulitan mengajar mahasiswa asingnya yang justru “lebih bodoh” dari mahasiswa Indonesia yang lain.

Pak Hendarman juga menyampaikan bahwa sebenarnya Ditjen Dikti memiliki banyak program yang dapat mendukung universitas untuk meningkatkan proses internasionalisasinya, namun sayang sering kurang dimanfaatkan secara maksimal oleh dosen/perguruan tinggi. Selain itu, pak Hendarman juga mengingatkan bahwa ada beberapa aturan yang harus diikuti sebelum menjalin kerja sama dengan luar, misalnya untuk menyelenggarakan program dual degree. UII sendiri saat ini telah memiliki kerja sama dual degree dengan beberapa universitas di luar negeri.

Sebagai pembicara kedua, Prof. Shunitz Tanaka berbagi pengalamannya dengan menjelaskan mengenai Hokaido University, termasuk unit-unit pengembangan riset yang dimilikinya serta upaya-upaya yang dilakukannya sehingga memiliki 813 mahasiswa asing. Pak Ichsan membandingkan bahwa tidak seperti mereka, di Indonesia unit pengembangan riset sejenis bisa terhambat oleh ketiadaan biaya pembelian alat yang sangat penting untuk riset namun amat mahal harganya. Hokkaido sendiri memili

Dr. Ichsan bercerita mengenai pengalaman-pengalaman ITB dalam mencapai posisinya pada peringkat dunia. Dari beberapa penilaian pemeringkatan terlihat bahwa 60% nilai adalah dari performa riset, termasuk dari banyaknya citation atas karya-karya kita. Oleh karena itu, Research University adalah visi kita. Sedangkan, World Class University adalah ukuran dari achievement yang kita lakukan. Beberapa masalah yang dihadapi oleh ITB (mungkin juga hampir sama dengan yang dihadapi di beberapa universitas lain) antara lain sedikitnya persentase dosen yang meneliti (30%), prosentase mahasiswa S1 yang masih cukup besar (80%) sehingga harus banyak berkonsentrasi pada kegiatan pengajaran, masalah pembiayaan, sarana prasarana, organisasi, dan penciptaan budaya meneliti.

Namun demikian, banyak hal/strategi yang telah dilakukan yang mungkin dapat dipelajari, misalnya dengan merekrut dosen S3, streamlining pada struktural universitas (pemecahan fakultas, tidak adanya departemen/jurusan—yang ada hanyalah program studi dan kelompok keahlian), stimulan dana penelitian internal sebesar 10 M (disamping upaya mencari sumber dana penelitian dari luar), adanya fast track S1-S2-S3 untuk menjaring mahasiswa-mahasiswa yang pintar, program beasiswa voucher (dengan keterlibatan dalam penelitian), dan lain-lain.

Dr. Ir. Ichsan mengutip point-point penting yang direkomendasikan oleh rekan di NUS (National University of Singapore) untuk menjadi WCU, yaitu focus (pada kekhususan atau hal-hal spesifik yang bisa mengantarkan kita), funding, infrastructure, man power, dan curriculum. (Dua point lagi saya lupa)

Menanggapi pertanyaan mengenai Reseach-student link, Dr. Ir. Ichsan mennyampaikan bahwa research based learning untuk mahasiswa S1 mungkin sulit untuk diterapkan (daripada mahasiswa S2 atau S3). Oleh karena itu yang bisa kita lakukan adalah mengajarkan “cara berfikir inquiry” dengan menyiapkan skenario-skenario, sekian banyak pertanyaan (open ended question) saat mengajar yang bisa memancing pola berfikir inquiry (inquiry based learning). Selanjutnya baru kita membawa mereka to experiencing the inquiry guidance thinking, misalnya melalui tugas kelompok.

Terakhir, Prof Edy Suandi Hamid sebagai rektor UII mengajak kami semua bertanya pada diri kami sendiri, “50 tahun lagi, apakah UII akan tetap ada? Jika tetap ada, apakah kita akan tetap diperhitungkan?”. Sebuah pertanyaan yang menggugah. Ia kemudian bercerita menganai beberapa langkah yang terus dilakukan UII untuk menjadi WCU.

Seminar berakhir, dan saya mendapatkan semangat baru untuk terus belajar, meneliti, menulis, mempublikasi, dan berharap suatu saat nanti bisa go International serta membawa nama UII beberapa peringkat lebih tinggi dalam jajaran universitas kelas dunia. Semoga bukan utopia semata. Amin. (26 Juni 2009)

0 komentar:

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP