16 Januari 2009

Manfaat Tidur: Ternyata Lebih Penting dari Yang Kita Duga

Hari ini saya berdiskusi dengan teman sejawat yang banyak membaca buku dan artikel mengenai kekuatan tidur. Ia sering mendiagnosis dan menerapi pasien-pasien dengan pendekatan kepada evaluasi dan intervensi pola tidurnya. Dan hal tersebut banyak dibenarkan dan disetujui oleh pasiennya. Tak diragukan lagi, bukti-bukti mengenai manfaat tidur telah begitu banyak dikemukakan . Mungkin itu juga yang bisa menjelaskan kenapa di musim ujian banyak palajar usia sekolah menderita flu (karena tidur berhubungan dengan imunitas/kekebalan tubuh), atau seseorang dapat pula mengalami tekanan darah rendah serta tekanan darah tinggi karena kekurangan tidur yang bersifat kronis.

Ia juga sering memberikan ceramah mengenainya, termasuk dikalangan aktivis yang mungkin saking semangatnya beraktivitas, kadang menganggap tidur bagian dari kemalasan. (Saya juga pernah dirasani demikian gara-gara suatu kali dianggap tidur "kepagian", sementara dang teman-teman aktivis tidak tidur berdiskusi hingga hampir pagi.) Sebagian orang yang lain, menderita kekurangan tidur karena bekerja terlalu keras mencari sesuatu, atau mungkin menderita kecemasan di bawah ataupun di "atas" sadar, yang mengganggu pikiran.

Sebagai seorang dokter, saya sudah lama tahu tentang manfaat tidur. Namun hari ini saya cukup terhenyak juga karena diingatkan akan hal itu. Maklum akhir-akhir ini saya sering tidur jam 2 pagi karena banyak tugas yang harus saya selesaikan, sedangkan saya tidak memiliki waktu lain kecuali setelah anak saya tertidur. Itulah mengapa, dalam sebuah publikasi disebutkan bahwa jumlah profesor perempuan lebih sedikit, karena banyak di antaranya baru bisa menulis dan berkarya di atas jam 9 malam. Semoga saya juga bisa jadi professor hehehe. Terakhir, saya juga pernah mengalami kecelakaan yang mematahkan tulang kepala saya beberapa hari sebelum pernikahan, hanya gara-gara karena mengantuk dijalan akibat sering nglembur semalaman. Maka ketika saya baca tulisan ini, saya pikir banyak benarnya juga. Oke, Selamat membaca:-)

Kekurangan Tidur Kronis Berbahaya untuk Kesehatan


Michael Breus
WebMD Feature
www.medicinet.com


Tidak cukup tidur dan tidak tidur dengan baik adalah tidak baik. Sesungguhnya, ada cukup harga yang harus dibayar. Mungkin setelah mengetahuinya, Anda akan terkejut mengetahui bahwa kekurangan tidur kronis karena alasan apapun, secara signifikan mempengaruhi kesehatan, kinerja, keamanan, dan kantong Anda:-)

Terdapat banyak penyebab kekurangan tidur. Sress di kehidupan sehari-hari dapat mempengaruhi kemampuan kita untuk tidur dengan baik, atau mungkin kita menukar tidur dengan lebih banyak pekerjaan atau bermain. Kita juga mungkinmemiliki kondisi kesehatan atau kondisi mental yang mengganggu tidur dan kami kita juga menyadari bahwa kita sedang kekurangan tidur.

Namun, sangat penting untuk menyadari bahwa kekurangan tidur sering terjadi karena gangguan tidur yang tidak diketahui. Setelah tidur malam hari, Anda mungkin tidak merasa dipulihkan dan lebih segar serta mengantuk pada siang hari. Akan tetapi, kita sama sekali tidak sadar bahwa kita mengalami kekurangan tidur atau gangguan tidur. Anda mungkin berpikir, "ini hanya stress karena pekerjaan atau anak-anak," atau Anda mungkin merasa "memang selalu begini" dan tidak memiliki gagasan bahwa Anda harus merasakan sesuatu hal yang berbeda. Kurangnya kesadaran ini akan tergabung menjadi konsekuensi-konsekuensi, karena begitu banyak orang tetap tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun.

Mari kita lihat konsekuensi dari kekurangan tidur.

Dalam jangka pendek:

* Kekurangan tidur menyebabkan penurunan kinerja dan kewaspadaan secara signifikan. Mengurangi tidur malam Anda satu setengah jam untuk satu malam saja dapat mengakibatkan penurunan kewaspadaan oleh siang hari sebanyak 32%.
* Penurunan kewaspadaan berlebihan dan mengantuk disiang hari akan mengurangi memori dan kemampuan kognitif Anda (kemampuan Anda untuk berpikir dan memproses informasi).
* Gangguan tidur dari mitra tidur, karena tidur yang dapat menimbulkan kekacauan signifikan masalah bagi hubungan (misalnya, pisahkan tempat tidur, konflik, kemurungan, dll).
* Anda mungkin akan mengalami buruknya kualitas hidup. Misalnya, Anda mungkin tidak dapat berpartisipasi dalam beberapa kegiatan yang berkelanjutan memerlukan perhatian, seperti yang terjadi di film, melihat anak Anda bermain di sebuah sekolah, atau menonton TV show favorit.
* Rasa mengantuk yang berlebihan juga memberikan kontribusi kepada lebih dari dua kali lipat lebih tinggi risiko kecelakaan kerja.
* National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) memperkirakan bahwa setiap tahun pengemudi yang mengantuk bertanggung jawab untuk sedikitnya 100.000 kecelakaan mobil , 71.000 cedera, dan 1550 kematian.

Berita baik untuk banyak gangguan yang menyebabkan kekurangan tidur adalah bahwa setelah penilaian risiko, pendidikan, dan perawatan, dan peingkatan memori kognitif, jumlah kecelakaan menjadi menurun.

Dalam jangka panjang, konsekuensi klinis gangguan tidur yang tidak diterapi memang besar. Ia bisa terkait dengan banyak penyakit medis yang serius, termasuk antara lain:

* Tekanan darah tinggi
* Serangan Jantung
* Gagal jantung
* Stroke
* Obesitas
* Masalah kesehatan jiwa, termasuk depresi dan gangguan mood
* Pelemahan mental
* perlambatan pertumbuhan janin dan anak
* Luka dari kecelakaan
* Gangguan kualitus tidur dari mitra tidur
* Kurangnya kualitas hidup

Studi menunjukkan peningkatan risiko kematian bagi mereka yang melaporkan tidur kurang dari enam atau tujuh jam per malam. Satu studi menemukan bahwa mengurangi waktu tidur memiliki risiko kematian yang lebih besar daripada merokok, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Gangguan tidur juga menjadi salah satu prediktor utama dari pemasukan orang tua ke panti jompo, sedangkan insomnia yang parah memiliki resiko kematian tiga kali lipat pada lansia.

Bukan main, kekurangan tidur kerugian juga bisa menjadi faktor kontributor obesitas. John Winkelman, MD, PhD, direktur medis dari Pusat Kesehatan Tidur di Brigham Women's Hospital dan asisten profesor psikiatri di Harvard Medical School menyatukan temuan-temuan tersebut secara baik, "Apa yang paling sering tidak disadari orang-orang adalah bahwa kebiasaan tidur adalah faktor penting bagi kesuksesan setiap rencana manajemen apapun". Dan Michael Thorpy, MD, direktur Pusat Gangguan Tidur di Montefiore Medical Center di New York menambahkan, "Setiap Amerika membuat resolusi untuk menurunkan berat badan ... mungkin harus mempertimbangkan komitmen paralel untuk tidur lebih banyak."

Juga penting untuk menyadari besarnya lingkup dan prevalensi gangguan ini; lebih dari 85 gangguan tidur diketahui oleh Perhimpunan Gangguan Tidur Amerika telah mempengaruhi lebih dari 70 juta orang Amerika. Hingga satu-sepertiga dari penduduk Amerika memiliki gejala insomnia, namun hanya kurang dari 10% dari mereka yang teridentifikasi oleh dokter umum. Tidur yang berhubungan dengan gangguan bernapas menunjukkan spektrum abnormalities mulai dari mendengkur hingga apnea (episode berulang henti napas sewaktu tidur). Meskipun prevalensinya tinggi, sebagian besar kasus tetap tidak terdiagnosis dan tidak tertatalaksana.

* Mendengkur kronis, misalnya, dikaitkan dengan peningkatan insiden penyakityang berhubungan dengan jantung dan otak. Itu terjadi pada sekitar 45% dari penduduk Amerika; Setengah diantaranya mengalami apnea tidur.
* Prevalensi apnea tidur adalah setara dengan diabetes dan asma. Lebih dari 20 juta warga Amerika - 24% dari orang dewasa dan 9% dari perempuan dewasa - diperkirakan memiliki beberapa derajat apnea tidur. Hanya sebagian kecil telah didiagnosis dan diobati.
* Apnea merupakan faktor risiko utama untuk tekanan darah tinggi, sebanyak 40% dari mereka tidak terdiagnosis dan tidak mendapatkan perawatan tekanan darah tinggi. Pengobatan yang efektif untuk apnea tidur pasien dengan tekanan darah tinggi akan mengarah pada pengurangan risiko stroke.
* Pasien dengan apne atidur sedang hingga parah hampir sama dengan pengemudi yang mabuk, dan memiliki hingga 15 kali lipat peningkatan risiko kecelakaan kendaraan bermotor.

Dengan kekayaan informasi dan pilihan yang tersedia untuk perawatan kekurangan tidur, banyak penderitaan, penyakit yang berhubungan, peningkatan tingkat kecelakaan, dan efek pada produktivitas, kinerja, konsentrasi, dan memori akan dapat dihindari. Peningkatan kesadaran merupakan langkah pertama, untuk kita secara individu mauoun masyarakat. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa kekurangan tidur harus dianggap sama seriusnya dengan dampak sosial alkohol.

SUMBER
"Sleep: "We Are Chronically Sleep Deprived," Vol. 18 No. 10. Sleep Medicine, Kryger, Meir, et al., Third Edition. 2000. Sleep: "Excessive Daytime Sleepiness and Risk of Occupational Injuries in Non-shift Daytime Workers," Vol. No. 3. Heart Disease , Vol. 4 No. 5. Sleep"The Cost of Sleep-Related Accidents," Vol. 17, No. 1. National Center on Sleep Disorders Research. Sleep: "Health Care Utilization in the 10 Years Prior to Diagnosis in Obstructive Sleep Apnea Syndrome Patients," Vol. No. 22. Journal of Clinical Hypertentions, Vol. 4 No. 6. Journal of the American Board of Family Practice, Vol. 15 No. 2. Sleep: "Sleepiness-Related Accidents In Sleep Apnea Patients,"
Vol. 23 No. 3. AM Rev Respir Dis: "Automobile Accidents Involving Patients with Obstructive Sleep Apnea," Vol. 138. Am J Respir Crit Care Me: "Simulated Driving Performance in Patients With Obstructive Sleep Apnea," Vol. 154. Circulation: "Effect of Nasal Continuous Positive Airway Pressure Treament on Blood Pressure in Patients with Obstructive Sleep apnea," Vol. 107. News release, "Planning to Lose Weight in the New Year? Experts Say, Think Sleep. Studies Show Sleep Loss May Sabotage Success of No.1 Resolution," Sanofi-Synthelabo Inc. Columbia University, Dept.of Otolaryngology, Head and Neck Surgery

15 Januari 2009

Bagaimana Cara Menghilangkan Bekas Stretch Mark?

Stacey Williams

(www.bestsyndication.com)

Adalah mungkin untuk menghilangkan stretch mark yang Anda sangat sadari keberadaannya. Ia terbentuk ketika kulit harus menegang sementara ia tidak mampu tumbuh dengan kecepatan yang setara. Hal ini dapat disebabkan karena adanya kehamilan atau bertambahnya berat badan. Bahkan atlet angkat besi dapat mengalami stretch mark jika ototnya membesar terlalu cepat. Ia memiliki warna yang bervariasi tergantung dari tahapannya. Bisa jadi warnanya merah atau merah muda (pink) saat kulit masih rusak. Ketika mulai terlihat berwarna perak, abu-abu, atau putih maka ia telah berada dalam masa penyembuhan.

Terdapat beberapa jenis perawatan efektif, yang mungkin Anda tertarik untuk mencobanya guna menghapus stretch marks. Jenis perawatan tersebut antara lain perawatan laser, menghapus stretch mark dengan operasi, chemical peeling atau dermabrasi, dan mesotherapy. Masing-masing mempunyai keuntungan sendiri-sendiri sehingga kita harus membelanjakan waktu untuk mengetahui yang akan menjadi pilihan terbaik bagi Anda. Mari kita lihat masing-masing dari secara sedikit lebih dekat.
  • Laser (Ket: Mahal!)
Perawatan laser menawarkan teknologi tinggi dan memberikan hasil yang bagus. Ada energi yang dikirimkan di bawah kulit. Ia merangsang kulit tempat ia diterapkan sehingga kulit menjadi lebih kuat. Hal ini juga akan membantu untuk tumbuh lebih cepat pada area tersebut. Kulit di bawah stretch mark akan bergerak ke atas dan mengisinya sehingga kulit halus dan datar. Anda mungkin perlu mengikuti beberapa sesi perawatan laser sebelum anda mendapatkan hasil yang terbaik. Anda harus masuk untuk menindaklanjuti sesi secara berkala juga.
  • Operasi
Operasi adalah salah satu pilihan, namun memiliki risiko tersendiri. Hal ini juga sangat mahal dan tidak ada perusahaan asuransi yang akan mencakup perawatan kosmetik. Istilah teknis untuk jenis operasi ini adalah Abdominoplasty. Proses yang terjadi adalah pengencangan kulit dan pembuangan kulit yang rusak. Tindakan ini bisa jadi nyeri (karena operasi) namun ini juga merupakan salah satu perawatan stretch mark paling efektif yang tersedia.
Beberapa individu memiliki harapan yang tidak realistis untuk operasi. Dengan demikian, Anda perlu berkonsultasi dengan ahli bedah untuk mengetahui apa yang Anda. Semuanya akan tergantung pada tingkat keparahan stretch mark dan dimana lokasinya. Kesehatan Anda secara umum akan menjadi pertimbangan juga. Hal tersebut adalah untuk memastikan bahwa tubuh Anda cukup aman untuk dilakukan proses operasi.
  • Chemical peeling atau dermabrasi
Pilihan yang lebih terjangkau adalah chemical peeling dan dermabrasi. Chemical peeling menggunakan Alpha Hydroxl untuk mengambil bagian atas lapisan kulit. Hal ini dapat dilakukan selama beberapa sesi untuk menghapus stretch mark. Jumlah sesi tergantung pada tingkat keparahan stretch mark Anda. Dermabrasi menawarkan jenis yang sama, tetapi dengan menggunakan Aluminium Oxide pada sebuah cakram berputar yang akan menghapus lapisan kulit.
  • Mesotherapy
Mesotherapy juga semakin populer. Proses ini menggunakan jarum yang disuntikkan ke dalam tubuh di berbagai tempat. Ia telah diisi dengan zat yang bisa memberikan keuntungan bagi tubuh kita. Misalnya, asam amino, berbagai jenis obat-obatan alami, vitamin, dan mineral. Zat-zat tersebut bekerja untuk menghapus toksin/racun yang terbentuk di tubuh Anda. Mereka menjadikan kulit lebih kuat dan agar elastin dan kolagen dapat diproduksi secara alami.

Jadi, sekarang Anda telah mengetahui beberapa pilihan tanda yang dapat Anda pertimbangkan untuk pengobatan stretch mark. Di antara semua perawatan tersebut, Anda dapat mempertimbangkan dampak dan efek sampingnya serta memilih salah satu yang cocok untuk Anda.***

NB:
Dulu saya mengatasi stretch mark di perut dan pantat saya dengan Anti Stretch Mark Cream (rekomendasi dokter kulit atau membeli sendiri tapi disetujui dokter kulit (syaratnya harus rajin, butuh waktu dan kesabaran). Saya juga menempuh perawatan dengan mikrodermabrasi, CAR (alat untuk memberikan nutrisi khusus pada kulit), dan penyuntikan PRP (Platelet rich Plasma--darah yang diambil dari lengan kita sendiri disuntikkan ke stretchmark) di Klinik Kosmetika RSUP dr Sarjito Yogyakarta. Meski saya hentikan, karena saya anemia jadi lemas setelah diambil darahnya. Sekarang, saya hanya memakai Bahan-bahan alami (rumah tangga) yang saya langsung pelajari sendiri dari ebook.


Dan perubahan itu saya rasakan, meskipun tidak bisa hilang 100% karena yang robek susah untuk disambung kembali. Link untuk mempelajari tentang stretchmark di situs kedokteran rujukan para dokter, yang terus diupdate klik di www.emedicine.com kemudian masukkan kata kunci: STRIAE DISTENSAE di kotak pencarian.  

Untuk mengetahui lebih jauh tentang krim dan terapi stretchmark, hubungi saya (Beti) di 085 743 811813
NB lagi: 
Ternyata banyak yang senasib sepenanggungan dengan saya (Maklum suami saya suka komplain dan nyuruh terapi terus hehehe). Berhubung buanyak yang menanyakan tentang merek, harga, dan dimana tempat membeli krim dan terapi lainnya, maka agar tidak berulangkali membalas sms, berikut saya beri penjelasan berdasarkan pengalaman saya (meskipun saya bukan dokter kulit:-)):


1. Kalau mau hemat, pakai bahan alami. Karena bahannya gampang didapat, jadi gak perlu beli krim yang mahal-mahal.

2. Krim Anti stretchmark/Anti striae
Sebenarnya mereknya ada macam-macam. Yang dari oriflame mengandung soya protein (vegetable collagen) tapi harganya mahal 198ribu. Bisa diperoleh di kantor cabang atau distributor terdekat. Dulu saya pernah pakai. Ada juga merek lain antistriae yang ada di apotek RS. Kalau mau mencari, tanya saja ke apotek terutama klinik estetika atau apotek yang ada tempat praktek dokter kulitnya. Bilang saja minta anti striae, nanti akan diberi merk anti striae yang ada di apotek tersebut seperti Stretchnil (160ribu), Momilen, Johnson n Johnson, Vaseline, dll). Saya pernah pakai satu wadah pot kecil yang isinya termasuk kolagen seharga 80 ribu (dokter ngracik sendiri). Kalau antistriae yang tidak racikan (merek) yang saya pakai sekarang, beli satu wadah pot kecil untuk 2 minggu, sekitar 30ribuan. Yang besar mungkin lebih mahal dari itu.

2. Mikrodermabrasi dan CAR
Satu kali datang 279 ribu. Untuk hasil yang lebih baik, mungkin disarankan 6 kali datang dan akan difollow up.

3. PRP
Satu kali datang, beberapa suntikan untuk seluruh stretchmark di bagian depan perut saya biayanya 360ribu.  

Harga tersebut adalah harga di RSUP Dr sarjito yogyakarta. Harga-harga bervariasi tergantung klinik tempat terapinya. Saya membandingkan harga mesoterapi antar rumah sakit saja bisa berbeda harganya.
Oke, selamat mencoba dan semoga berhasil:-).


Sudah Aman dan Tidak Berlebihankah Penyuntikan Kita?

Akhir bulan lalu, saya terlibat dalam penelitian yang dilakukan oleh Litbang Depkes mengenai Injection Safety. Latar belakang dari penelitian ini adalah adanya kenyataan yang bahwa di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih banyak yang tidak aman dan berlebihan. Sebagai contoh, penggunaan kembali alat injeksi tanpa adanya sterilisasi terdapat sekitar 15-50%. Sementara itu, sebuah survey pernah menunjukkan bahwa persentase kunjungan rawat jalan yang mendapat penyuntikan adalah sebesar 96%. Sementara itu, ada fenomena lain lagi di Indonesia, yaitu adanya oknum yang punya akses terhadap pembuangan spuit injeksi dan menjualnya lagi ke pasar tertentu dalam kemasan spuit injeksi aspal (asli tapi palsu).

Tak heran tingkat penularan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui jarum suntik seperti Hepatitis B, Hepatitis C, maupun HIV, juga masih tinggi di Indonesia. Padahal, ada tiga pihak yang mestinya bisa terlindungi dari risiko penyuntikan yang tidak aman ini, yaitu pasien, tenaga kesehatan itu sendiri (misalnya risiko tertusuk jarum), maupun komunitas/masyarakat.

Selama mengambil data dan melakukan observasi di puskesmas, rumah sakit swasta, dan rumah sakit pemerintah di sebuah kabupaten, saya mendapatkan banyak kesimpulan. Di puskesmas-puskesmas tampaknya kemanan penyuntikan sudah cukup baik, dalam arti penyuntikan untuk pasien rawat jalan hampir tidak ada, meskipun pihak penyuntik saat imunisasi jugamenyatakan bahwa mereka masih menggunakan ulang jarum suntik jika persediaannya habis. Mungkin ini karena memang keamanan penyuntikan ini telah menjadi program dari depkes pusat selama 1-2 tahun ini dan ada pembinaan terus menerus dari dinas kesehatan. Ini terlepas dari hal negatif disisi yang lain, seperti ketiadaan dokter dan bahkan (yang membuat saya heran) ketiadaan pasien. Maksudnya, pasien-pasien bisa tidak datang ke puskesmas, tapi saudaranya yang melaporkan gejala yang dialami kemudian ia langsung mendapatkan obat. Sungguh hebat sang perawat bisa langsung memberikan diuretik hanya dengan satu keluhan yaitu bengkak hehehe.

Di rumah sakit pemerintah yang saya amati di sebuah kabupaten, penyuntikan tidak terlalu berlebihan karena saya lihat sudah sesuai indikasi. Jadi, kalaupun ada yang tidak aman, lebih berhubungan dengan prosedur penyuntikan. Saya hanya tersenyum, menyaksikan sang perawat senior berbisik-bisik dibelakang saya, untuk menyuruh juniornya segera mengoreksi dan mencegah kesalahan prosedur penyuntikan. Tentu saja karena sedang kami amati hehehe.

Di rumah sakit pemerintah yang lain, pihak managernya bahkan amat sangat mempersulit untuk kami melakukan wawancara dan observasi penyuntikan seketika itu juga, seolah ketakutan kalau kami menemukan hal-hal yang buruk. Katanya ijin penelitian harusnya disampaikan beberapa minggu sebelumnya (tentu saja agar mereka bisa bersiap-siap dahulu hehehe) bahkan meminta kami harus membayar sejumlah uang tertentu sebagai syarat melakukan penelitian disitu. Kami memberikan uang itu meskipun dalam hati saya merasa sangat lucu, karena ini penelitian dar i depkes pusat. Sesama depkes kok minta bayaran hehehe.

Di sebuah rumah sakit swasta, kami mendapatkan sambutan positif. Meskipun mereka bertanya, “mengapa kami yang dipilih?, mengapa tidak yang lain saja, kami haru smendapat laporannya segera.”Hasilnya, di bangsal, spuit digunakan ulang selama pasiennya masih sama. Tapi saya agak kaget, ketika dokter yang mengisi bahwa ia tidak merasa menyuntik berlebihan, padahal sebelumnya ia menyebutkan bahwa satu pasien UGD rata-rata mendapatkan 3 suntikan, dan indikasi yang paling banyak dituliskan tidaklah benar-benar selalu menjadi indikasi. Bahkan ia sering memenuhi permintaan pasien dengan menyuntikkan vitamin. Sehingga bila ada 200 pasien, maka dikatakannya jumlah penyuntikan yang ia lakukan ada 600 kali. Kondisi ini berbeda dengan di rumah sakit pemerintah, yang terbatas dalam penggunaan obatnya, sehingga untuk menyuntik obat X misalnya, seorang dokter harus minta izin terlebih dahulu ke atasan. Tapi di RS swasta yang saya kunjungi, obat X itu menjadi 3 obat yang paling sering disuntikkan itu.

Jadi, yuk mari kita melakukan kegiatan penyuntikan kita secara aman dan tidak berlebihan. Selain untuk melindungi pasien, diri kita sendiri sebagai tenaga kesehatan, dan juga komunitas (melalui cara pembuangan yang benar), juga demi keefektivan biaya di sisi pasien. Semoga kita sebagai dokter pun bisa berfikir akan berbagai risiko yang mungkin bisa mengenai pasien. Karena kepentingan pasien hendaknya didahulukan di atas kepentingan akan keuntungan pribadi.***

NB:

Untuk standar keamanan penyuntikan menurut WHO-UNFPA dapat dilihat di http://www.who.int/injection_safety/WHOGuidPrinciplesInjEquipFinal.pdf

14 Januari 2009

Demam Berdarah Dengue: Belajar dari Pemberantasan Sarang Nyamuk di Kabupaten Bantul

Penyakit Demam Berdarah banyak dikatakan sebagai risiko bagi negara berkembang maupun negara maju sekalipun. Selama 20 tahun terakhir, insiden wabah penyakit demam berdarah terus meningkat dan transmisi hiperendemik telah terjadi dan melintasi wilayah geografis yang luas.

Di Indonesia sendiri, penyakit demam berdarah juga masih menjadi persoalan yang serius. Dapat dibayangkan, misalkan yang pernah terjadi pada tahun 2004, dalam waktu tiga bulan (januari-maret) saja telah terjadi total 26.015 kasus di seluruh Indonesia, dengan 389 korban meninggal. Tahun ini pun jumlahnya masih cukup tinggi.

Patut disayangkan, pendekatan pemberantasan sarang nyamuk sering tidak berhasil. Hal ini terutama karena strategi tersebut membutuhkan bangunan kesadaran yang kuat pada diri masyarakat untuk menjaga lingkungannya serta membangun kebiasaan yang memberi efek positif bagi kesehatannya.

Mengetahui persoalan ini, dan juga karena penyakit demam berdarah menjadi prioritas di Kabupaten Bantul, Bupati Bantul memiliki political will yang kuat untuk menghimpun partisipasi komunitas dalam pemberantasan sarang nyamuk. Setiap jumat dua minggu sekali, ia menggerakkan kepala-kepala dinas di wilayah kabupaten Bantul untuk berkeliling bersama terjun langsung ke masyarakat, bersama-sama dengan tim dari kecamatan dan dusun berkunjung dari rumah ke rumah memberi contoh dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara langsung. Selain melakukan PSN, mereka juga mensosialisasikan Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS), mencari adanya kehamilan risiko tinggi, dan melakukan sosialisasi isu lain, misalnya kebijakan kependudukan yang baru, dan lain-lain.

Seandainya strategi ini berhasil untuk membangun kesadaran masyarakat melakukan PSN, maka hal ini juga akan memberi cost effectiveness pada pembiayaan penanggulangan penyakit demam berdarah. Selama ini, penyakit demam berdarah menyabot biaya yang paling besar. Dapat dibayangkan, untuk sekali fogging (pengasapan) saja, biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp5 juta. Maka apabila pada 2007 terdapat 578 kasus demam berdarah, dilakukan fogging sebanyak 578 kali. Selain itu, anggaan juga dikeluarkan untuk membayar orang yang mengawasi perkembangan jentik di setiap wilayah RT. Di Bantul, terdapat 2.465 RT yang menjadi prioritas utama pengawasan terhadap jentik. Pengawas jentik ini mendapat bayaran sebesar Rp20.000 per bulan, jumlah yang sebenarnya masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jasa pengawasan yang dilakukannya.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membangun partisipasi komunitas untuk melakukan 3M plus (menutup, menguras, menimbun plus memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat).

Hari ini saya senang bisa terlibat dalam gerakan tersebut bersama dengan pak Idham dan kepala-kepala dinas yang lain. Dan saya berdoa semoga langkah ini berhasil dan bermanfaat.***

NB: Alhamdulillah, angka DHF tahun 2008 lalu di Bantul lumayan sudah agak turun:-) Meskipun perlu diteliti lebih lanjut apakah ini efek dari Gertak PSN, program pemberian reward, atau karena kebetulan saja hehehe:-)

09 Januari 2009

10 Hikmah Berkesan dari Proyek Lapangan Epidemiologi di Dinas Kesehatan

Ikatlah makna dengan menuliskannya

Rekor baru jarak tempuh mengendarai motor hari ini telah saya pecahkan lagi. Total jarak tempuhnya adalah 100 km. Mungkin sedikit bagi orang lain, namun bagi saya itu sudah cukup spektakuler. Jarak tersebut saya tempuh dari rumah saya di Sleman, menuju Bantul, kemudian Wates Kulonprogo, dan kembali kerumah. Hal tersebut saya lakukan karena saya harus bertemu untuk kulonuwun dengan pembimbing akademis dan pembimbing lapangan, dan pejabat dinas kesehatan setempat guna melakukan kegiatan proyek lapangan.

Namun, yang terpenting bukan jarak, melainkan hikmah/makna-makna yang saya dapatkan dari obrolan-obrolan dengan mereka. Dan saya menuliskan hikmah itu disini, hanya untuk mengikatnya.

Dari diskusi dengan Ibu Baning, M. Kes, dan drg. Maya, MM saya mendapatkan catatan dan kesimpulan antara lain:

  • · Sukses berangkat dari rencana/target yang terjadwal

Tidak hanya sukses akademis, nampakya saya setuju bahwa agar sukses dalam hal apapun, kita harus memiliki planning dan target yang jelas. Tentu saja hal tersebut harus disertai dengan komitmen yang kuat untuk melaksanakan apa yang telah kita rencanakan. Semangat mencapai tujuan inilah yang membuat kita lebih bertenaga mampu mengatasi berbagai gangguan.

  • · Segala hal yang kita lakukan hendaklah bertujuan dan diniatkan sebagai bagian dan proses pembelajaran

Maka jika ada beberapa tugas atau pekerjaan yang dapat dipilih, saya akan memutuskan untuk memilih yang memberikan kesempatan paling besar bagi saya untuk bisa belajar lebih jauh. Sementara itu, setiap proses-proses kecil yang saya jalani akan saya niatkan sebagai proses belajar. Bukankah sayang jika kita telah menghabiskan waktu dan tenaga, dan jauh keluarga, namun pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa, atau dapat tapi tidak maksimal. Jika dua tiga pulau bisa terlampaui sekaligus, mengapa tidak?

  • · Masih banyak pandangan sempit bahwa epidemiologi lebih banyak berurusan dengan penyakit tidak menular.

Padahal, lebih luas dari itu, epidemiologi juga berurusan dengan penyakit tidak menular maupun masalah-masalah kesehatan yang lain, termasuk KDRT misalnya. Jadi, menjadi tugas kita untuk meluruskan pemahaman yang masih salah ini dan menyajikan epidemiologi sebagai sesuatu yang lebih luas.

  • · Bahwa tesis adalah untuk digunakan mengatasi masalah kehidupan, bukan untuk mengisi almari perpustakaan
  • · Bahwa sebagai lulusan S2 kita harus memiliki nilai plus dibandingkan S1, kedalaman analisis yang berbeda sehingga ilmu dasar yang didapatkan hendaknya dapat diterapkan dalam semua bidang kehidupan, di luar kotak keilmuannya saja. Karena ilmu yang sesungguhnya adalah apabila ia bisa bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan.

Sebagai lulusan S2, keunggulan kita adalah kita seharusnya akan mampu untuk menganalisis persoalan secara lebih mendalam, dengan pertimbangan pada aspek-aspek yang lebih luas. Aspek teknis dan non teknis misalnya. Jangan terjebak hanya pada hal-hal yang bersifat teknis. Berapa banyak permasalahan kehidupan yang lebih banyak melibatkan aspek non teknis. Tidak usah jauh-jauh, hambatan dalam proses studi saja, biasanya lebih banyak datang aspek non teknis, kan?

  • · Small is Beautiful.Tidak usah berfikir yang muluk-muluk. Tidak usah berfikir kita akan melakukan sesuatu untuk se-Indonesia. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk
  • · Kebahagiaan diri datang dari kebahagiaan orang lain.

Bantu, bantu, bantu, dan senangkan orang-orang di sekitar kita sebisa kita, niscaya kita akan jadi orang yang bahagia di atas kebahagiaan orang lain dan juga orang yang ringan tangan. Tapi kegiatan menyenangkan orang lain ini harus yang tulus lho, bukan acting belaka. Dan juga tidak dengan mengorbankan diri kita.

  • · Hendaknya kita pandai-pandai mengenali potensi diri, dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan nilai maksimal yang bisa kita usahakan.

Jika kita gagal menilai diri kita, maka jangan-jangan kita hanya memberi 40 padahal kita mampu untuk 80. Sebaliknya, jika kita hanya punya mampu untuk 80, jangan ngotot untuk melakukan 100, bisa-bisa kita jatuh terkapar hehehe

  • · Jadilah orang yang cerdas, jangan hanya jadi orang pintar.

Orang pintar bisa minteri. Orang pintar bisa jadi karena telaten saja. Orang pintar bisa hanya memiliki nilai yang tinggi di atas kertas saja. Orang pintar bisa berdiri di atas teori belaka. Tapi orang yang cerdas mempunyai sensitifitas yang tinggi terhadap permasalahan yang ada di depannya dan mampu untuk segera memecahkannya.

  • · Hendaknya kita memiliki loyalitas

Loyalitas bukan berarti kita tetap berpegang pada sesuatu apapun kondisinya (baik atau buruk). Akan tetapi, loyalitas pada diri, adalah keteguhan untuk tetap memegang prinsip-prinsip yang kita yakini dan senantiasa bergerak mengikuti perubahan yang terjadi. Karena di dunia ini tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri.

  • · Allah mengetahui segala yang terbaik untuk kita dan hendaknya kita senantiasa bersyukur untuk itu.

Inilah yang diberi Allah padaku. Disinilah saya ditempatkan dan saya yakin ini yang terbaik untuk saya. Whatever, saya menerima dan selalu bersyukur karenanya.

Oke. Semoga kesuksesan menyertai kita semua. Amin.

08 Januari 2009

4 Faktor Penting dalam Penetapan Prioritas Masalah Kesehatan Masyarakat (Metode Hanlon)

Saat ini saya tengah melakukan analisis dan prioritisasi masalah kesehatan sebagai tugas proyek lapangan di Kabupaten Bantul. Diantara beberapa tulisan mengenai teknik atau metode penetapan prioritas, tampaknya tulisan yang saya ambil dari www.uic.edu/sph/prepare/courses/ph440/mods/bpr.htm ini yang saya anggap cukup sederhana dan mudah dipahami. Berikut ini adalah terjemahannya.
Oke. Semoga bermanfaat:-)

Panduan Penetapan Prioritas Masalah Kesehatan Masyarakat

(Dimodifikasi dari Studi Kasus CDC: Menerjemahkan Sains ke dalam Praktek)

Menetapkan prioritas dari sekian banyak masalah kesehatan di masyarakat saat ini merupakan tugas yang penting dan semakin sulit. Manager kesehatan masyarakat sering dihadapkan pada masalah yang semakin menekan dengan sumber daya yang semakin terbatas. Metode untuk menetapkan prioritas secara adil, masuk akal, dan mudah dihitung merupakan perangkat manajemen yang penting.

Metode yang dijelaskan di sini memberikan cara untuk membandingkan berbagai masalah kesehatan dengan cara yang relatif, tidak absolut/mutlak, memiliki kerangka, sebisa mungkin sama/sederajat, dan objektif.

Metode ini, yang disebut dengan Metode Hanlon maupun Sistem Dasar Penilaian Prioritas (BPRS), dijelaskan dalam buku Public Health: Administration and Practice (Hanlon and Pickett, Times Mirror/Mosby College Publishing) dan Basic Health Planning (Spiegel and Hyman, Aspen Publishers).

Metode ini memiliki tiga tujuan utama:

* Memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksplisit yang harus diperhatikan dalam menentukan prioritas
* Untuk mengorganisasi faktor-faktor ke dalam kelompok yang memiliki bobot relatif satu sama lain
* Memungkinkan faktor-faktor agar dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan dinilai secara individual.

Formula Dasar Penilaian Prioritas


Berdasarkan tinjauan atas percobaan berulang yang dilakukan dalam mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan, pola kriteria yang konsisten menjadi kelihatan jelas. Pola tersebut tercermin pada komponen-komponen dalam sistem ini.

Komponen A = Ukuran/Besarnya masalah

Komponen B = Tingkat keseriusan masalah

Komponen C = Perkiraan efektivitas solusi

Komponen D = PEARL faktor ((propriety, economic feasibility, acceptability, resource availability, legality--Kepatutan, kelayakan ekonomi, dapat diterima, ketersediaan sumber daya, dan legalitas)

Semua komponen tersebut diterjemahkan ke dalam dua rumus yang merupakan nilai numerik yang memberikan prioritas utama kepada mereka penyakit / kondisi dengan skor tertinggi.

Nilai Dasar Prioritas/Basic Priority Rating (BPR)> BPR = (A + B) C / 3

Nilai Prioritas Keseluruhan/Basic Priority Rating (OPR)> OPR = [(A + B) C / 3] x D

Perbedaan dalam dua rumus akan menjadi semakin nyata ketika Komponen D (PEARL) dijelaskan.

Penting untuk mengenal dan menerima hal-hal tersebut, karena dengan berbagai proses seperti itu, akan terdapat sejumlah besar subyektivitas. Pilihan, definisi, dan bobot relatif yang ditetapkan pada komponen merupakan keputusan kelompok dan bersifat fleksibel. Lebih jauh lagi, nilai tersebut merupakan penetapan dari masing-masing individu pemberi nilai. Namun demikian, beberapa kontrol ilmiah dapat dicapai dengan menggunakan definisi istilah secara tepat, dan sesuai dengan data statistik dan akurat.

Komponen

Komponen A - Ukuran/Besarnya Masalah

Komponen ini adalah salah satu yang faktornya memiliki angka yang kecil. Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi yang secara langsung terkena dampak dari masalah tersebut, yakni insiden, prevalensi, atau tingkat kematian dan angka.

Ukuran/besarnya masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih dari satu cara. Baik keseluruhan populasi penduduk maupun populasi yang berpotensi/berisiko dapat menjadi pertimbangan. Selain itu, penyakit –penyakit dengan faktor risiko pada umumnya, yang mengarah pada solusi bersama/yang sama dapat dipertimbangkan secara bersama-sama. Misalnya, jika kanker yang berhubungan dengan tembakau dijadikan pertimbangan, maka kanker paru-paru, kerongkongan, dan kanker mulut dapat dianggap sebagai satu. Jika akan dibuat lebih banyak penyakit yang juga dipertimbangkan, penyakit cardiovascular mungkin juga dapat dipertimbangkan. Nilai maksimal dari komponen ini adalah 10. Keputusan untuk menentukan berapa ukuran/besarnya masalah biasanya merupakan konsensus kelompok.

Komponen B – Tingkat Keseriusan Masalah

Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin dan menentukan tingkat keseriusan dari masalah. Sekalipun demikian, angka dari faktor yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas. Kelompok harus berhati-hati untuk tidak membawa masalah ukuran atau dapat dicegahnya suatu masalah ke dalam diskusi, karena kedua hal tersebut sesuai untuk dipersamakan di tempat yang lain.

Maksimum skor pada komponen ini adalah 20. Faktor-faktor harus dipertimbangkan bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati. Dengan menggunakan nomor ini (20), keseriusan dianggap dua kali lebih pentingnya dengan ukuran/besarnya masalah.

Faktor yang dapat digunakan adalah:

* Urgensi: sifat alami dari kedaruratan masalah; tren insidensi, tingkat kematian, atau faktor risiko; kepentingan relatif terhadap masayarakat; akses terkini kepada pelayanan yang diperlukan.
* Tingkat keparahan: tingkat daya tahan hidup, rata-rata usia kematian, kecacatan/disabilitas, angka kematian prematur relatif.
* Kerugian ekonomi: untuk masyarakat (kota / daerah / Negara), dan untuk masing-masing individu.

Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Sebagai contoh, bila menggunakan empat faktor, bobot yang mungkin adalah 0-5 atau kombinasi manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20. Menentukan apa yang akan dipertimbangkan sebagai minimum dan maksimum dalam setiap faktor biasanya akan menjadi sangat membantu. Hal ini akan membantu untuk menentukan batas-batas untuk menjaga beberapa perspektif dalam menetapkan sebuah nilai numerik. Salah satu cara untuk mempertimbangkan hal ini adalah dengan menggunakannya sebagai skala seperti:

0 = tidak ada
1 = beberapa
2 = lebih (lebih parah, lebih gawat, lebih banyak, dll)
3 = paling

Misalnya, jika kematian prematur sedang digunakan untuk menentukan keparahan, kemudian kematian bayi mungkin akan menjadi 5 dan gonorea akan menjadi 0.

Komponen C - Efektivitas dari Intervensi

Komponen ini harus dianggap sebagai "Seberapa baikkan masalah ini dapat diselesaikan?" Faktor tersebut mendapatkan skor dengan angka dari 0 - 10. Komponen ini mungkin merupakan komponen formula yang paling subyektif. Terdapat sejumlah besar data yang tersedia dari penelitian-penelitian yang mendokumentasikan sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama ini.

Efektivitas penilaian, yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilan yang diketahui dari literatur, dikalikan dengan persen dari target populasi yang diharapkan dapat tercapai.

Contoh: Berhenti Merokok

Target populasi 45.000 perokok

Total yang mencoba untuk berhenti 13.500

Efektivitas penghentian merokok 32% atau 0,32

Target populasi x efektivitas 0,30 x 0,32 = 0,096 atau 0,1 atau 1

Contoh: Imunisasi

Target populasi 200.000

Jumlah yang terimunisasi yang diharapkan 193.000

Persen dari total 97% atau 0,97

Efektivitas 94% atau 0,94

Populasi yang tercapai x efektivitas 0,97 x 0,94 = 0,91 atau 9,1

Sebuah keuntungan dengan mempertimbangkan populasi target dan jumlah yang diharapkan adalah akan didapatkannya perhitungan yang realistis mengenai sumber daya yang dibutuhkan dan kemampuan yang diharapkan untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan.

Komponen D - PEARL

PEARL yang merupakan kelompok faktor itu, walaupun tidak secara langsung berkaitan dengan masalah kesehatan, memiliki pengaruh yang tinggi dalam menentukan apakah suatu masalah dapat diatasi.

P – Propierity/Kewajaran. Apakah masalah tersebut berada pada lingkup keseluruhan misi kita?

E – Economic Feasibility/Kelayakan Ekonomis. Apakah dengan menangani masalah tersebut akan bermakna dan memberi arti secara ekonomis? Apakah ada konsekuensi ekonomi jika masalah tersebut tidak diatasi?

A – Acceptability. Apakah dapat diterima oleh masyarakat dan / atau target populasi?

R – Resources/Sumber Daya. Apakah tersedia sumber daya untuk mengatasi masalah?

L – Legalitas. Apakah hukum yang ada sekarang memungkinkan masalah untuk diatasi?

Masing-masing faktor kualifikasi dipertimbangkan, dan angka untuk setiap faktor PEARL adalah 1 jika jawabannya adalah "ya" dan 0 jika jawabannya adalah "tidak." Bila penilaian skor telah lengkap/selesai, semua angka-angka dikalikan untuk mendapatkan jawaban akhir terbaik. Karena bersama-sama, faktor-faktor ini merupakan suatu produk dan bukan merupakan jumlah. Singkatnya, jika salah satu dari lima faktor yang "tidak", maka D akan sama dengan 0. Karena D adalah pengali akhir dalam rumus , maka jika D = 0, masalah kesehatan tidak akan diatasi dibenahi dalam OPR, terlepas dari seberapa tingginya peringkat masalah di BPR. Sekalipun demikian, bagian dari upaya perencanaan total mungkin termasuk melakukan langkah-langkah lanjut yang diperlukan untuk mengatasi PEARL secara positif di masa mendatang. Misalnya, jika intervensi tersebut hanya tidak dapat diterima penduduk, dapat diambil langkah-langkah bertahap untuk mendidik masyarakat mengenai manfaat potensial dari intervensi, sehingga dapat dipertimbangkan di masa mendatang.

Basic Priority System last revised April 19, 2004 (epowell)

06 Januari 2009

Mengapa Belajar Epidemiologi? Karena Malu dan Sedih!

Sambil menunggu di fotokopian, saya berdiskusi dengan seorang teman tentang alasan mengapa kami merasa tergoda untuk memilih dan merasa harus belajar epidemiologi. Ternyata, jawabannya hanyalah dilandasi oleh dua perasaan, yaitu rasa malu dan rasa sedih.

Pertama, rasa MALU. Alkisah, ketika zaman koas dahulu, ada rombongan dari Belanda yang hendak melakukan penelitian di Purworejo. Si mahasiswa kedokteran tersebut bercerita tentang ketertegunannya karena sebelum ia ke Indonesia ia harus makan pil malaria, mendapatkan vaksin hepatitis, dan serta mendapatkan warning akan TB yang angkanya masih tinggi di negara kita serta peringatan bahwa musim DHF sebentar lagi. Dia bahkan kaget bukan main ketika diberitahu jumlah korban DHF yang telah mencapai angka 300 dan bahwa DIY adalah daerah endemis. Dia juga menunjukkan ekspresi takut ketika digoda bahwa koas Indonesia disebelahnya. Ya Allah, rupanya bagaimana penularan DHF dia juga tidak tahu hehehe. Maklumlah, penyakit infeksi seperti DHF itu tergolong purba dan langka di negara-negara maju. Aduh, betapa malunya mendengar kenyataan tentang parahnya kondisi Indonesia.

Beberapa hari lalu saya juga melihat di metro TV sebuah liputan yang dimuat di TV terkenal amerika, yaitu tentang fenomena gizi buruk di negara kita, khususnya di NTT . Betapa malunya menyaksikan itu semua, padahal negara kita merupakan daerah lumbung yang memiliki persediaan yang cukup. Ternyata dikatakan bahwa salah satu biang keroknya adalah masalah koordinasi yang buruk. Duh malunya...

Alasan kedua, adalah SEDIH. Siapa yang tidak sedih melihat pasien-pasien yang sudah berada pada kondisi terminal, seperti stroke, kanker, dll dimana tak banyak lagi yang nampaknya bisa kita lakukan. Mereka saya temui tidak hanya di setting klinis, tapi juga di lingkungan lain seperti tetangga, paman-paman dan bibi saya, teman kerja, dan lain-lain. Siapa yang tidak sedih melihat bayi berkulit putih yang baru saja lahir dan tidak bernyawa, hanya karena Antenatal care yang tidak benar? Siapa yang tidak sedih menyaksikan seorang teman berusia 30 tahun harus meninggal dunia karena stroke dan meninggalkan 4 orang anak yang masih kecil? Saya juga menyesalkan kematian muda Bpk Yasri Sulaiman, seorang tokoh di primagama group dan trainer hebat, kemudian Mansour Fakih yang pelatihan dan buku-bukunya saya kagumi, pun dosen UGM yang meninggal di usia produktif.

Akan lain ceritanya bila ada sistem kesehatan dan kesadaran masyarakat yang baik, yang bisa mendeteksi gangguan/masalah kesehatan sedini mungkin. Akan lain juga ceritanya apabila setiap orang mengenali faktor risiko dan melakukan serangkaian langkah pencegahan. Para SDM di bidang kesehatan juga bisa bekerja keras melakukan serangkaian langkah untuk mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan tersebut.

Bahwa setiap orang akan mati/menemui ajalnya, itu memang pasti dan merupakan takdir dari Allah. Menurut Siswant o Agus Wilopo, yang menjadi masalah adalah jika kematian itu terjadi secar prematur oleh hal-hal yang sebenarnya kita bisa berusaha untuk mencegahnya. Misalkan kematian bayi yang merupakan kematian prematur, atau kematian mereka yang masih produktif sepeti yang saya ceritakan di atas. Prof Gufron, dekan FK UGM dan direktur Gadjah Mada Medical Center, menyebutnya sebagai mencegah kematian-kematian yang tidak perlu.

Setelah saya pikir-pikir, alasan malu dan sedih ini ternyata bisa juga kita gunakan untuk belajar bidang-bidang yang lain. Karena ternyata di Indonesia ini masih banyak fakta-fakta yang memalukan dan menyedihkan sehingga meminta kita untuk terus belajar. Misalkan, kita yang belajar tentang pembiayaan dan jaminan kesehatan, juga bisa dilatarbelakangi oleh rasa sedih karena banyak orang sakit atau meninggal hanya karena mereka miskin, tidak bisa mendapatkan pengobatan yang tepat karena miskin, atau mereka yang tidak miskin namun mudah menjadi miskin ketika sakit karena biaya kesehatan mahal (SADIKIN=sakit sedikit miskin hehehe). Akan lain ceritanya bila kita memiliki sistem jaminan kesehatan yang bagus.

Oke. Mari Belajar! Agar Indonesia ini tak lagi memalukan dan menyedihkan!

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP