14 April 2009

Surveilans Kesehatan Masyarakat: Apa saja yang Perlu Dievaluasi?

Saat ini saya tengah melakukan kegiatan penelitian lapangan berupa evaluasi sistem surveilans HIV AIDS sebagai penyakit yang merupakan high priority health problem di Bantul. Oleh karena itu, ketika anak saya sedang disuapi di depan rumah, selama 10 menit saya bersembunyi di kamar untuk membaca cepat buku Principle and Practice of Public Health Surveillance terbitan Oxford University Press, khususnya pada bab Consideration in Planning a Surveillance System dan Evaluating Public Health Surveillance. Peta-peta saya tentang keduanya saya post secara berurutan disini. Here is my map:



Outline form:
MENGEVALUASI SURVEILANS KESEHATAN MASYARAKAT
I. Tujuan?
A. Umpan balik operasi sistem
B. Efektivitas Sumber Daya
C. Utilitas dan efisiensi sistem
D. Sudah mencapai tujuankah?
II. Langkah
A. Pernyataan eksplisit tujuan
B. Deskripsi pelaksanaan
C. Dokumentasi kebergunaan sistem
D. Penilaian atribut
E. Estimasi biaya sistem
III. Aspek
A. Pentingkah?
1. Faktor/ Ukuran
a) Morbiditas
(1) total kasus
(2) insidensi
(3) prevalensi
(4) lama perawatan
(5) jumlah kunjungan ke dokter
b) Keparahan penyakit
(1) angka kematian
(2) CFR
c) Kematian prematur
(1) YPLL
d) Kemampuan untuk dicegah
(1) Primer
(2) Sekunder
(3) Tersier
e) Faktor lain-lain
(1) Tekanan politik & publik
(2) Potensi muncul kembali
(3) dll
B. Tujuan dan Kegunaan?
1. Deteksi Trend
2. Deteksi KLB
3. Perkiraan besarnya masalah
4. Stimulasi penelitian epidemiologis
5. Identifikasi kelompok risti
6. Identifikasi faktor risiko
7. Penilaian efek pengendalian
8. Meningkatkan praktek klinis
C. Pelaksanaan sistem
1. tenaga dan organisasi
2. alur informasi
3. perangkat
a) pengumpulan data
b) analisis
c) diseminasi
4. Mekanisme transfer informasi
5. Frekuensi pelaporan dan umpan balik
6. Pengendalian mutu
D. Atribut sistem
1. Simplicity / Kesederhanaan
2. Fleksibilitas
3. Acceptibility/tingkat penerimaan
a) indikator
(1) tingkat partisipasi subyek/agency
(2) kelengkapan form laporan
(3) tingkat pelaporan PPK
(a) dokter
(b) RS
(c) lab
(d) yankes lain-lain
(4) ketepatan waktu
4. Sensitivitas
a) two level
(1) kelengkapan pelaporan kasus
(2) kemampuan mendeteksi KLB
5. Predictive Value Positive (PVP)
6. Representativeness/Keterwakilan
a) Faktor
(1) karakter populasi
(2) riwayat alamiah penyakit
(3) Sumber data majemuk
7. Ketepatan Waktu
a) Pertimbangkan
(1) Waktu onset
(2) Waktu diagnosis
(3) Waktu penerimaan laporan kasus
(4) Waktu pelaksanaan kegiatan pengendalian
E. Biaya
Cost effectiveness

13 April 2009

Surveilans Kesehatan Masyarakat: Hal-hal Penting Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Perencanaan

Saat ini saya tengah melakukan kegiatan penelitian lapangan berupa evaluasi sistem surveilans HIV AIDS sebagai penyakit yang merupakan high priority health problem di Bantul. Oleh karena itu, ketika anak saya sedang disuapi di depan rumah, selama 10 menit saya bersembunyi di kamar untuk membaca cepat buku Principle and Practice of Public Health Surveillance terbitan Oxford University Press, khususnya pada bab Consideration in Planning a Surveillance System dan Evaluating Public Health Surveillance. Peta-peta saya tentang keduanya saya post secara berurutan disini. Here is my map:
Outline form:

PERTIMBANGAN DALAM PERENCANAAN SISTEM SURVEILANS

II. Tujuan?

= What do we want to know?

A. Mengestimasi besarnya masalah

B. Memahami Perjalanan Alamiah Penyakit

C. Mendeteksi KLB

D. Mendokumentasikan distribusi kejadian/masalah kesehatan

E. Menguji hipotesis tentang penyebab

F. Mengevaluasi strategi pengendalian

G. Memonitor Perubahan agen infeksi

H. Memonitor Kegiatan isolasi

I. Mendeteksi perubahan dalam Praktek kesehatan

J. Menilai Mutu Pelayanan Kesehatan

K. Menilai keamanan obat dan prosedur

L. Identifikasi kebutuhan riset

M. Memfasilitasi Perencanaan

III. Outcome/ Kriteria Identifikasi

A. Frekuensi

1. insidensi

2. Prevalensi

3. Mortalitas

B. Keparahan

1. CFR

2. Tingkat Hospitalisasi

3. Tingkat Disabilitas

4. Years of potential life lost

5. QALY lost

C. Biaya

1. langsung

2. tidak langsung

D. Kemampuan untuk dicegah

E. Communicability

F. Kepentingan Publik

IV. Metode

A. Definisi Kasus

B. Pengumpulan Data

C. Standardisasi

D. Sistem

1. Aktif

2. Pasif

3. Terbatas

E. Pengujian Lapangan

F. Analisis Data

G. Interpretasi dan Penyebaran informasi

H. Evaluasi

V. Penglibatan Pihak yang Berkepentingan

A.

1. Organisasi

2. Individu

B. Penyedia Pelayanan Kesehatan

1. klinisi

2. rumah sakit

3. laboratorium

C. pihak lain-lain (tergantung masalah kesehatannya)

Estimasi Proporsi atau Prevalensi

Kita melakukan estimasi proporsi atau prevalensi untuk mengkuantifikasikan dampak sebuah penyakit terhadap kesehatan masyarakat, atau untuk mengkaji variasi distribusi frekuensi menurut daerah geografis, sehingga kita dapat menemukan penyebab-penyebab yang potensial. Peta pikiran di bawah ini saya rangkumkan dari kuliah Drs. Zulaela, Dipl, M. Stat, M.Si, dan dari membaca buku Statistical Estimation of Epidemiological Risk karya ahli biostatistika USA, Kung-Jong Lui.

Misalkan kita memiliki 500 sampel (n), dimana proporsi yang merokok adalah sebesar 40% (p atau π), maka proporsi sesungguhnya di populasi (∏) adalah pada interval (confidence interval) yang batas bawah dan batas atasnya dihitung dengan rumus:

Batas bawah : B = p - Z½α √[(p(1-p)/n]

Batas atas : A = p + Z½α √[(p(1-p)/n]

Confidence interval ini adalah rentang kepercayaan dalam melakukan estimasi. Ibaratnya saya sedang menebak umur Anda, saya bisa mengatakan antara 35-40 th. Namun, bisa juga saya mengatakan antara 5-90 tahun. Mana yang lebih berkemungkinan benar?:-).

Sedangkan, jika W adalah rentang antara A & B maka:


W2 = 4 x (Z½α)2 x p (1-p)/n

Sehingga, dengan menetapkan interval yang kita kehendaki, kita bisa menetapkan besar n sampel yang kita butuhkan. Lihat juga cabang peta pikiran di bawah (tentang n). Oke, here is my maps:


Outline form:

EESTIMASI PROPORSI ATAU PREVALENSI

I. Statistika

A. pengumpulan

B. peringkasan

C. penyajian

D. analisis data

E. pengambilan keputusan

1. estimasi

2. uji hipotesis

II. Tujuan

A. mengkuantifikasi dampak dari sebauh penyakit terhadap kesehatan masyarakat

B. Mengkaji variasi distribusi penyakit pada daerah geografis untuk menetapkan penyebab-penyebab potensialnya

III. Estimasi Prevalensi

A. Binomial Sampling

1. pengambilan sampel acak dari n subyek dan mendapatkan sejumlah x kasus

2. contoh: mengambil sampel dr 1000 subyek dan mendapatkan 5 orang positif dalam uji antibodi HIV

B. Cluster Sampling

1. karena data lengkap sampling population mungkin tidak tersedia

2. unit analisis bukan individu tetapi cluster, misalnya rumah tangga

C. Inverse Sampling

1. untuk kasus yang jarang (bisa mendapatkan 0 dengan metode sampling biasa)

2. terus melakukan sampling subject sampai mendapatkan jumlah yang kita tetapkan

3. x adalah fixed, sedangkan total jumlah N-lah yang random

IV. Ukuran frekuensi Penyakit

A. Rasio

1. a/b

2. contoh: jumlah lahir mati/1000 kelahiran hidup

B. Proporsi

1. a/(a+b)

2. contoh: proporsi wanita >50 th yang mengalami histerektomi

C. Rate

1. a/[(a+b)(waktu)]

2. laju insidensi

a) proporsi antara jumlah orang yg menderita penyakit dan jumlah orang dlm resiko x lamanya ia dlm resiko

V. Kejadian Penyakit

A. insidensi

1. insidensi kumulatif

a) taksiran probabilitas (risiko, risk) seseorang untuk terkena penyakit dlm suatu jangka waktu

b) yaitu proporsi orang terkena penyakit diantara semua orang yang berisiko terkena penyakit tersebut

c) metode

(1) metode kumulatif sederhana

(2) metode aktuarial

(3) metode laju insidensi

2. laju insidensi

a) kecepatan kejadian(baru) pada populasi

b) yaitu proporsi antara jumlah penderita & jumlah orang dlm resiko kali lamanya ia dlm resiko.

c) metode

(1) metode pasti

(2) metode aktuaral

(3) metode kohort dinamik

B. prevalensi

1. pada satu saat atau satu periode waktu,

2. baik kasus baru maupun yang telah beberapa waktu lamanya berkembang sepanjang fase klinik (kasus baru & lama)

VI. Tentang menghitung n

A. makin tinggi tingkat keyakinan --> makin bagus penelitian --> n makin besar

B. p bisa dipinjem dengan penelitian sebelumnya/yang mirip

C. makin rendah interval (W), n makin besar

VII. Agar sampel representatif

A. Teknik pengambilan sampel benar

B. Memenuhi ukuran sampel minimal

09 April 2009

What Is Your Local Genius?

Think Globally, Act Locally! Tampaknya jargon tersebut sudah banyak kita kenal. Tapi untuk menerapkannya ke dalam institusi, benar-benar dibutuhkan upaya yang sistematis dan terkonsep dengan rapi. Dalam rangkaian Rakorja dan sebagai tindak lanjut lokakarya Local Genius di tingkat universitas, hari ini saya dan teman-teman di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) bersama-sama mengikuti workshop untuk menggali gagasan mengenai hal apa yang sekiranya cocok untuk dijadikan local genius kami.

Memang tidaklah mudah dan perlu diskusi panjang, apalagi jika sampai diterjemahkan ke dalam kurikulum FK secara menyeluruh. Terlebih jika local genius kita maknai sebagai sesuatu yang benar-benar bersifat unik, me-lokal, dan bisa benar-benar menjadi nilai tambah bagi institusi yang bersangkutan. Mengenai local genius ini sudah banya dicontohkan oleh institusi lain. UGM tampaknya sudah lebih dahulu punya rancangan mengenai local genius ini. Sebuah fakultas kedokteran di Purwokerto mendeklarasikan dirinya sebagai pencetak Dokter Desa, berangkat dari kenyataan bahwa Indonesia masih terdiri atas sekian banyak desa yang sangat membutuhkan tenaga medis. Beberapa akademi seperti Akfis dan Amikom dalam pengamatan saya juga telah memiliki local genius yang ditunjukkan dengankomitmen untuk membekali mahasiswanya dengan nilai-nilai entrepeneurship.

Di luar negeri, local wisdom dalam bidang kesehatan juga bisa ditempelkan dan menjadi bagian dari kurikulum. Mahasiswa Korea yang pernah melakukan presentasi di kelas S2 saya, misalnya, menunjukkan bahwa di sana, Fakultas Kedokteran memiliki dua bagian yang berbeda. Yang satu merupakan kedokteran barat, sementara yang lainnya lagi menggunakan pendekatan ketimuran. Yang menarik adalah, berdasarkan penelitian, ternyata lulusan yang menggunakan pendekatan ketimuran, mampu menjadi penyembuh yang lebih holistik kepada pasien-pasiennya. Mungkin karena pengobatan timur juga menggunakan pendekatan yang lebih holistik dibandingkan kedokteran barat yang cenderung bersifat partialis. Pendekatan holistik itu pula yang digunakan dalam penyembuhan dengan Ayurveda di daerah India (saya baca di buku Quantum Healing karya Dheepak Chopra).

Namun demikian, kami diingatkan untuk tidak menjadi overclaim terhadap hal yang akan kita angkat sebagai local genius. Lha wong ketika mendengar prinsip Ing-Ing-Tut (ing ngarso sung tulodho dst) dari Ki Hajar Dewantoro saja, orang jerma juga merasa punya. Jadi kalau kita mengambil suatu wisdom/local wisdom untuk dijadikan local genius, itu bukan milik kita, melainkan milik bersama, yang kebetulan kita ambil sebagai local genius. Misalnya jika kita memutuskan mengambil nilai-nilai Islam, maka bukanlah milik UII, tapi milik umat Islam yang kita ambil sebagai local genius kita. Berkaitan dengan kedokteran Islam ini, kita juga diingatkan agar proses Islamisasi kita tidak terjebak pada arabisasi. Karena ada beberapa hal yang dianggap Barat merupakan bagian dari tradisi pengobatan islam, padahl itu merukpakan tradisi pengobatan arab yang bisa jadi justru telah dianjurkan untuk tidak dilaksanakan melalui hadist. Jadi batasan kita mengenai yang mana yang merupakan Islam dan bukan sekedar arab adalah jelas, yaitu Al Qur’an dan Hadits.

Berkaitan dengan local genius ini, FK UII sendiri sudah lama memberi penekanan pada kedokteran keluarga dan memberikan Islamic Perspective di setiap blok mata pelajaran. Jadi, akan selalu ada diskusi mengenai bagaimana Islam memandang hal ini, bagaimana Islam mengajarkan pencegahannya, dan lain-lain. Namun hal tersebut tidak secara eksplisit dinyatakan sebagai local genius. Dalam workshop ini muncul berbagai usulan, seperti untuk mencetak dokter yang bisa go international, mencetak penyuluh kesehatan yang islami, dan lain-lain, namun belum mengerucut kepada satu hal yang jelas dan terpilih. Jadi, masih akan ditindak lanjuti melalui beberapa workshop lanjutan. Oke, Semoga berhasil. (4 April 2009)

04 April 2009

Advocacy - Advokasi

Dalam isu-isu kesehatan masyarakat, seringkali kita harus melakukan advokasi sebagai bagian penting dalam strategi program. Peta pikiran berikut ini berbicara tentang advokasi. Intinya, advokasi merupakan proses untuk mempengaruhi pengambil kebijakan. Ia dapat menjadi bagian dari keseluruhan strategi program, karena untuk mencapai hasil yang kita inginkan kita memerlukan pendekatan yang lebih luas, dan menyasar kepada penyebab majemuk. Padahal, beberapa masalah (seperti kehutanan, kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, kemiskinan, respon bencana, konflik etik, dll) memiliki entry point yang banyak, termasuk adanya penyebab-penyebab yang membutuhkan higher level decision making.

Dalam peta juga dapat kita lihat bahwa salah satu kegunaan advokasi adalah untuk meningkatkan kehidupan dari sejumlah signifikan manusia. Cobalah lihat kasus Ponari, dukun cilik “batu celup” yang memiliki ribuan pasien. Menteri Agama kemudian mengeluarkan pernyataan untuk menghentikan praktek Ponari. Kasus ini memang menjadi cermin dari adanya ketidakberesan di dunia keberagamaan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan (mengapa masyarakat memilih bentuk pelayanan yang lain). Namun, tepatkah yang dilakukan oleh menteri agama? Siapa yang seharusnya diadvokasi? Tampaknya lebih tepat kalau dilakukan advokasi kepada menteri kesehatan.

Dalam peta di bawah, dapat kita lihat juga bahwa selain membangun kredibilitas kita dimata pengambil kebijakan maupun masyarakat, kita juga perlu untuk membangun jaringan dan kemitraan dengan berbagai pihak. Dalam hal ini, seperti yang pernah kami lakukan, kita bisa memanfaatkan dan bekerja sama dengan teman-teman LSM (yang mungkin lebih berani dan mampu “bersuara” lebih lantang). Atau dalam sebuah advokasi untuk regulasi anti rokok, data-data diberikan kepada salah seorang anggota DPR yang telah bersikap pro dengan gagasan yang diangkat, untuk selanjutnya ia sendiri yang mempresentasikannya di depan teman-temannya di DPR.

Lalu, dalam hubungannya dengan perkembangan teknologi dan informasi, bisakah advokasi dilakukan secara non tatap muka langsung? Teknologi boleh berkembang, tapi untuk mencapai hasil lebih untuk sesuatu yang kita inginkan, saat ini tampaknya kita masih membutuhkan adanya human touch meskipun sarana informasi dan komunikasi yang lain tetap dibutuhkan sebagai pendukung. Terkadang, proses advokasi juga didahului dengan adanya lobby terlebih dahulu. Tak heran, kini bahkan ada orang-orang yang berprofesi khusus sebagai lobbyist. Meskipun kadang istilah lobbying ini bisa berkonotasi negatif selain berkonotasi positif. Oke here is the mind map:

Outline format:

ADVOKASI

A. Apakah itu?

1. Proses mempengaruhi pembuat keputusan kebijakan

2. Alat untuk meyakinkan pembuat kebijakan untuk memenuhi tanggung jawab kemanusiaannya kepada orang lain

B. Kegunaan

1. Meningkatkan kehidupan sejumlah signifikan manusia

2. Mentarget pengambil dan pelaksana kebijakan pada level di atas rumah tangga

3. Berakar pada pengalaman lapangan dan nilai-nilai inti

C. Strategi pelengkap dari upaya:

1. Memperkuat kapasitas untuk self help

2. Menyampaikan bantuan dalam kondisi darurat

3. Membicarakan diskriminasi dalam segala bentuknya

D. Mengapa advokasi?

1. Strategi Program

a) penyebab masalah bisa berasal dari keputusan pada tingkat:

(1) rumah tangga

(2) non rumah tangga

(a) struktur kepemimpinan masyarakat

(b) DPR/DPRD

(c) organisasi internasional

(d) lembaga lain yang memiliki kekuatan

b) Memperluas rentang/Mentarget penyebab majemuk/multiple entry point

(1) hasil lebih sukses

2. Memungkinkan untuk

a) Mempengaruhi pengambil kebijakan

(1) sebagai alat untuk menunjukkan penyebab yang berakar pada kebijakan

b) Berkontribusi lebih efektif mengurangi kematian dan penderitaan

(1) dengan menggunakan intervensi tertentu

c) Menjangkau segmen populasi yang luas dan memperluas jangkauan hasil kita

E. Perencanaan

1. Menganalisis kebijakan

a) Mengidentifikasi sebuah isu kebijakan

b) mengidentifikasi aktor2 dan lembaga2 kunci

c) Menganalisis lingkungan kebijakan

d) Merangkum keputusan2 kebijakan

e) mengidentifikasi pilihan untuk perubahan kebijakan

2. Menyusun strategi

a) Memilih sebuah isu kebijakan

b) Memilih target audience

c) menetapkan tujuan kebijakan

d) Mengidentifikasi "sekutu" dan lawan

3. Finalisasi strategi

a) Memilih peran

b) Mengidentifikasi pesan2 kunci

c) Menetapkan kegiatan2 advokasi

4. Menyusun Rencana

a) Waktu

b) Rencana Anggaran

c) Logframe

d) Rencana monitoring dan evaluasi

F. Landasan

1. Mencari Informasi politis dan kebijakan

a) menganalisis lembaga politis dan kebijakannya

(1) Apa yang kita ketahui tentang kebijakan pada sektor pada bidang kita?

(2) Siapa pembuat keputusan kunci? Dimana mereka bekerja?

b) Memahami lingkungan politis

(1) Apa yang menjadi penghubung dan penghalangnya

(2) Bagaimana pemimpinnya dipilih

(3) Siapa kelompok yang dihormati atau dihargai dalam politik

c) Memahami concern masyarakat

(1) Apa yang menjadi concern kebijakan kunci di masyarakat?

(2) Apakah ada tempat bagi mitra-mitranya (dalam advokasi)?

2. Menilai Risiko

a) Apakah kita mempertimbangkan tema tertentu?

b) Apakah kita akan dilihat sebagai partisan atau melakukan bias?

c) Apakah kita mengikuti tren politik?

d) Bagaimana kita akan mengidentifikasi risiko yang tidak dapat diterima?

e) Bagaimana kita akan menggunakan pengetahuan dari perancangan program yang lain untuk menginformasikan advokasi kita?

3. Membangun hubungan strategis

a) Dengan pengambil kebijakan

(1) Siapa pejabatnya?

(2) Dimana ia mencari nasihat?

b) Dengan organisasi lain

(1) Siapa yang melakukan advokasi dengan efektif?

(2) Siapa yang mungkin untuk menjadi mitra advokasi?

(3) Bagaimana kita bisa membangun hubungan?

4. Membangun kredibilitas sebagai advokator

a) thd pembuat kebijakan

(1) Membangun keahlian

(a) Apakah kita atau mitra bisa berbagi informasi yang berharga?

(b) Apakah kita diakui sebagai sumber informasi yang dipercaya?

b) thd masyarakat

(1) Membangun hubungan dengan masyarakat

(a) Apakah kita/mitra kita dilegitimasi untuk berbicara atas nama masyarakat

(b) Apakah kita merupakan orang yang paling efektif untuk berbicara, diantara orang-orang yang terlibat?

5. Mentautkan advokasi dengan prioritas pemerintah

a) membuat hubungan antara isu kebijakan dengan program organisasi lainnya

(1) Bagaimana kerja kebijakan kita berhubngan dengan program lainnya dan keahlian staf yang ada?

(2) Adakah dukungan internal untuk advokasi?

(3) Apakah ada staff yang bisa mengadvokasi secara efektif?

6. Mempertahankan fokus

a) menyusun daftar singkat prioritas kebijakan

(1) Prioritas manakah yang paling menjanjikan?

Metode Statistika: Bagaimana Memilih Uji Yang Tepat?


Outline format:

I. METODE STATISTIKA

A. Parametrik

1. Perbandingan 2 mean--independent data

a) Student t test

2. Perbandingan 2 Mean - dependent data

a) Paired t test

3. Perbedaan 2 proporsi

a) z test

4. Perbandingan 3 mean/lebih

a) Anava

5. Hubungan

a) Regresi dan Korelasi

B. Non Parametrik

1. Perbandingan 2 Mean - independent data

a) U Mann Whitney Test

b) Wilcoxon Rank Sum Test (WRST)

c) Wald Wolfowitz Run Test

d) Kolmogorov Smirnov Two Sample Test

2. Perbandingan 2 mean - dependent data

a) Wilcoxon Signed Rank test

b) Signed Test

3. Perbedaan 2 proporsi

a) X2 test

b) Fisher Exact Probability Test

c) Mc Nemar Test

4. Perbandingan 3 mean/lebih

a) Kruskal Walis Anava by rank

b) Friedman Test

5. Hubungan

a) Contingency Coefficient

b) Spearman Rank Correlation

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP