23 Agustus 2009

Mencegah Jerawat: Bagaimana Caranya?

Rubrik Syakwa (Konsultasi Kesehatan) Majalah Shaffatul Aisyiyah

Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Cairo Mesir


Pembaca says:

Dok, kenapa sih bisa timbul jerawat? Gimana cara mencegahnya?

dr. Maftuhah Nurbeti says:

Kebanyakan kita selalu berfikir tentang ‘benjolan/bintil di muka’ ketika ada yang menyebut kata jerawat. Padahal bintil-bintil atau bentol-bentol di muka ada macam-macam lho. Jerawat sih hanya masalah kosmetik saja, dalam arti tidak ada kelainan fisik yang berarti. Hanya, kadang masalah jerawat bisa mempengaruhi perasaan kita terhadap diri kita sendiri, yang bisa menyebabkan penurunan percaya diri atau bahkan depresi. Apalagi para remaja. Tapi sepertinya pembaca SA bukan remaja lagi, kan? hehehe


Nah
, semua jerawat ini berawal dari suatu lesi/jejas di kulit yang banyak dikenal sebagai komedo. Komedo sendiri sebenarnya merupakan saluran dari kelenjar minyak yang tertutup oleh minyak, sel-sel kulit yang sudah mati, maupun bakteri. Komedo yang tidak tampak oleh mata ini, dengan tenangnya menunggu di bawah permukaan kulit kita sampai ada kondisi tertentu yang mendukungnya untuk tumbuh menjadi jejas yang meradang. Oleh karena itu, kemudian kita mengenal ada komedo berkepala putih (tertutup kulit) atau yang berkepala hitam (kotor dan tidak tertutup kulit)


Faktor pendukung
komedo bisa macam-macam, misalnya asam lemak bebas yang oleh bakteri dibuat dari minyak kita, penurunan bagian minyak tertentu yang membuat fungsi pembatas kulit menjadi berkurang dan lebih berongga, peningkatan hormon seks, rusaknya kantong rambut kulit karena trauma misalnya ditekan-tekan secara berlebihan, cuci muka yang abrasif, peeling kimia, atau sekedar adanya minyak yang sulit kering yang ‘menyodok’ dinding kantong.

Komedo bisa juga diperparah oleh kondisi kulit yang overhidrasi (baca: basah. kadang ada yang sampai kilong-kilong. Awas dikira jualan minyak lho hehehe) misalnya menjelang mens, pemakaian pelembab, atau kondisi tropis. Bisa juga oleh karena adanya kontak dengan zat-zat tertentu yang terkandung dalam kosmetik.


Pengaruh make up
atau kosmetik tidak terlalu penting, karena sebagian besar kosmetika di pasaran biasanya bersifat non-komedogenik alias tidak akan menyumbat pori-pori kulit kita. Jadi, ketika membeli kosmetik, pastikan produk tersebut non-komedogenik, bebas minyak atau berbasis air, dan tidak membuat alergi. Namun demikian, Kosmetik yang paling baik sekalipun, kalau digunakan dalam aktivitas yang berat atau sibuk, misalnya saat olah raga, bisa saja jalan-jalan di kulit dan masuk ke dalam kulit. Jadi lebih baik tidak memakai kosmetik saat olah raga.


Paparan sinar matahari tidak akan membantu jerawat kita. Awalnya sejumlah kecil paparan sinar matahari dapat memperbaiki rupa dari jerawat. Noda jadi tidak kelihatan karena kuit menjadi lebih gelap. Sebaliknya, paparan sinar matahari yang lama akan mengakibatkan pori tersumbat karena pengelupasan sel kulit mati akan lebih cepat. Terlalu lama terpapar sinar matahari juga bisa mempergelap hiperpigmentasi (penggelapan warna kulit) setelah radang. Semakin lama terpapar sinar matahari, maka kemungkinan kulit menjadi rusak dan jerawat yang membekas akan semakin meningkat.


Jadi resep untuk mencegah komedo adalah:

1) mencuci muka secara benar (1-2 kali sehari),

2) menjaga diri dari produk kosmetik berminyak

3) berhati-hati dalam facial (kalau petugasnya terlalu antusias malah merusak),

4) menggunakan make up berbasis air,

5) jangan menopangkan dagu di tangan atau jangan menyentuh muka tanpa tujuan yang benar, (apalagi nguthek-uthek jerawat),

6) lindungi muka dari matahari (misalnya pake topi, payung, atau sunscreen),

7) jangan terlalu mengkhawatirkan diet (makan aja tuh coklat, kacang, dll yang tidak terbukti mempengaruhi jerawat. Kecuali kalau kita sendiri mencermati ada hubungan antara yang kita makan dengan semakin banyaknya jerawat),

8) menjaga diri dari yodium (meski masih kontroversial, tapi beberapa dokter mengatakan bahwa iodium, misalnya yang ada pada garam mendukung adanya jerawat)


Oke, semoga bermanfaat yaaa


Ambeien

Konsultasi Rubrik Syakwa Majalah Shaffatul Aisyiyah, Cairo edisi Februari 2009

Pembaca says

Assalamualaikum

Ibu dokter yang budiman, saya ingin bertanya mengenai hal ihwal penyakit ambein. Apa sebab-sebab dari penyakit ini, dan bagaimana cara-cara pengobatannya yang efektif. Mohon penjelasannya dengan gamblang, karena ternyata saya banyak menemukan beberapa teman yang mengalami sakit tersebut dan belum tahu dengan jelas tentang penyakit itu, sekian terima kasih.

Wassalam


dr. Beti says

Teman-teman di Cairo, sebenarnya ambeien itu merupakan adanya pelebaran pada bantalan pembuluh darah di lapisan kulit dalam di sekitar lubang anus. Ia bukan penyakit lho, melainkan perubahan yang bersifat fungsional, karena bantalan ini bertugas sebagai semacam klep atau katup yang menyokong otot-otot dubur dalam menahan tinja. Jadi tidak perlu malu, namun juga bukan berarti kita lantas mencuekin atau tidak menjadikannya penting.

Ambeien ini bisa di dalam (di bagian usus yang paling terakhir/ujung) atau ambeien luar (pada anus). Karena di dalam, ambeien jenis pertama tidak bisa kita lihat atau kita raba. Jadi mungkin kita hanya mengetahui dari adanya perdarahan saat buang air besar dan tidak terasa sakit, karena hanya sedikit syarafnya. Bila berkembang, ia bisa keluar sampai ke bibirnya si anus. Nah, inilah yang kadang membuat kita merasa sakit. Kalau sudah sembuh, si pinky ini bisa masuk sendiri ke dalam atau kita dorong masuk. Sementara itu, pada ambeien luar, bisa terjadi penggumpalan darah karena terdorong keluar oleh tinja, sehingga warnanya menjadi biru atau keunguan. Karena menyerang anus jadi terasa perih, nyeri, atau gatal.

Gejalanya bisa berupa keluarnya darah dari dubur, baik menetes maupun mengalir deras dan warnanya merah muda. Selain itu bisa juga terdapat sensasi rasa mengganjal setelah BAB, sehingga kesannya BAB belum berakhir dan seseorang akan lebih kuat mengejan. Sementara itu, rasa gatal kadang timbul karena bagian yang terasa nyeri di dubur sulit dibersihkan. Jadi, virus akan sangat mudah menyebabkan infeksi kulit yang memicu rasa gatal.


Ambeien ini bisa disebabkan karena peningkatan tekanan di dalam pembuluh darah akibat mengedan/mengejan atau perubahan dinamika darah pada kondisi kehamilan. Yang membuat mengejan melampaui normal ini misalnya antara lain makanan yang rendah serat, sembelit yang menahun, penyakit yang membuat sering mengejan seperti prostat, peneyempitan saluran kemih, atau sering melahirkan anak. Selain itu, bisa juga disebabkan oleh faktor keturunan, banyak duduk, diare yang menahun, penekanan kembali aliran darah balik pada penyakit tertentu, maupun peregangan yang berlebihan, misalnya pada hubungan seksual tidak lazim melalui anus.


Oleh karena itu, untuk mencegahnya berulangnya kekambuhan ambeien, kita bisa menghindari mengejan terlalu kuat saat BAB, mencegah sembelit dengan banyak mengonsumsi makanan kaya serat (sayur dan buah serta kacang-kacangan) serta banyak minum air putih minimal delapan gelas sehari untuk melancarkan BAB.

Jika niat BAB muncul, jangan menunda-nunda sampai tinjanya menjadi keras. Oh ya, kurangi juga konsumsi cabe dan makanan pedas, tidur yang cukup, jangan duduk terlalu lama, serta lakukan olah raga secara teratur.

Mengenai pengobatannya, bisa bersifat non operasi dan operasi. Masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian. Terapi sederhana dapat dilakukan dengan pencahar dan diet tinggi serat. Kalau tidak berhasil, kita bisa berusaha untuk memperoleh obat dari dokter atau terapi yang lebih lanjut dan kompleks, seperti misalnya skleroterapi (pengerasan dengan bahan kimia), ligasi (pengikatan gelang karet di pangkal ambeien), bedah beku, dan operasi hemorrhoidektomi (pemotongan ambeien).

Masalah Kesehatan Kabupaten Bantul


Laporan Proyek Lapangan "Analisis Masalah Kesehatan"
Field Epidemiology Training Program (FETP), Program Pasca sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, 2008. 
(Naskah lengkap dipublikasikan di Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat FK UII)


ANALISIS MASALAH KESEHATAN KABUPATEN BANTUL

Maftuhah Nurbeti[1], Syamsumin Kurnia Dewi[2],
Th. Baning Rahayujati[3], T. Bintarta Heru Santosa[4]

LATAR BELAKANG Tiga tahun pasca gempa, Kabupaten Bantul telah berhasil memperbaiki kembali kondisinya di berbagai sektor, termasuk sektor kesehatan. Sekalipun demikian, beberapa masalah kesehatan masih terus dihadapi dan harus diselesaikan. Padahal, sumber daya yang dimiliki terbatas. Oleh karena itu, perlu dilakukan prioritisasi masalah kesehatan.
TUJUAN Melakukan identifikasi, analisis dan penetapan prioritas masalah kesehatan yang penting untuk dilakukan guna memberikan rekomendasi mengenai kebijakan dan perencanaan program-program kesehatan yang efisien dan efektif, serta menunjukkan adanya kebutuhan-kebutuhan akan penelitian lebih lanjut.
METODE Analisis ini merupakan penelitian deskriptif observasional yang menganalisis data-data sekunder yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. Prioritas masalah kesehatan kemudian ditetapkan dengan menggunakan metode Hanlon.
HASIL Secara berurutan, 10 besar masalah kesehatan yang menjadi prioritas adalah Kematian Ibu,  HIV/AIDS, Kematian bayi, Tuberculosis, Diabetes Mellitus, Demam Berdarah Dengue, Hipertensi, Gizi buruk, Kematian Balita, Diare.
KESIMPULAN Kabupaten Bantul masih memiliki beban ganda. Di satu pihak, penyakit-penyakit menular masih memiliki angka yang cukup tinggi. Namun di pihak yang lain, penyakit degeneratif juga mulai meningkat.

Kata Kunci: Analisis Masalah Kesehatan, Kabupaten Bantul, Penetapan Prioritas


HEALTH SITUATION ANALYSIS IN BANTUL DISTRICT, YOGYAKARTA, INDONESIA

BACKGROUND Three years after great earthquake on May 2006, Bantul has succeeded to be recovered in many sectors, including health. However, Bantul still face many health problems that should be overcome in their limited resources. Therefore, health problems should be prioritized.
OBJECTIVE To identify, analyze, and set the priorities of health problems in order to give recommendations for eficient and effective health policies and program planning in Bantul, and to show the needs for further research.
METHODS This analysis is a descriptive observational research which analyzes secondary data from the Health Department of Bantul District. Health problem priority was set using Hanlon method.
RESULT In a series, the top ten priority health problem are maternal mortality, HIV/AIDS, infant mortality, tuberculosis, Diabetes Mellitus, Dengue Haemorhagic Fever, hypertension, malnutrition, mortality of children under five, and diarrhea.
SUMMARY  Bantul district still has double burden. In one side, infectious diseases are still in a high rate. On the other hand, the degenerative diseases also proceed to increase and reach a great number of sufferer.

Keywords: Health Situational Analysis, Bantul District, Priority Setting


[1] Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
[2] Dosen Negeri DPK pada Akademi Fisioterapi “YAB” Yogyakarta
[3] Dosen di Field Epidemiology Training Program (FETP) Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UGM
[4] Kepala Seksi Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul

20 Agustus 2009

Influenza Outbreaks: Bergerak dan Bertindak Lebih Dini

H1N1 saat ini benar-benar telah berkembang out of control—diluar kendali. Jika di awal-awal pemunculannya WHO terus mengupdate perkembangan jumlah kasus dan negara-negara yang terkena, maka saat ini H1N1 telah menyebar dengan begitu rupa dan demikian cepatnya ke banyak negara. Dua orang teman saya menyelidiki 8 cluster (khususnya pondok pesantren di Jawa Timur). Beberapa hari yang lalu saya juga terlibat sebagai co-investigator untuk menyelidiki banyaknya kasus di Gunungkidul, yaitu di Pondok Pesantren Al Hikmah, SD Karangrejek, dan SD Siraman. 70% sampel yang diperiksa positif H1N1.

Sayangnya, masyarakat sering dibuat panik oleh pemberitaan-pemberitaan beberapa media yang kadang kurang dicross chek kebenarannya. Misalnya kabar mengenai banyaknya siswa yang absen di sekolah-sekolah tertentu. Di kota yogyakarta, misalnya, setelah di cross check, ternyata di beberapa sekolah absennya siswa disebabkan karena adanya kegiatan-kegiatan sekolah yang melelahkan atau sakit biasa yang trennya dikatakan sama setiap tahunnya. Itulah bedanya wartawan dengan detektif, hot news getter dengan news getter.

Dalam hal ini, seharusnya institusi kesehatan lebih cepat tahu mengenai informasi-informasi yang penting. Seperti yang dikatakan pak John Sugiyanto (dosen ekonomi), dalam sebuah pertemuan dengan pak Khairul (KaDinkes Kota Yogyakarta), absensi seharusnya bisa menjadi bagian yang penting dalam sistem surveilans penyakit. Di luar negeri yang begitu care terhadap muridnya, jika ada murid yang tidak masuk akan ditelepon dan ditanyakan alasannya. Kini, ketika biaya telepon cukup murah dan hampir semua siswa memiliki setidaknya satu telepon dalam satu keluarga, mengapa hal yang sama tidak dilakukan?

Di sekolah-sekolah dahulu, ada jumlah SIA (sakit, ijin, absen) yang tercatat secara rutin, bahkan di papan tulis yang tergantung di dinding kelas. Tapi sekarang, dalam kunjungan ke sebuah sekolah swasta, untuk mendapat data absensi saja harus menunggu hingga setelah istirahat siang hari. Jika sekolah yang gedungnya bagus pun demikian, bagaimana dengan sekolah-sekolah yang kumis (kumuh dan miskin)? Alangkah baiknya jika di semua sekolah, absensi menjadi hal yang penting dan semua orang bisa mengetahui real time data mengenainya. Jadi, tugas guru UKS bukan hanya melakukan P3K pada saat ada kasus anak sakit, tapi juga ke day to day action.

Berjalannya sistem absensi bisa menjadi bagian penting dari sistem informasi untuk evidence based policy making. Dalam sebuah pertemuan regional, diketahui bahwa sistem informasi Indonesia (analisis, informasi, pertemuan rutin, dll) masih paling jelek. India bahkan telah memiliki disctrict health society.

Saat ini, saya bersama teman-teman FETP (Field Epidemiology Training Program) FK UGM dimintai bantuan untuk mengadakan penyelidikan H1N1 di Kota Yogyakarta. Meskipun belum ada deklarasi KLB, namun aksi kewaspadaan dini memang harus dilakukan. Selain akan menjadi dasar untuk respon cepat, juga untuk menyediakan informasi yang benar kepada masyarakat, agar tetap waspada namun tidak panik. Tujuan kami adalah untuk memetakan faktor risiko dan untuk mengetahui population at risk.

Kami memfokuskan diri pada dua hal spesifik. Pertama, menganalisis data-data surveilans yang telah dihasilkan oleh tenaga surveilans desa. Kota Yogyakarta merupakan satu-satnya Kabupaten/Kota yang memiliki surveilans hingga ke tingkat desa. Mereka memiliki buku tebal laporan yang mereka laporkan secara rutin ke dinas kesehatan tiap bulannya. Para tenaga surveilans kelurahan ini mendapatkan reward sebagai naban (tenaga bantuan) sejajar dengan PTT dan mendapat anggaran dari APBD. Tujuan surveilans kelurahan ini adalah agar bisa dilakukan respon cepat terhadap apapun yang terjadi. Saking sensitifnya, burung yang digigit kucing pun mereka laporkan :-) Saya belum tahu apakah data-data ini telah diolah dan dimanfaatkan dengan baik. Namun, jika melihat file yang diberikan pada saya, tampaknya belum sesuai dengan maksud pembuatan kuesioner, data tidak memunculkan adanya riwayat kontak, dan banyak data-data yang salah, misalnya ketidak sesuaian antara tanggal sakit dan tanggal munculnya gejala. Mungkin karena tenaga surveilans kelurahan ini datang dari berbagai latar belakang pendidikan. Dalam analisis H1N1, saya juga akan dapat menghadapi kesulitan mengenai penderita positip yang tidak menunjukkan gejala serta inkubasi yang cepat hanya 1 hari. Harapan dari analisis data ini adalah agar kami dapat menemukan determinan spesifik untuk tiap kelurahan, termasuk misalnya faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan, dll.

Kedua, kami akan melakukan penyelidikan di sekolah-sekolah, khususnya SMU/SMK, terutama yang berpeluang memiliki kontak dengan luar negeri. Kami akan melakukan review absensi dan mewawancarai anak-anak yang pernah tidak masuk. Untuk tingkat yang di bawah (SD dan SMP) kami akan memberdayakan tenaga surveilans kelurahan untuk memperkaya datanya.

Semoga, pertemuan hari ini dengan kepala-kepala puskesmas dapat berjalan baik dan membuahkan aksi yang tepat dan cepat untuk menghentikan penyebaran dari H1N1 di kota yogyakarta. Tidak perlu menunggu hingga terjadi KLB. Lebih cepat lebih baik. Good luck..***

NB:

  • Jika ada building inspector, maka dalam dunia kesehatan juga seharusnya ada health inspector Yang sama ditakutinya dengan polisi, sehingga kasus-kasus pelaggaran di bidan kesehatan seperti formalin, obat palsu, dll tidak akan ada. Sejauh mana undang-undang kesehatan kita telah berfungsi

  • Hari ini mendapat informasi menarik dari KaDinkes Kota Yogyakarta bahwa ia mendapat kuesioner dari BPS untuk penelitian mengenai dampak krisis global terhadap kesehatan. Pertanyaan mereka adalah dari bulan Mei sampai juli, berapa data hepatitis, vaksinasi, gizi buruk, dll. Terlepas dari baik atau buruknya data yang diberikan, apakah memang kemudian bisa disimpulkan bahwa itu berhubungan/merupakan dampak krisis global? Akan sangat bahaya jika disimpulkan demikian. Semacam kekenesan ilmiah. Ada juga penelitian lain dari lembaga donor asing yang menunjukkan bahwa meneliti yang bukan sesuai dengan bidangnya akan menjadikan hasil penelitian menjadi kurang sempurna.

    Mungkin penelitian BPS di atas analog dengan penelitian mahasiswa yang menemukan adanya hubungan antara kanker serviks dengan pemakaian celana dalam warna pink:-) Mungkin ada kemaknaan statistik, namun adakah kemaknaan secara biologis (biological plausibility), kemasukakalan?

17 Agustus 2009

Pusing, Vertigo, Sakit kepala, dan Migraine

Rubrik Syakwa (Konsultasi Kesehatan) Majalah Shaffatul Aisyiyah


Pembaca says

Assalamualaikum

Ibu dokter yang baik hati, saya lagi pusing nih...kenapa ya saya sering sekali kena sakit kepala, apalagi musim panas ini sering sekali merasa pusing, tapi saya nggak tahu apa penyebab pusing itu, saya juga ingin tahu apa bedanya migren, vertigo dan sakit kepala biasa?

Wassalamualaikum

dr. Beti says

Apa kabar pembaca? Pertanyaan yang tepat, karena pusing dan terutama sakit kepala merupakan keluhan yang paling sering dikemukakan pasien, dalam gambaran yang bermacam-macam mulai dari perasaan dunia berputar, pening, dan puyeng (untuk pusing), senut-senut, cekot-cekot, perasaan kenceng, seperti diikat, seperti ditindih batu besar, seperti kedudukan gajah hehehe, dll. Penyebabnya pun sangat beragam. Tidak punya uang juga bisa membuat jadi pusing kan:P.


Oleh karena itu, karena sering dianggap sinonim dalam istilah awam, kita perlu membatasi dan membedakan istilah pusing dan sakit kepala. Lukisan pusing/pening adalah berupa perasaan badan melayang, sempoyongan atau bergoyang-goyang seperti mabuk arak atau mabuk laut. Sedangkan, perasaan bahwa tubuh kita berputar atau benda-benda di sekitar yang berputar/memutari tubuh kita adalah gambaran dari vertigo. Sementara itu, sakit kepala merupakan respon nyeri dari perangsangan pada bangunan-bangunan di sekitar kepala-leher.


Perasaan pusing yang seperti berputar-putar mengarah pada adanya gangguan fungsi keseimbangan tubuh di telinga. Jika pusingnya seolah-olah kepala kosong dan badan lemah lunglai, serta cenderung jatuh (pingsan), maka gangguannya terletak pada sistem peredaraan darah. Mungkin orang yang pingsan saat upacara/panas termasuk pada kelompok ini, karena pembuluh darah di otak bereaksi terhadap cuaca panas. Jika pusingnya digambarkan seolah-olah melayang, enteng di kepala, atau gambaran yang samar, maka pusing jenis ini bisa disebabkan oleh karena gangguan pada sistem kejiwaan, seperti saat adanya kecemasan atau stress.


Yang dimaksud dalam pertanyaan di atas tampaknya lebih mengarah ke pengertian sakit kepala. Sakit kepala juga bisa disebabkan oleh banyak hal. Namun pada hakikatnya, para pengeluh sakit kepala dapat dibagi ke dalam 2 kelompok. Yang pertama, yang lebih banyak tanda-tanda organik/fisik tubuhnya, seperti pada migraine klasik, sakit kepala pada radang selaput otak, pada penyakit pembuluh darah otak, tumor otak, atau pada penyakit/gangguan umum seperti pada hipertensi, nyeri alih (misalnya saat waktu makan es krim atau sakit gigi) dan infeksi (waktu mau flu kadang kita sakit kepala juga kan?). Penyebab metabolik juga bisa menyebabkan sakit kepala jenis ini, misalnya pada kurangnya kadar gula darah (Kalau tidak sempat makan, saya juga pernah sakit kepala. Setelah makan sakit kepalanya hilang hehehe)


Kelompok pengeluh sakit kepala yang kedua lebih banyak bersifat psikis. Kepribadian dan perangai psikoneurotik adalah sifat yang dimiliki oleh kebanyakan penderita sakit kepala, yang bisa membuat meraka mudah dan sering menderita sakit kepala. Pola sikap hidup kepribadian ini agak kaku, sangat hati-hati dan mengejar kesempurnaan (perfeksionis). Perasaan kurang pada diri memberi kekuatan khusus yang menjadikan mereka lebih semangat bekerja keras sehingga sering lebih sempurna dan berhasil dibandingkan teman-temannya. Akibatnya, jika tekanan jiwa meningkat dan tenaga menurun, ambisinya tidak bisa terpenuhi sehingga timbul reaksi pada otot-otot kepala-leher-bahu dan pembuluh darah di kepala. Jenis sakit kepala biasanya bersifat berdenyut ditambah dengan nyeri otot pada bahu leher dan kepala. Sehingga jika kita termasuk golongan ini, mengatasinya harus dengan mengubah kepribadian tersebut.


Sakit kepala jenis ini bisa saja terjadi pada sesisi saja, sehingga orang menyebutnya dengan migraine. Padahal, tidak seperti dalam migraine yang sesungguhnya (migrain klasik), pada sakit kepala ini tidak terdapat gejala-gejala yang berhubungan dengan penyempitan pembuluh darah seperti kesemutan, perasaan silau, gangguan lapang pandang, dan lain-lain. Oleh karena itu, ia disebut sebagai sindroma migraine (gejala migraine) saja.


Oke, semoga sudah bisa menjawab pertanyaannya yaa...

AddThis

Share |

  © Free Blogger Templates 'Greenery' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP